Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 1



Let the pain be a lesson

***


"Aduuuhh," desisku sambil memandang gelisah pada layar ponsel yang ada di tangannku, membuat Rika, teman satu kontrakan sekaligus satu divisi di kantor, menghentikan kegiatan membacanya.

"Ada apaan, sih?" tanyanya sambil mencondongkan kepalanya penasaran.

Hari ini adalah akhir minggu jadi kami sedang bersantai di kontrakan kami yang kecil namun nyaman itu. Rika sedang membaca buku favoritnya sementara aku juga membaca cerita favoritku tapi di platform online. Biasanya kami rebahan di ruang tamu atau sama-sama duduk di sofa mungil kami yang kami beli dengan patungan.

Namun melihat pesan WhatsApp dari ibuku, mendadak mood-ku jadi hancur lebur bagaikan butiran debu.

Aku hanya menghela nafasnya panjang diikuti bahuku yang turun melesu.

"Udah lemes aja, kan baru juga gajian...," Sahut Rika ngawur, kembali menekuni kegiatannya yang terhenti.

"Ish, bukan ituuu!" Tukasku sambil cemberut.

Rika akhirnya meletakkan bukunya di atas pangkuannya hanya untuk memandangku dengan tatapan meminta penjelasan dengan segera karena ia merasa aku sudah mengganggu waktunya yang berharga itu.

Aku juga tak segera bersuara hanya menyerahkan ponselku padanya. Temanku itu pun melihat ke layar kecil yang ada di genggamannya. Semakin lama kerutan di wajahnya semakin jelas menunjukkan tingkat kebingungan dirinya.

"Aku gak paham," gumamnya tak menoleh padaku, masih berusaha mencari sesuatu yang membuatku salah tingkah.

"Ya ituuu," bibirku semakin manyun menunjuk apa yang sedang Rika lihat.

"Apaan? Ini?" Rika menghadapkan layar ponsel ke arahku. "Ini kan cuman undangan nikah, Meer..."

Aku memutar bola mataku malas semakin membuatnya tampak seperti orang bodoh. Kusahut perlahan ponselku kembali dari tangannya.

"Eh, aku beneran gak paham-"

"Ini yang nikah anak pertama dari saudara Bapak," sahutku memotong perkataan Rika. "Dengan kata lain, semua ditodong harus datang!"

Kerutan Rika belum hilang. "Ya, dateng aja. Susah amat..."

"Ya, gak segampang itu, Rik!" Ujarku sedikit memekik.

"Gak segampang itu gimana?" Tanya Rika mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Kamu kayak gak tahu ibuku aja...," Desisku nyaris berbisik sambil memandangi undangan tersebut.

"Maaf, ibumu bukan ibuku jadi-"

Aku mendelik gemas melihat Rika. Mungkin ia ingin mengurangi kegundahanku dengan sedikit bergurau tapi aku sedang tidak ingin melakukannya. Ia pun menarik kembali bibirnya yang sudah setengah nyengir kemudian menampakkan wajah menyesalnya.

Rika menepuk bahuku pelan. "Kalau kamu gak mau dateng, ya gak usah dateng, Meer...,"

"Gak bisa," Aku mengeluh lagi. "Kamu tahu sendiri kalau keluarga Bapak yang bikin acara kami semua harus datang. Gak ada kecuali."

Ya memang begitu aturan tak tertulis di keluarga ayahku. Apapun bentuk acara yang diadakan salah satu saudaranya atau ayahku sendiri, semua harus menghadirinya dan tak menerima alasan dalam bentuk apapun kecuali dirimu dapat menunjukkan surat keterangan sakit dari dokter atau bukti bahwa kau sedang melakukan pekerjaan yang tidak bisa kau tinggalkan. Atau konsekuensinya mereka akan mencoretmu dari daftar silsilah keluarga.

Mereka berlebihan? Itulah keluarga ayahku. Salah satu tradisi yang sedikit tak kusuka.

Sebenarnya aku tak ada masalah dengan hal itu tapi andai saja tidak diikuti dengan kelakuan keluarga besar ayahku dan juga ibuku tidak seperti sekarang, mungkin aku akan dengan senang hati datang.

Ibuku, entah sudah berapa ratus kali menanyakan kapan statusku berubah menjadi seorang istri.

Sejak hubunganku yang terakhir kandas dengan tidak baik-baik saja, padahal aku sudah mengenalkannya sebagai calon suamiku, dan keluargaku tidak pernah mendapat kabar apapun perihal hubungan baru, membuat ibuku semakin gencar bertanya dan gencar pula bekerja sambilan sebagai mak comblang pribadiku, mengingat umurku sudah dianggap melewati batas kewajaran.

Mungkin alasan Ibu berbuat seperti itu karena sama tidak tahannya denganku mendengar rumor yang beredar di keluarga besar kami perihal diriku yang tak kunjung menikah. Ditambah lagi dengan kenyataan mengapa hubunganku berakhir membuatku semakin dipandang sebelah mata di keluarga besar.

Aku memang sudah berusia dua puluh delapan tahun dan kuakui perasaan itu seringkali datang mendera namun, ternyata rasa sakit yang tertinggal terlalu kuat sehingga membuatku betah menyendiri.

Sebenarnya tidak juga sih terkadang sepi itu datang tak diundang dan kadang tak pulang-pulang padahal Jailangkung aja masih mau pulang walau gak diantar...

Kesepian membuatku merindu sosok untuk menemani hari-hariku. Walaupun ada Rika tapi aku butuh bentuk sosok yang lain.

Dan untuk memulai, aku masih terlalu takut...

***

Aku hanya bisa mengangguk sambil mengucap "Iya, Bu" atau "Hmm" pendek mendengar ibuku berbicara di telpon tak putus-putus.

Sepertinya sudah hampir setengah jam...

"Pokoknya ya Meer, kamu harus dateng. Gak bisa nggak! Ibu gak terima alasan apapun dari kamu apalagi alasan lembur! Bisa malu nanti Bapak kalo kamu gak ada!"

Aku menghela nafasku diam-diam. Sepertinya aku sudah berkali-kali mendengar kata "malu" yang terucap dari seberang sambil mencoba menghubungkan kolerasi malu dan ketidakhadiranku.

"Iya..," balasku pelan.

"Kamu tuh iya iya aja dari tadi!" Ibu sedikit mengomel.

"Terus Meera musti jawab apa? Nggak gitu?"

"Oh iya, nanti kirim Ibu ukuran baju kamu ya! Bude Mirna mau bagi kain buat seragam,"

Dan itu adalah hal kedua yang paling aku tidak suka dalam acara keluarga.

Baju motif kembar tapi model tak sama yang seringnya berakhir dengan pergunjingan antar saudara baju milik siapa yang paling absurd.

"Iya...,"

"Ya udahlah! Ngomong sama kamu jadi ikutan gak semangat! Assalamu'alaykum!"

"Wa'a-"

Dan hubungan pun terputus membuatku geleng-geleng kepala.

Ya begitulah ibuku.

***

Rejekijodoh dan hidup ada di tangan Allah.

Itulah alasan yang sering Aku berikan pada keluargaku terutama Ibu. Kalau sudah mendengar aku berkata seperti itu, Ibu hanya mencibir dan mulai "merepet" gak jelas.

Tapi memang itu yang masih aku pegang hingga sekarang,bahwa Allah akan mendatangkannya untukku...

Alasan itu juga aku ucapkan pada Rika saat kami membahas perilaku keluargaku terutama ibuku saat kami sedang menikmati makan malam kami, ayam geprek berbalut keju mozzarella.

"Tapi kudu usaha juga kalii," ucap Rika mendengar alasan itu kuutarakan.

Aku hanya diam atas reaksinya mendengar alasan yang kuberikan. Ia memang tahu Aku pernah hampir memiliki tunangan namun ia tak tahu secara detail apa yang terjadi.

Bahkan keluargaku pun tak pernah kuceritakan tentang rasa yang tertinggal itu. Untuk apa? Aku tak ingin mereka timbul rasa kasihan terhadapku.

"Aku usaha, kok," ucapku membela diri sambil tetap menyuap makananku.

Rika langsung mencibir mendengar jawabanku membuat bibirku spontan mengerucut.

"Sebelah mana tuh usahanya? Dikenalin cowok aja ngabur!"

"Siapa?" Tukasku sedikit sewot.

Aku memang paling tidak suka topik ini karena pasti kalah telak. Jadi menyesal bercerita soal undangan pernikahan itu padanya.

"Terus, gimana?" Tanya Rika Kali ini dengan nada serius.

"Apanya?"

"Kamu tetep dateng kan?" Ia menatapku lebih serius lagi.

Aku mendesah perlahan. Nafsu makanku tiba-tiba menghilang. Kami terdiam untuk beberapa saat. Rika tampaknya juga Tak mau memaksaku lebih jauh.

Saat aku berusaha menyantap kembali makana malamku karena Tak ingin mwrasa rugi telah menguras lumayan isi dompetku, Rika tiba-tiba bersuara lagi.

"Masalahnya cuman bawa cowok atau gak, kan?"

Aku menatap Rika tak mengerti.

"Kamu malas dateng ke acara itu karena gak punya gandengan,kan? Itu masalahnya kan?"

Aku tahu temanku ini hanya ingin menjelaskan maksud perkataan sebelumnya tapi mengapa mendengarkan ia berkata seperti itu membuatku terlihat menyedihkan, ya?

Tampaknya aku sudah se-sensi itu kalau berhubungan dengan namanya teman hidup. Atau memang aku sudah semenyedihkan itu?

"Aku punya banyak temen cowok," ucap Rika lagi dengan nada bersemangat namun perkataannya membingungkanku jadi aku hanya melongo saja mendengarnya, menatapnya sambil berharap ia menjelaskan apa maksudnya itu.

Namun setelah berusaha mencerna selama beberapa detik, Aku sontak membulatkan mataku. "Aku kan gak kenal!"

"Nanti aku kenalin, terus kamu pilih aja salah satu terus dibawa ke acara..."

"Gak mau, ah!" Pekikku menolak.

Dikira beli kacang goreng apa? Milih kacang saja juga masih pakai perasaan! Dan lagi,dikira aku cewek apaan? Kayak yang gak bisa nyari sendiri aja!

Memang iya,sih...

"Tuh, dikasih solusi bagus juga malah gak mau...,"

"Itu mah bukan solusi bagus, Rik! Tapi gila! Dan bohong!" Sahutku memotongnya, gemas.

"Terus nanti kamu ngasih alesan lembur di kantor padahal gak, emang itu gak bohong?"

Aku ingin membantah Rika namun setelah dipikir-pikir ia mengatakan hal yang sebenarnya. Aku selalu mengatakan alasan yang sama pada ibuku untuk menghindari acara keluarga padahal kenyataannya tidak seperti itu.

"Ah gak tau, ah!" Seruku memutuskan untuk menyudahi percakapan unfaedah ini.

"Ya udah terserah kamu, deh! Kok aku ikutan pusing!" Rika juga setengah menggerutu sambil melahap makanannya.

Aku menatap ke arah temanku yang tampaknya sedikit kesal karena sikapku yang aneh bin ajaib kalau sudah menyangkut lawan jenis.

Kami menyantap sisa makan malam kami dalam diam. Dalam hati, aku mulai memikirkan usul Rika.

Mungkin dengan begitu, aku bisa melanjutkan hidupku?

Let the pain be a lesson... katanya...

Seharusnya sih begitu, namun aku belum sanggup - mau dan mampu - menguatkan diriku untuk menjadikan masa laluku sebagai sebuah pelajaran.

Aku hanya takut, jika aku bergerak seperti itu luka itu malah terbuka semakin lebar dan kembali menyakitkanku...

***

Comments

  1. Kok koyok eleng eleng bapak q jadine hahaha

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. sudah dipublish. selamat membaca dan terima kasiiih sudah dibaca hehe

      Delete
  3. Kenapa harus bawa2 Jailangkung sih, mba? Mending pinjem alasan Bang Toyib koq sampe hr ini dia gk pulang2 🤣🤣
    *semakin Kepoo pake bgth

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahaha keingetnya ituuu. Tanyakan pada bang Toyib kenapa dia gak pulang-pulang :D

      Delete
  4. kereen... lope, lope..
    topik yang selalu abadi tiap ada kumpul keluarga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. abis kapan nikah, kapan punya anak, kapan nambah momongan, hihi tak berujung

      Delete
  5. Nama nama tokohnya unik, ini yang membuat penasaran

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...