Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Asyhadu allaa illaaha illallaah
Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah

Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku.

Hayya 'alashshalaah
Marilah Sholat

Hayya 'alalfalaah
Marilah menuju kepada kejayaan

Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar.

04.22...

Ash-shalaatu khairum minan-nauum
Sholat itu lebih baik dari pada tidur

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah

Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti bajuku dengan yang pantas melanjutkan untuk menunaikan sholat Subuh.

Selesai berdzikir, aku menutup kedua mataku seraya menengadahkan kedua telapak tanganku, memulai do'aku yang sedari kemarin selalu kupanjatkan di setiap sujudku sejak aku melihat sosok itu lagi.

Setelah sekian lama diriku berkutat dengan rasa bersalah dan kerinduan yang entah sedalam apa, aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan dirinya sehingga aku berharap bahwa aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki apa yang dulu terjadi.

Kuusap perlahan wajahku, berharap Allah ridho atas segala apa yang kupanjatkan padanya lalu segera membereskan peralatan sholatku.

***

Setelah memeriksa diriku sekali lagi di cermin panjang di dekat lemariku, aku pun meraih tas kerjaku dan segera keluar dari ruangan berukuran 4,5m x 5 m ini, tempat tinggal sementaraku untuk sebulan ke depan.

Setelah mengunci pintu, aku pun berjalan menuju pagar untuk berangkat ke kantor. Aku memang sengaja mencari tempat kos dekat dengan tempat kerjaku yang dapat kutempuh dengan berjalan kaki untuk menghemat biaya transportasi karena kepindahanku ke kota ini cukup menguras biaya pribadiku.

Saat aku hendak keluar dari pelataran tempat kos, aku melihat ibu pemilik tempat ini sedang membersihkan tanaman hiasnya dari daun-daun kering.

"Pagi, Bu," sapaku begitu hendak melewatinya memutuskan untuk berbincang sebentar.

"Eh, Nak Dion," balasnya setelah menoleh padaku lalu tersenyum. "Berangkat, Nak?"

"Iya, Bu," jawabku membalas senyumnya.

"Pagi banget? Jam berapa ini?"

"Jam 6.45. Tapi saya kan baru, Bu. Ada beberapa dokumen yang harus saya kumpulkan dan selesaikan. Sambil ngapalin karyawan di divisi saya. Rencananya hari ini mau ngobrol sama mereka," jelasku panjang lebar.

Si Ibu manggut-manggut, entah ia mengerti atau tidak tapi Aku senang saja mengajaknya berbicara. Semenjak aku datang ke tempat ini, ibu ini sudah kelewat baik padaku.

Sebenarnya kamar yang kutempati adalah kamar anaknya yang sudah menikah dan sudah tinggal bersama suaminya. Karena letaknya terpisah dengan rumah utama, maka ibu ini pun berani menyewakan kamar tersebut selain ia juga sudah tinggal sendiri di rumah itu ditemani dengan seorang asisten rumah tangga.

Banyak kos-kosan yang sudah kukunjungi sebelum akhirnya aku menemukan iklan perihal tempat ini. Aku langsung tertarik dengan keramah tamahan pemiliknya terlebih hanya akan ada aku sendiri yang tinggal di sana jadi suasanya akan lebih nyaman dan tidak bising.

Baru tiga hari aku tinggal di sini namun aku sudah merasa menjadi bagian dari rumah tersebut.

"Ya udah Nak. Hati-hati ya. Barakallah," pesan si Ibu masih dengan senyumnya.

Aku pun tersenyum lebih lebar dan mengangguk. "Aamiin. Saya berangkat, Bu. Assalamu'alaykum."

"Wa'alaykumsallam."

Aku berjalan perlahan menikmati jalanan yang masih terselimuti udara pagi yang cukup bersih dan menyegarkan. Hiruk pikuk kegiatan para penduduk sudah mulai tampak menggeliat dan merambati mengejar sang mentari yang perlahan meninggi.

Kuanggukan kepalaku sopan setiap aku bertemu orang yang berpapasan denganku, entah aku kenal atau tidak. Yang Tak jarang aku mendapat kerutan keheranan hingga tatapan curiga.

Aku akan terkekeh kecil terhadap setiap reaksi seperti itu. Mungkin karena kota ini lebih besar dan keras dibanding dengan kota aku tinggal sebelumnya, membuat karakter orang-orang di sini pun terbentuk seperti itu secara tak langsung.

Tak berapa lama, akupun sampai di gerbang besar tempat kerjaku. Hanya butuh Lima belas menit berjalan kaki.

"Pagi, Pak Dion," Sapa petugas sekuriti ramah saat aku melintas di depannya.

Aku pun mengangguk dan tersenyum sembari membaca name tag yang tersemat di seragam hitamnya. Lalu menatap ke arahnya, "Pagi, Pak Syaiful. Selamat bertugas."

Pria itu tersenyum semakin lebar bahkan memberi hormat padaku membuatku tertawa kecil.

Sesampainya aku sampai di lobi, aku bertemu dengan tidak begitu banyak orang namun sepertinya sudah menyadari keberadaanku di kantor ini karena mereka memberiku anggukan hormat. Agak jengah Aku membalasnya karena aku belum terbiasa diperlakukan seperti itu membuatku bergegas menuju lift untuk naik ke lantai dua.

Setelah pintu lift terbuka kembali, akupun berjalan menuju divisiku lalu masuk ke ruanganku setelah melakukan absensi. Ruangan ini masih sepi.

Sambil mengamati perlahan, Aku menghitung jumlah kubikel yang ada. Ada sekitar delapan karyawan yang bekerja di bawah naunganku.

Dan salah satunya adalah Ameera.

Aku sedikit tersenyum miris. Ketika aku berjalan memasuki ruang pertemuan kemarin, gugupku sudah cukup tinggi untuk memulai bekerja di perusahaan baru ini. Dan rasa itu menjadi berpuluh-puluh kali lipat saat aku melihat sosok itu di antara orang-orang yang hadir, menatapku penasaran.

Semakin aku mendekatinya, semakin jantungku sepertinya ingin lepas dari dadaku. Mata kami memang bersitatap sebentar, namun getaran rasa yang dulu pernah ada itu seakan meronta mendesak keluar.

Ternyata empat tahun tak cukup untuk benar-benar menghilangkannya...

Aku pun segera menenangkan diriku dengan beristighfar dalam hati dan berjalan ke arah mimbar. Dari sudut mataku dapat kulihat gadis itu terlihat sama kagetnya denganku.

Ya Allah, apakah ini jawaban dari do'a ku selama ini? Atau berupa ujian?

Aku menghela nafas panjang lalu berjalan menuju ruanganku yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca satu arah artinya aku dapat memantau kegiatan divisi tanpa terlihat oleh mereka.

Segera aku mendudukkan diriku di kursi sembari menyalakan laptop yang ada di depanku.

Kemarin, sehari penuh aku berkutat mempelajari segala job desk ku yang diterangkan oleh kepala HRD. Belum lagi menghadiri pertemuan dengan para komisaris, pemilik perusahaan dan petinggi-petinggi lainnya beserta kepala divisi lain. Cukup melelahkan saat kita harus beramah tamah dengan yang lain. Tapi itu memang sudah bagian dari pekerjaan.

Karena Hal itu sudah selesai, maka aku diperkenankan untuk mendalami setiap pribadi yang bekerja di divisiku. Saat melihat sebuah binder tebal, Aku menebak kalau itu adalah data-data karyawan yang kuminta.

Kuraih benda bersampul warna biru lalu membukanya. Sungguh takjub ketika pertama kali yang kulihat adalah wajah Ameera di sudut kiri atas. Dadaku langsung kembali berkecamuk bahkan kali ini sedikit lebih hebat dari kemarin karena aku membiarkan rasa itu menjadi tak terkendali. Aku semakin larut dengan kenanganku tanpa berusaha membaca lembaran data yang ada di depanku.

Ketukan yang cukup keras di pintu ruanganku sungguh mengangetkanku membuatku hampir melompat dari kursi, membuyarkan segala lamunanku.

"Masuk," jawabku sembari mengatur diriku.

Seseorang muncul dari balik pintu, ternyata seorang office boy tersenyum ramah padaku. "Selamat Pagi, Pak."

"Pagi," jawabku juga tersenyum.

"Perkenalkan saya Ahmad, Pak. Office boy terkece di sini."

"Salam kenal, Ahmad," ujarku sedikit geli mendengarnya.

Tapi kuakui memang penampilannya terlihat rapih dan menarik apalagi usianya bisa terbilang masih muda, mungkin sekitar awal dua puluh tahun.

"Kalau Bapak ada perlua apa-apa seperti beli makanan, bikinin minum, foto kopi, Bapak boleh panggil saya. Atau silahkan angkat intercom dan pencet #109 untuk ruangan pantri dan cari saya ya, Pak."

Aku sedikit takjub mendengar penjelasan anak muda yang berdiri di depanku ini. Sangat lengkap.

"Baiklah, Ahmad. Terima kasih penjelasannya. Saya akan panggil kamu kalau butuh bantuan," ujarku.

Pemuda itu mengangguk lalu pamit. Akupun meneruskan kegiatanku yang tertunda dan lagi-lagi mendapati foto perempuan cantik ini membuatku bergegas membuka halaman berikutnya. Sudah cukup gangguan untuk hari ini.

Tidak membutuhkan waktu lama aku untuk menghafal nama dan sekilas informasi yang aku perlukan atas semua personil yang ada di divisiku. Setelah mantap, kututup binder tersebut dan mengembalikannya di meja dan memerika pekerjaanku di laptop.

Saat waktu hampir menunjukkan pukul delapan, satu per satu karyawan yang bekerja di ruangan itu berdatangan. Aku pun menghentikan apa yang kukerjakan dan memperhatikan interaksi antar mereka. Ada yang duduk di meja sibuk dengan ponselnya, yang perempuan cenderung berkumpul menjadi satu dan mengobrol entah apa.

Aku hanya tersenyum melihatnya lalu meraih binder tadi yang kubaca dan mulai menebak nama mereka sesuai dengan hafalanku sambil aku memeriksa sendiri tebakanku sudah benar atau belum. Akupun tersenyum puas setelah mengetahui aku dapat melakukannya dengan baik namun kemudian menyadari bahwa masih ada dua personil yang belum hadir.

Ameera dan Rika.

Menurut informasi yang kuterima, Rika sedang ijin karena menemani adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ameera?

Aku pun melihat jam yang melingkar di tanganku. Kurang lima menit lagi sudah jam masuk.

Apa ia sakit? Atau jangan-jangan karena tahu aku kepala divisinya yang baru lalu ia mengundurkan diri?

Kecemasan pun segera melingkupi diriku. Aku juga tak ingin membuat dirinya berhenti bekerja hanya karena aku. Sampai saat masuk tiba, sosok Ameera tak kunjung terlihat membuatku semakin berpikiran yang tidak-tidak.

Kuhela nafasku sebentar, sebelum bangkit dari dudukku lalu keluar ruangan untuk mengumpulkan para personil divisiku untuk berkenalan dengan mereka secara personal dan berdiskusi bagaimana kami harus bekerja sama. Saat berjalan aku masih berharap Ameera menampakkan batang hidungnya.

"Selamat pagi," sapaku begitu aku keluar dari ruangan kaca tersebut, mengambil posisiku di tengah ruangan sehingga dapat terlihat dari seluruh kubikel yang ada.

Keenam karyawan yang telah datang sedikit terkejut dan mulai bergegas duduk di meja masing-masing membuatkua tersenyum diam-diam.

Ya memang begitulah kelakuan para karyawan termasuk aku dulu. Mungkin mereka mengira aku belum datang atau tak menyangka aku akan datang lebih dulu dari mereka.

Suasana langsung terlihat tegang. Hampir semuanya menundukkan kepala mereka kecuali satu. Seorang lelaki menatapku dengan serius dan ingin tahu. Aku memuji keberaniannya dibanding teman-temannya yang lain.

"Selamat pagi, Frans," sapaku pada lelaki itu.

Lelaki itu tampak terkejut aku mengetahui namanya kemudian membalas sapaanku sedikit gugup, "Pa..pagi, Pak."

Aku pun segera memperkenalkan diriku. Siapa namaku, apa tugasku di sana, dan dari mana aku berasal dan tentu saja aku menyelipkan guyonan-guyonan kecil membuat suasana kaku itu sedikit demi sedikit menghilang. Baru sekitar lima menit aku bercerita, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan dengan terburu-buru dan melakukan absen di mesin finger print.

Semua mata menuju ke arahnya, termasuk aku. Ia terlihat terengah-engah mungkin karena harus berlari untuk mengejar waktu agar tidak terlambat.

Mendapati kami sedang dalam diskusi, ia semakin terkejut mengetahui nasibnya yang tidak begitu baik hari ini. Entah mengapa aku malah tersenyum dalam hati melihat wajah paniknya itu. Belum berubah juga ternyata...

"Maaf, saya terlambat," ucapnya perlahan sambil sedikit membungkukkan badannya lalu beringsut menuju mejanya.

Ia segera duduk dan berusaha menyembunyikan dirinya di balik kubikel yang gagal menutupinya. Hampir saja tawaku terlepas melihatnya namun aku berusaha keras untuk mengatur diriku.

"Selamat pagi, Ameera."

Sesuai dugaanku, matanya membulat mendengar sapaan yang khusus kutujukan padanya. Ia pasti mengira yang bukan-bukan padahal sedari tadi aku juga melakukan hal yang sama dengan karyawan yang lain, menyebut nama mereka dalam sapaanku.

"Pa..pagi, Pak," balasnya lirih semakin membenamkan diri.

Sungguh menggemaskan...

"Saya lanjutkan ngobrol kita?" Ujarku yang disambut anggukan setuju seluruh personil kecuali satu.

Singkat cerita, aku mengakhirinya dengan berharap divisi ini bisa saling bekerja sama dan terbuka terlebih dengan aku sebagai penanggung jawab mereka. Melihat wajah-wajah mereka di akhir sesi tidak ada yang menampakkan kekesalan yang terpendam aku pun melontarkan pertanyaan, "Ada yang mau ditanyakan?"

Sesaat hening, namun kemudian kulihat seorang perempuan dari pojok ruangan, Clarista, mengangkat tangannya. Ia ini terlihat paling cantik di antara personil perempuan yang ada di sini dan juga terlihat paling memperhatikan penampilannya.

"Ya, Clarista?"

Mendengar aku sudah tampak hafal dengan namanya, raut mukanya semakin menunjukkan kegembiraan tersendiri.

"Bapak sudah menikah?" tanyanya tanpa basa basi yang sontak disambut sorakan usil dari rekan-rekannya. Ia hanya tersenyum entah apa.

Aku pun hanya tersenyum, sekilas melirik ke arah meja Ameera. Melihat ia hanya diam saja sedari tadi membuatku sedikit kecewa.

"Belum," jawabku perlahan.

Clarista semakin bersemangat. "Pacar, Pak?"

"Yaelah, Ris, ngebet amat sih!" sahut lelaki yang ada di dekatnya.

"Biarin, wek! Namanya juga usaha!" Clarista menjulurkan lidahnya acuh.

Aku tertawa kecil dan menggelengkan kepala, memutuskan untuk tak menjawab pertanyaan itu sambil beranjak dari tempatku berdiri. "Ya sudah, silahkan bekerja."

"Yah, Pak. Tadi belum dijawab..," Clarista terlihat manyun.

"Kerja, Riiis!" seru yang lain dan aku semakin menggeleng.

"Oh, iya. Ameera, tolong ke ruangan saya, ya!" ucapku tanpa menoleh, tetap berjalan menuju ruangan.

Tidak usah kulihat, ia pasti sudah panik sendiri di kursinya.

***

Assalamu'alaykum. Hayooo, mau diapain hayooo!

Aduh jadi kepanjangan gak sih? Hiks. Udah part 16 kapan nikahnya ya? Hahahaha.
Semoga aja gak bosen bacanya. Hmm, kalo mantannya lebih baik dari Faheem, ntar Ameera gimana yaa? Hehehe...

Jangan lupa baca Al-Qur'an yang terutama ya. Saranghae ❤️

D.S.L

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...