I just don't believe in love...
***
Pelan tapi pasti, kesadaranku mulai terkumpul. Apalagi dengan sinar matahari yang langsung menyeruak masuk melalui celah gorden kamarku yang tampaknya semalam tidak tertutup rapat, menerpa ke arah mataku. Kubuka perlahan keduanya seraya melindunginya dengan mengangkat telapakku.
Setelah cukup sadar untuk bergerak, aku pun menopang perlahan tubuhku dengan siku. Dengan mata yang masih tertutup sebelah, aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang kemudian berhenti di sisi sebelah kiriku.
Kosong.
Mungkin ia sedang mandi, pikirku sembari bangkit untuk duduk di pinggiran tempat tidur.
Setelah mataku terbuka sempurna, aku pun meraih kaosku yang tercecer di lantai tempat kakiku berpijak lalu segera berjalan menuju kamar mandi untuk memastikan yang aku cari ada di dalam sana.
Namun sepertinya tanda-tanda orang sedang melakukan aktivitas tidak terdengar dari dalam ruangan itu. Dan benar saja, saat aku membuka pintunya, aku tak menemukan siapa-siapa di sana. Aku pun segera masuk untuk menyegarkan tubuhku. Setelah selesai bebersih diri, kupakai baju santai berupa t-shirt hitam dan celana pendek selutut kemudian segera keluar kamar.
Sembari berjalan menuju dapur, aku melongok ke setiap sudut rumah kecilku untuk mencari sosok yang kucari. Dan ternyata, ia sudah berada di tempat yang aku tuju. Dan seperti biasa pula, ia sedang melakukan entah apa kali ini.
Aku tersenyum tipis, melangkahkan kakiku mendekatinya yang sedang berdiri di dekat konter dapur. Sepertinya sedang menyiapkan minuman untuk kami berdua karena kulihat dua buah mug tersedia di depannya.
Menyadari kehadiranku, sosok itu memutus perhatiannya dari kedua mug tersebut dan menatap ke arahku kemudian tersenyum sangat manis.
"Good morning," sapanya lembut.
"Good morning," balasku juga sambil menghirup aroma minuman yang menyeruak ke dalam indera ciumku.
Ia menyodorkan salah satu mug ke arahku begitu aku sudah berdiri di sebelahnya. Aku pun meraihnya dan lebih menikmati aromanya dengan menghirupnya dalam-dalam.
Coffee is the best drink in the world indeed...
Kuseruput perlahan cairah hitam hangat itu, meresapi segala rasa yang terecap lidahku. Sensasi pahit dan asamnya sungguh menggoda perasaku.
"Terima kasih,ya," ucapku perlahan sambil menatap ke arahnya.
Ia hanya tersenyum, meraih mug miliknya dan menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya. Mungkin ingin mendapatkan kehangatan dari situ. Ia mendaratkan duduknya di atas konter dapur lalu mulai meminumnya perlahan, memandang nanar ke arah lain.
"You woke early," kataku lagi melihat dirinya hanya diam saja.
Tumben...
Ia sedikit terkesiap lalu kembali menatapku. Aku merasa ada yang aneh. Dan sepertinya aku tahu apa itu.
"Ada apa?" Tanyaku, sedikit was-was.
Ia tersenyum tipis, terlihat sedikit masam. Entahlah.
"Fris...,"
Mata Friska tiba-tiba berubah menjadi sendu. Hatiku langsung mendadak panik. Bukan karena aku sedih melihatnya, tapi pasti ia akan membahas sesuatu yang paling aku hindari.
"Berapa lama kita harus kayak begini?" Ia bertanya, sepertinya sudah menahan lama untuk mengatakannya.
Nah, kan...
"Apa maksudmu-"
"Gak usah pura-pura, Heem," potongnya cepat, menaruh mugnya ke atas konter dapur lalu menatapku sedikit gusar.
Aku berusaha menelan ludahku susah payah. Yah, semua pasti akan berada pada situasi seperti ini. Dan tampaknya aku mulai bosan mengalaminya berulang-ulang. Mengapa para wanita ini susah sekali memahami konteks TTM(*)?
Aku berdecak dalam hati.
Ini benar-benar harus diakhiri.
"Fris, bukannya dari awal kita sudah sepakat atas apa yang terjadi di antara kita? Nothing more than friends?"
Aku mengangkat alisku, memaksanua untuk mengingat apa yang pernah sama-sama kami setujui perihal hubungan tanpa status ini.
"Iya, tapi-"
"Jadi kenapa kamu bertanya seperti itu sekarang?" Tanyaku datar.
Gadis di depanku menatapku setengah tak percaya. Mungkin ia baru tahu bahwa aku dapat setega seperti sekarang.
Siapa suruh berurusan dengan Faheem?
Ia mencoba mencari sesuatu di mataku yang mengatakan kalau aku hanya bercanda dengan semua apa yang kukatakan. Namun ketika ia tak menemukan apapun, kedua matanya mulai berkaca-kaca menerima kenyataan bahwa semua itu bukan main-main.
"Do you start to have a feeling for me, Fris?" Tanyaku pelan, menghunjamnya dengan tatapan sedemikian rupa yang membuat dirinya salah tingkah.
"Aku-"
"Then stop it!" Desisku tajam.
"Heem, aku-"
"Ganti bajumu. Aku antar kamu pulang sekarang."
Kutaruh sedikit kasar mug berisi kopi yang rasanya tiba-tiba menjadi tak enak lalu melangkah ke kamar untuk mengganti bajuku, meninggalkan Friska yang terlihat sangat terkejut.
"Faheem! Aku gak bisa diginiin!"
"FAHEEM!!"
***
Friska adalah salah satu dari sekian banyak "teman wanita" yang berakhir seperti itu.
Karena mereka selalu seperti itu, memintaku lebih dari sekedar teman. Meminta kejelasan akan hubungan kami. Padahal di awal, saat aku menjelaskan pada mereka bahwa aku tidak bisa menerima mereka lebih dari teman, mereka akan setuju soal bagian itu.
Bahkan terkadang beberapa dari mereka meyakinkan aku bahwa tak akan ada yang namanya fase dimana mereka akan melibatkan perasaan mereka. Mungkin dengan maksud agar mereka dapat "berhubungan" denganku.
Namun nyatanya, dan biasanya hal tersebut akan timbul saat hubungan simbiosis mutualisme kami ini memasuki usia tiga minggu.
They grow their feelings for me.
Always like that.
Dan aku harus menghadapi fase itu terus menerus, tanda dimana aku harus segera mengakhiri segalanya sebelum semuanya berkembang menjadi besar dan akan terlambat.
Aku bukannya tak ingin terlibat hubungan serius namun aku memang tak percaya akan yang namanya cinta.
I just don't believe in love...because, love is suck!
Cinta itu menyakitkan jika kau sudah terperangkap di dalamnya. Karena itu aku tak ingin merasakannya. Sudah cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa berkubang dalam yang namanya cinta tak menjamin kau bahagia. Yang ada selalu menderita, berakhir dengan meraung-raung dalam kesedihan.
Karena itu, aku memutuskan cukup menikmati apa yang dapat dinikmati tanpa harus berenang dalam perasaan yang dalam.
Ponselku tak berhenti berbunyi sejak aku mengantar Friska pulang. Gadis itu terus-terusan menghubungiku. Entah apa lagi yang ia ingin sampaikan padaku.
Aku menghela nafas panjang sambil menatap layar ponselku tanpa berbuat apa-apa.
"Bro, diangkat dong. Berisik!" Sahut Aan dari sebelahku sambil menunjuk benda pipih yang bergetar di atas mejaku.
Aku mengambilnya lalu menekan tombol merah agar panggilan itu terhenti. Kumatikan segera ponsel tersebut dan meletakkannya kembali ke meja.
"Eh, ntar kalo Bos nyariin gimana?" Seru lelaki di sebelahku sedikit gusar melihat aksiku.
"Kan ada telpon kantor. Ada elu juga," sahutku acuh sambil mengambil lembaran teratas dari setumpuk kerjaan di depanku dan mulai memeriksanya.
"Yeee, si Bambang! Dikate gue opis boi apa!" Ujarnya manyun.
"Adalah tampang dikit."
Sahutanku membuat Aan mengumpat dan mengangkat tangannya hendak memukulku membuatku tertawa. Aku tahu ia hanya becanda.
"Siapa sih? Dari tadi ponsel elu ribut banget?" Tanya Aan setengah berbisik, mendekatkan diri ke arahku. "Pasti cewek lagi, ya?"
Aku hanya diam mencoba tak menggubrisnya. Dia memang tahu kebiasaanku
"Faheem, Faheem. Elu mau tobat kapan sih? Inget umur...," gumamnya mirip sebuah keluhan.
Aan dan aku memang cukup dekat sejak kami ditempatkan di divisi yang sama dan duduk bersebelahan. Ia memang bukan orang yang sealim itu tapi juga masih tahu batas dan menjaga dirinya tetap beradab.
Aku hanya diam berusaha tak menggubris apa yang baru saja ia katakan.
Sejujurnya, aku sedikit lelah dan bosan dengan apa yang aku lakukan. Awalnya memang menyenangkan, berpetualang tanpa hambatan. Namun semakin lama, rasanya ada sesuatu yang kurang.
Dan sekuat itu aku menghempaskan rasa itu jauh-jauh karena jika itu harus berhubungan dengan perasaan, aku akan menolaknya mentah-mentah.
***
(*) = Teman Tapi Mesra

Comments
Post a Comment