I still need something called process or it will mean nothing!
***
"Gak mau, ah!" Sergahku pada Rika sambil menggeleng kuat-kuat.
Temanku itu langsung mengerucutkan bibirnya tanda protes.
"Sekali aja!" Ujarnya kali ini sedikit memaksa.
Aku menggeleng lebih kuat sambil menggeser kursi kerjaku menjauh darinya membuatnya semakin cemberut.
"Kamu tuh dibantuin malah nolak terus! Ya udah terserah!" Rajuknya sambil kembali ke meja kerjanya.
Beberapa hari belakangan ini Rika memang punya hobi baru, yaitu mengenalkan seluruh teman berjenis kelamin lelaki yang ada di kontak ponselnya kepadaku. Dan selalu berakhir dengan penolakan dariku yang sepertinya mulai membuatnya kesal.
Bukan apa-apa, aku bukanlah tipe perempuan yang bisa dekat dengan waktu sesingkat itu. Walaupun pernikahan sepupuku sekitar tiga minggu lagi tapi I still need something called process or it will mean nothing!
Called me old fashion, or maybe I am, tapi itulah aku. Menikmati segala sesuatunya melalui proses - setiap saatnya, setiap detiknya. Dan menurutku hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bukan dari hasil undian begini.
Aku melirik ke arah Rika yang terlihat serius dengan kertas-kertas di tangannya lalu mendadak merasa bersalah.
Ini adalah salah satu kekuranganku, cepat sekali merasa bersalah akan sesuatu yang terjadi walaupun sebenarnya apa yang aku pilih itu sesuai dengan apa yang seharusnya, atau aku merasa benar. Namun tampaknya, tetap saja aku merasa tak enak hati karena ada pihak yang terluka karena aku dan aku tak mau itu terjadi.
Aku menghela nafas sebentar lalu mendorong kursiku perlahan menuju ke arah temanku itu.
"Ya udah, sekali, ya...," Gumamku demi melihat ia tak ngambek lagi dan tampaknya itu berhasil.
"Beneran?" Rika tersenyum lebar sedetik setelah mendengar aku berbicara.
Yang kulakukan hanya menggangguk perlahan membuatnya kemudian bersorak kegirangan seperti anak kecil.
Mengapa dia yang bahagia padahal yang mau bertemu cowok-cowok antah berantah itu aku?
***
Aku meremas-remas jemariku yang ada di bawah meja sembari memikirkan kalimat apa lagi yang harus kulontarkan untuk melanjutkan pembicaraan dengan seorang lelaki di hadapanku ini.
Seketika itu aku menyesal mengiyakan permintaan Rika.
Rasa canggung menyelimuti kami. Aku sudah berusaha untuk bercakap namun sepertinya lelaki ini lebih sibuk menikmati makanannya ketimbang ngobrol denganku.
Aku menghela nafas diam-diam, melirik ke arah jam tanganku yang menunjukkan setengah delapan sambil bertanya-tanya mengapa Rika tega mengenalkan lelaki ini padaku dan kemana perginya ia, yang kurasa sudah hampir setengah jam ia meninggalkan kami berdua di sini.
"Jadi, kamu apanya Rika?" Tanya lelaki di depanku yang mengaku bernama Rahardian ini dengan mulut penuh dengan makanan.
Aku tergugu melihat caranya mengunyah dan betapa bagian lain dari wajahnya juga turut menikmati makanan tersebut, alias belepotan.
Sebenarnya aku malas menjawab pertanyaan yang tak perlu dijawab itu, karena berarti ia sama sekali tak menyimak apa yang aku katakan sedari tadi.
Namun demi menjaga kesopanan dan saat aku hendak membuka mulutku untuk menjawab pertanyaannya, aku dibuat takjub kembali dengan kelakuan Rahardian yang ajaib.
Ia melap tangan kanannya bekas manyuap tadi dengan serbet lalu memasukkan kelingkingnya ke dalam hidung dan disambung dengan aktivitas yang kalian tahu apa itu, dengan tampang sok polosnya sembari melihat ke kanan dan ke kiri.
Aku kembali menghela nafasku, kali ini lebih panjang dan lebih berat sambil menutup kedua mataku, menahan emosi yang sedikit mulai bereaksi.
Ingin sekali diri ini pergi dari sini sebelum ia menunjukkan sesuatu yang lebih lagi dari ini namun, aku juga tak enak hati harus meninggalkan Rahardian tanpa menunggu kehadiran Rika.
Lagi-lagi aku kesal pada diriku sendiri yang selalu terbentur rasa tak enak sambil menggigit bibir bawahku lalu hendak mengambil ponsel dari tasku untuk menghubungi temanku yang M.I.A (*)
Saat aku sibuk mencari nama temanku, aku sedikit dikejutkan dengan suara di dekatku.
"Permisi..."
Suara itu tidak kencang namun tegas. Mungkin karena jenis yang beroktaf sedikit rendah dan berat.
Akupun menoleh. Mata kami bersitatap sebentar. Entah mengapa jantungku tiba-tiba sedikit berdegup melihat wajah yang sedang memandangku juga ini.
Hmm, aneh. Ada apa denganku kali ini? Sampai bereaksi seperti ini?
Namun aku segera mengernyitkan dahi karena tidak berhasil mengenali orang tersebut.
"Y..ya?" Jawabku sedikit tergagap.
Begitulah aku. Rasa gugupku akan timbul jika aku berhadapan dengan seseorang yang mampu memberikan efek tersendiri bagiku, seperti kali ini, sehingga terkadang aku sulit untuk berkata-kata dengan lancar.
Aku masih saja memperhatikan wajah yang memanggilku, yang kini tengah tersenyum sehingga membuatku kembali salah tingkah. Bukan apa-apa, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana, aku juga tidak ingat.
Kulirik Rahardian sekilas yang tampaknya tidak terpengaruh dengan kedatangan orang asing di meja kami. Ia tetap melahap semua makanan dengan cueknya.
Ya Allah...
"Ameera?" Tanyanya masih dengan senyum menawannya.
Mendengar ia menyebut namaku, membuatku sedikit terkesiap dan bertanya-tanya bagaimana lelaki ini mengetahui namaku karena ia terlalu good looking untuk menjadi temanku.
"Y..ya?" Aku pun tergagap lagi.
"Saya Faheem."
Aku terdiam, mencoba mencari nama itu dalam salah satu slot memoriku namun tampaknya gagal. Entah otakku yang tidak punya database tentang lelaki ini atau mungkin sedang dalam status error.
"Saya teman Aan, pacarnya Rika," ujarnya menjelaskan.
Mendengar kata pacar, aku langsung membulatkan mataku.
Pacarnya Rika? Si Faheem ini?? Sejak kapan??
"Maksud saya, Aan yang pacarnya Rika. Saya temannya Aan," Faheem berusaha menjelaskan cepat-cepat, mungkin pikiranku terbaca olehnya melalui mimik wajahku.
"Oh," ujarku setelah beberapa detik mencerna informasi baru.
Aku bernafas lega. Lho? Buru-buru kuusir perasaan aneh itu. Mengapa harus lega, coba?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Rika mana?" Akupun celingukan mencari sosok temanku itu di antara para pengunjung yang ada di tempat makan itu namun tak tampak di sudut manapun.
"Rika di Lemongrass sama Aan," Faheem berkata lagi, membuatku spontan menoleh lagi ke arahnya.
"Apa?" Tiba-tiba aku merasa seperti dikhianati, apalagi harus berhadapan dengan sosok ajaib yang ia kenalkan padaku ini. "Sejak kapan?"
"Sejak...," Faheem melihat sekilas ke arah jam tangannya lalu kembali melihatku.
Tiba-tiba wajahku menghangat karena mata kami bersitatap.
Duh, aku ini kenapa sih?
"Setengah jam yang lalu, mungkin. Anyway, dia minta tolong aku untuk jemput kamu-"
Mendengar penjelasan Faheem, aku pun segera meraih tasku dengan gemas lalu bangkit dari kursiku walaupun lelaki itu belum menyeleseikan kalimatnya membuatnya sedikit terkejut.
"Eh, mau kemana?" pertanyaan Rahardian segera menghentikan niatku untuk meninggalkan tempat itu.
Astagfirullah, aku lupa kalo dia masih di situ!
"Kamu...gak papa kan aku tinggal?" Ucapku perlahan merasa tak enak hati.
Rahardian memandangi aku dan Faheem secara bergantian. Aku semakin merasa jengah dan berdoa semoga ia tidak berpikiran aku meninggalkan dirinya karena Faheem.
"Udah dibayar, kan?" tanya lelaki itu membuatku membulatkan mataku tak percaya dan mengangguk cepat-cepat.
"Ok," jawabnya dengan santai lalu melanjutkan makannya lagi.
Sementara Faheem melihat ke arahku dan Rahardian bergantian dengan pandangan tak mengerti, aku segera meninggalkan meja dan mulai melangkah keluar untuk mencari temanku yang sudah berkhianat itu.
"Eh, punyamu aku makan, ya!" Rahardian sedikit berteriak membuatku mempercepat langkahku agar tak malu dengan pengunjung yang lain dan juga tak sabar ingin mendamprat teman sekontrakanku itu.
***
Namun lain ekspektasi, lain pula realita.
Keinginanku untuk menceramahi Rika meluap begitu saja begitu melihat tampang Rika yang memelas, meminta maaf padaku.
Yang ada sekarang aku cemberut dengan tangan bersedekap ke dada melihat Rika tertawa dengan terbahak-bahak setelah aku bercerita kelakuan teman astralnya itu. Aku heran saja mengapa Rika memiliki teman sejenis itu.
"Maaf, maaf," ujarnya di sela tawanya yang berusaha ia hentikan.
"Pokoknya aku gak mau kamu kenal-kenalin lagi!" Desisku masih tak terima.
"Kalian ngomongin apa, sih?" Tanya Faheem tiba-tiba nimbrung terlihat dengan pembahasan kami.
Ah, Aku sampai lupa kalau ada dua orang lain selain kami.
"Ini... Si Meera lagi nyari jodoh," sahut Rika masih dengan sisa gelinya membuatku membulatkan mata.
"Rika!"
"Ih, bener, kan?" Sergah gadis itu.
"Cari jodoh?" Faheem semakin terlihat penasaran.
"Jadi Meera tuh...,"
"Aku pulang nih!" Ancamku.
Aku juga tidak mau harga diriku terlihat sebegitu rendahnya di orang yang baru aku kenal ini.
"Iya, iya!" Rika memggelayutkan tangannya ke lenganku sambil memandangku sedemikian rupa.
Huh, mengapa sih orang-orang ini selalu saja memanfaatkan kelemahanku?
Akhirnya perlahan percakapan tadi pun teralihkan dengan yang lain.
Aku baru tahu kalau Aan dan Faheem ternyata satu kantor dengan kami namun beda divisi. Mengetahui fakta tersebut tentu saja membuatku terlihat sebagai pegawai yang kurang update atau mungkin kurang perhatian dengan lingkungan sekitar. Tapi aku memang seperti itu. Tidak mencari tahu jika tak perlu. Karena itu juga temanku bisa dihitung dengan jari.
Aku melirik sekilas ke arah Faheem. Selain teman sekantor, aku merasa memang pernah bertemu dengannya namun di mana aku sungguh lah lupa.
Saat sedang berusaha mengingat-ingat, tiba-tiba Faheem menoleh ke arahku membuatku terkejut dan segera menundukkan pandangan, malu karena tertangkap basah memperhatikannya. Akupun pura-pura menyibukkan diri dengan makananku.
"Kita... pernah ketemu ya?" Tanya Faheem perlahan, sepertinya tidak ingin dua orang lain mendengar percakapan kami karena Rika dan Aan juga sibuk sendiri.
Aku mengangkat kepalaku takut-takut, kembali menatap lelaki di depanku.
Ia masih saja tersenyum dengan luwesnya. Dalam hati aku bertanya apa pipinya tidak terasa kebas, karena senyumnya tak pernah lepas sedari aku bertemu dengannya.
"Aku...gak tau...," Jawabku hampir bergumam karena aku juga tidak yakin.
"Tapi...kayaknya iya, sih. Dimana, ya?" Faheem terlihat mulai berpikir.
"Udah, Meer. Gak usah didengerin! Akal-akalan Faheem aja biar sok kenal!" Sahut Aan tiba-tiba.
"Maksudnya?" Aku bertanya lugu.
Faheem hanya terkekeh pelan sambil memukul lengan Aan pelan lalu melanjutkan makannya.
Dari Aan, mataku menuju pada lelaki di depanku kembali.
Mengapa rasa penasaranku menjulang tinggi sekali pada lelaki ini?
***
(*) Missing in Action

duduk manis, lipat tangan, menanti kelanjutannya 🤔
ReplyDeletehihi. jangan lupa kopi atau tehnya ya akak. lanjutannya udah ada. silahkan.
Delete