Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15



"Could you do that?" tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku.

"Do...what?" Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup.

Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?"

Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati.

Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini!

Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.

 Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku?

Aku menunggu sembari harap-harap cemas.

"Okay," jawabnya enteng.

Aku terkesiap sebentar. "O...okay?"

Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku bernafas lega namun sesaat kemudian berkata,"Dengan satu syarat."

Kutatap Faheem dengan perasaan was-was kembali. Manusia ini suka sekali membuat diriku seperti naik roller coaster, naik turun tidak selesai-sealesai.

"Kita lakuin dengan caraku," ujarnya pelan, namun memberi penekanan pada kata terakhir.

"Caramu?" Aku tergagap mendengarnya, dan semakin cemas saja.

Sepertinya ini akan jauh lebih sulit dari yang kubayangkan...

"Iya," jawabnya singkat.

Kali ini, baru terlihat senyum kemenangan sedikit terulas di bibirnya. Seketika aku merasa seperti ditipu. Sungguh, melihatnya seperti itu aku ingin menarik kembali apa yang aku baru saja katakan.

Namun yang kulakukan hanya menghela nafas. "Do you mind telling me how your way is?" Dengusku sedikit kesal.

Biar saja ia tahu kalau aku memang kesal.

"Nanti aku pikirkan sekalian aku print-"

"Print??" Aku hampir berteriak mendengar kata itu.

"Iya. Keberatan? Kalau iya, gak papa. Kita batalin aja-"

"Oke, oke!" Aku merasa makin kesal saja.

Faheem malah terlihat nyengir lebih lebar melihat aku menekuk-nekuk wajahku.

Ya Allah, aku benar-benar ingin menampar muka itu!

"Okay! Case closed. Aku akan kabarin kamu kalau kontraknya udah jadi. Nice working with you!"

Setelah berkata santai seperti itu, Faheem berjalan menuju pintu dan benar-benar meninggalkan aku yang masih menatapnya tak percaya, sendirian di rooftop.

Sesaat setelah pintu itu tertutup aku pun berteriak memuntahkan kekesalanku, "Faheem gilaa!" Jeritku sambil menghentakkan kakiku kesal, meniup poniku kasar.

Dua detik berikutnya tiba-tiba pintu itu terbuka kembali dengan dan Faheem muncul dari baliknya yang tentu saja membuatku gelagapan.

"Kamu baru aja ngatain aku gila, ya?" Tanyanya menatapku sedemikian rupa.

"Tauk, ah!" Aku bergegas menuju pintu lalu mendorongnya agar ia menyingkir sehingga aku dapat melewatinya.

Sungguh, aku tidak bisa membayangkan betapa merah mukaku saat ini....

***

Tring.

Sebuah pesan di WhatsApp muncul atas nama Faheem saat aku sedang membereskan mejaku menjelang pulang kantor. Kuraih ponselku malas-malasan kemudian membuka pesan itu dan membacanya.

[Cowok Gila]
Kutunggu di rooftop.

Aku memutuskan mengubah namanya seperti itu setelah ia memintaku menjadi tunangan pura-pura.

Sekarang siapa coba yang lebih gila? Aku atau dia?

Aku menghela nafas sambil memikirkan pasti ia sudah menyiapkan selembar kertas yang entah isinya apa yang harus kutanda tangani. Terbersit di benakku untuk membatalkan saja niatan kami berpura-pura tapi saat aku menatap ruang kaca yang berada di salah satu pojok ruangan membuatku enggan membatalkan rencana tersebut.

Beruntung Dion tidak ada di ruangan itu seharian, mungkin karena hari pertamanya jadi ia sibuk berkeliling kantor. Jika tidak, aku bisa semakin tertekan dengan situasi yang sedang terjadi. Aku pun segera bergegas keluar dan menuju tempat pertemuan yang sudah ditentukan.

Setelah membuka pintu yang menghubungkan gedung ini ke rooftop, aku disambut dengan langit sore dengan semburat oranye yang begitu indah. Seketika aku terpana akan pemandangan tersebut, melupakan masalahku barang sejenak. Sembari berjalan perlahan, kunikmati ciptaan Tuhan yang sungguh menakjubkan ini.

Kemudian, di sisi lain terlihat seseorang telah berdiri hampir mendekati ujung dari gedung ini. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya sambil melepas pandangnya ke arah jalan-jalan yang ada di bawah.

Entah apa yang sedang ia pikirkan.

Aku pun bergerak mendekati lelaki itu namun berusaha untuk tidak menimbulkan suara, tak ingin mengganggu kesendiriannya.

Tampaknya ia belum juga sadar bahwa aku sudah ada di sampingnya. Kubiarkan dirinya termenung sebentar lagi sembari memperhatikan profil lelaki itu itu dari samping.

Mengapa ia kelihatan....muram? Hatiku bertanya-tanya saat menemukan sekilas rasa itu di dalam matanya.

Tak berapa lama, Faheem sepertinya merasa aku memperhatikannya lalu menolehkan kepalanya ke arahku. Detik berikutnya, wajahnya sudah terlihat seperti biasanya membuatku takjub ia dapat berubah secepat itu.

"Kapan kamu datang?" Tanyanya sedikit bergumam.

Aku tak menjawab, masih penasaran mengapa ada sedih di matanya. Kupikir ia orang paling nggak serius dan kurang ajar di dunia ini...

"Ayo," ucapnya sambil menunjuk kotak-kotak kayu bekas yang terletak di dekat pintu, tertutupi oleh Kain dan sedikit terlindungi oleh tembok dari terpaan angin.

Kami pun berjalan menuju tempat yang ia maksud lalu duduk di atas kotak tersebut.

Faheem mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Dua lembar kertas yang sedikit kucel karena terlipat di letakkan di atas kotak di depan kami. Ditahannya kertas tersebut dengan ponselnya agar tidak terbang diterpa angin lalu mengeluarkan pulpen dan meletakkannya di samping kertas tersebut.

Dia benar-benar tidak membuang waktu....

"Tuh, baca," ucapnya sambil melihat padaku.

"Apa ini gak terlalu berlebihan?" Aku melipat tanganku ke dada sambil manyun.

"Just in case. Siapa tau kamu lupa," sahut Faheem santai.

Aku pun mendecak sebal lalu meraih salah satu kertas tersebut setelah melihat kalau keduanya isinya sama dan sedikit terkejut kalau isinya hampir penuh. Kuhela nafas sebentar berusaha konsentrasi dan berdo'a agar rasa ikhlasku membesar setelah membacanya.

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : 
Nama : Ameera Zoya Annaila 

Hmmm, sejak kapan ia tahu nama asliku?

Aku menatapnya sebentar ingin bertanya namun melihat wajahnya yang sedikit menyebalkan itu aku pun mengurungkan niat kembali melanjutkan membacaku.

No HP : 085730xxxxxx
Alamat : Jl. Lembayung Jaya 8A no 10A

Sedikit takjub diriku, mengetahui Faheem masih hafal alamatku hanya dengan sekali datang. Kuakui ingatannya cukup tajam juga. Aku saja harus berkali-kali menghafalkan baru tertancap di memoriku.

Yang selanjutnya akan disebut sebagai PIHAK PERTAMA.

This is so weird, batinku semakin deg-degan.

Dan saya : 
Nama : Faheem Bahri Darmawan
No HP : 085643xxxxxx
Alamat : Rosewood Blok AG no 23

Yang selanjutnya akan disebut PIHAK KEDUA

Sejak saat ini tanggal  .... Saling menyetujui untuk menjadi TUNANGAN PURA-PURA yang sebagimana telah disepakati bersama sebelumnya.

Melalui surat ini akan diatur beberapa poin sebagai berikut : 
1. PIHAK PERTAMA wajib memberi kabar dalam bentuk apapun (chat/telpon/sms/video call/dll) jika PIHAK KEDUA bertanya.
2. PIHAK PERTAMA wajib menginformasikan (pamit) pada PIHAK KEDUA jika hendak berpergian dengan siapapun, kemanapun.
3. PIHAK PERTAMA wajib ikut serta jika PIHAK KEDUA mengajak PIHAK PERTAMA ke suatu acara apapun, dimanapunkapanpun.
4. Peraturan lain yang selebihnya diatur kemudian.

Aku menatap sebentar bagian yang mengandung beberapa poin tersebut. Membacanya berulang-ulang agar apa yang kupahami memang tidak salah.

"Are you crazy?" Desisku dengan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun, memandang Faheem tajam.

Ia menggidikkan bahunya. "Kamu sendiri yang bilang aku gila-"

"Faheem! Aku seriuuus!" Rengekku.

"Aku juga serius," Ia benar-benar menatapku dengan muka datarnya membuatku sedikit terkesiap.

"Aku cuman minta kamu pura-pura jadi tunanganku DI.DE.PAN. DI.ON. Bukan minta jadi istri kamu!!"

"Itu cuman hal-hal kecil dan wajar yang dilakuin sama pasangan. Gak berlebihan, kok. Reaksimu aja yang berlebihan," tukasnya membela diri. "Atau waktu sama Dion kamu gak seperti itu?" 

Walaupun hal terakhir yang ia katakan memang benar adanya tapi entah mengapa itu sedikit membuatku tersinggung. Tahu apa dia soal hubunganku dengan Dion??

"Lagian, kenapa hanya PIHAK PERTAMA yang dikasih peraturan begitu? Kenapa kamu gak?" protesku lagi.

"Karena kamu pasti gak akan pernah mau ngelakuin itu semua sama aku secara sukarela kecuali dengan cara begini," ujarnya sambil memandangku meminta persetujuan bahwa apa yang dikatakannya adalah tepat.

Ya, memang tepat. Ngapain aku juga ngelakuin itu semua dengannya secara suka rela?!

"Emang kamu bakalan gitu juga ke aku? Secara sukarela?" tanyaku asal.

"Iya."

Aku langsung terdiam mendengar jawabannya yang cepat itu. Manusia ini mikir gak sih kalau jawab?

"Iya? Iya apa?" Sebenarnya aku paham, namun memastikan saja dia tidak salah jawab.

"Ya iyalah, aku bakalan seperti itu tanpa diminta."

Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam, memandang Faheem yang sedang memandangku. Lama-lama lelah bicara dengannya...

"Ya udah, ayo cepetan tanda tangan!" Suara Faheem mengagetkanku. "Udah malem, keburu gelap ntar. Suka serem tuh lorong kantor-"

"FAHEEEEEM!!" 

***

Faheem menawarkan diri untuk mengantarku pulang tapi langsung kutolak dengan cepat. Hari ini tenagaku sudah terkuras cukup banyak, baik oleh Faheem maupun Dion. Dan yang kuinginkan adalah istirahat.

Setelah sampai di rumah, aku segera mandi dan menunaikan sholat Maghrib lalu membaca Al-Qur'an sebentar yang kemudian tak berapa lama terdengar adzan Isya'. Aku pun mengembalikan kitab yang kupegang dan segera menunaikan sholatku.

Dan tiba-tiba aku merasa sangat lapar namun kemalasanku untuk mencari makan malam lebih mendominasiku. Kubereskan alat sholatku lalu menuju dapur.

Ternyata tak ada yang dapat kumakan di sana. Hari ini aku tidak memasak karena Rika juga masih menemani adiknya di rumah sakit. Dan untuk hanya sekedar mengolah bahan makanan yang ada di kulkaspun aku tak sanggup.

Aku melenguh lesu sembar berjalan menuju ruang tamu kecil kami lalu menghempaskan diriku ke sofa. Kupencet aplikasi pemesan makanan online dan mulai mencari sesuatu yang dapat aku makan namun tak kunjung menemukannya, semuanya kelihatan membosankan.

Tiba-tiba terbersit sebuah ide di benakku, yang membuatku penasaran apakah dapat dilaksanakan dengan sukses.

Segera jucari nama seseorang lalu mulai mengirimnya pesan mengatakan kalau aku lapar pakai banget.

Let's see if he keeps his promise..., batinku.

Aku pun menyalakan TV sembari menunggu balasan dari chatku.

Satu menit

Lima menit

Sepuluh

Hampir dua puluh menit tak ada tanda-tanda pesan masuk darinya membuatku mendadak kesal.

See? Baru berapa jam dari kami setuju dengan perjanjian itu dia sendiri yang sudah melanggarnya, dengusku dalam hati.

Aku pun bangkit berdiri lalu berjalan menuju gantungan yang ada di dekat pintu, meraih jaketku dengan sedikit perasaan kecewa dan memakainya. Rasa laparku sudah tak dapat kutahan lagi, akhirnya aku memutuskan untuk mencari makan dekat-dekat sini saja.

Saat aku sudah keluar rumah dan mengunci pintu kemudian berbalik ke pagar, aku cukup kaget saat mendapati seseorang berdiri di depan rumahku.

"Oh, baru aku mau ketuk," ucapnya tersenyum.

Kuperhatikan lelaki itu masih memakai pakaian yang sama saat ia di kantor tadi.

"Kamu...belum pulang?" Tanyaku penasaran.

Faheem menggeleng perlahan. "Tadi Pak Wisnu suruh revisi proposal kerja sama untuk perusahaan supplier dan harus dikirim hari ini."

"Oh," Itu saja reaksiku.

"Oh ya maaf, aku gak sempet bales chatmu dan tanya mau makan apa. Hapeku lowbat terus mati. Tadi pas kamu chat, pas aku lagi mau pesen di tempat makan langganan," Ia menjelaskan panjang lebar sembari mengangkat sebuah kresek berwarna putih yang tampaknya berisi banyak makanan.

Aku pun merasa bersalah saat itu juga karena telah berpikiran yang tidak-tidak.

"Seingetku sih kamu pernah pesen kwetiau goreng pas ketemu pertama kali. Jadi ya kubelikan itu. Ada yang lain juga, sih."

Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa.

"Ini aku boleh masuk atau nggak? Kalo nggak, at least kreseknya diambil dong!" Seru Faheem sambil menyodorkan kresek yang ada di tangannya.

Akupun tersadar dan bergegas membuka pagar. Ia menyerahkannya padaku lalu hendak beranjak pergi.

"Kamu mau kemana?" Tanyaku cepat-cepat.

Ia melihatku sebentar. "Pulang..."

"Kamu suruh aku makan sebanyak ini? Ini sih jatah satu kampung," ujarku hiperbolik. Tapi memang akan terlalu banyak untuk aku apalagi Aku hanya sendiri.

Faheem melihat ke arah bawaan yang baru saja ia berikan dan berpikir sebentar.

"Kamu udah makan?" Tanyaku lagi.

"Hmmm, belum," jawabnya pelan.

"Mau makan?"

Sungguh, aku terdengar seperti orang bodoh dengan pertanyaan itu. Untung Faheem membalasnya dengan mengangguk bukan cibiran.

Akupun kembali membuka pintu dan memberinya tanda untuk masuk. Berusaha untuk terlihat tenang padahal hati sudah mulai tak karuan.

Setelah sekian lama rumah ini hanya kedatangan tamu laki-laki kalau bukan kenalan Rika mungkin tetangga atau pengurus kampung sini.

Tamu lelaki untukku sepertinya tidak pernah. Miris sekali ya?

"Duduk dulu, ya. Aku ambil piring," kataku sembari meletakkan makanan tersebut ke atas meja kecil di ruang tamu.

Setelah melepas jaketku Dan menggantungnya kembali, aku segera berjalan menuju dapur kecil di belakang. Aku sempat melihat sekilas tatapan Faheem sedemikian rupa ke arahku namun kuacuhkan

Sembari mengambil peralatan makan, kuperhatikan pakaian yang menempel di tubuhku. Piyama  berwarna abu-abu dengan gambar yang terlalu lucu untuk ukuran seseorang dengan umur seperti diriku.

Hmm, pantas saja Faheem melihatku seperti itu.

Ingin hati mengganti baju namun nanti lelaki itu malah berpikir yang tidak-tidak. Dikiranya aku berdandan untuk dirinya. Sebodo ah!

Setelah mendapat yang kumau, aku kembali menuju ke ruang tamu. Terlihat Faheem sudah membuka bungkus semua makanan yang ia bawa.

Sungguh, benar-benar jatah satu kampung sampai aku bingung meletakkan piring.

Ia pun mengambil satu piring dan sendok beserta garpu dari tanganku sambil tersenyum. Dan dengan bodohnya aku tertunduk malu.

Kami pun memulai makan malam dengan diam. Aku sudah tak tahan lagi dengan laparku mungkin jika terlihat seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Faheem sedikit tertawa kecil melihat kelakuanku.

"Pepan-pelan. Nanti keselek," ujarnya.

Aku hanya mengangguk-angguk kecil sambil tetap menyuapkan makanan. 

"Oh iya. Kamu mau minum apa?" Tanyaku tiba-tiba teringat.

"Emangnya ada apa?"

"Air putih aja sih," jawabku membuat ia memutar bola matanya malas.

Aku nyengir sambil bangkit untuk mengambilkan minum di dapur dan kemudian kembali lagi.

"By the way," katanya membuatku menengok ke arahnya. "Nanti kalau Dion tanya gimana cara kita saling suka, kamu jawab apa?"

Aku menghentikan kegiatan mengunyahku. Itu adalah hal yang tidak pernah terpikirkan olehku.

"Emang dia bakalan nanya?" Tanyaku bergumam.

Tiba-tiba laparku menghilang mendengar nama itu...

"Just in case...," Sahut Faheem.

Aku menatap baik-baik lelaki yang ada di dekatku yang sedang menyantap makanan di depannya, mencoba mencari jawaban yang baru saja dipertanyakan.

Walaupun aku telah berusaha mencari alasan pura-pura pun aku tak mudah menjawabnya. Yang ada dirinya terlalu menyebalkan bagiku. Tapi tidak mungkin kan aku mengungkapkan alasanku ini...

"Kalau kamu apa?" Tanyaku, tiba-tiba ingin tahu.

Faheem seketika mendongakkan kepalanya, melihat ke arahku. "Apanya?"

"Kalau kamu yang ditanya. Apa jawabanmu?"

Lelaki itu terlihat sedikit terkesiap, mungkin tak menyangka aku akan menanyakan pertanyaan itu kembali padanya.

Walaupun terdiam agak lama untuk berpikir, sungguh di luar dugaan Faheem tampak berusaha menjawabnya.

"Aku suka kamu karena...kamu," 

***

Assalamu'alaykum
Hmm.. maksudnya apa sih Heem? Hehe.

Baca jam berapa nih? Notif dari aku masih masuk kan?

Saranghae ❤️

D.S.L

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...