"Faheem...," panggilan lembut dari arah pagar pembatas membuatku menoleh ke asal suara.
Di sana kumelihat seorang wanita berparas ayu dengan rambut panjangnya yang terikat menjadi satu, tersenyum manis ke arahku yang sedang bermain pasir di taman sekolah.
Wajahku pun menjadi sumringah saat itu juga dan segera berlari menuju sosok yang sudah kunanti sejak pulang tadi.
"Ibuu!" seruku membuat wanita itu tertawa kecil. Ia mengangkat tas ranselku menunjukkan bahwa barang-barangku sudah diambilnya.
Setelah membuka pagar pembatas, aku pun segera menabrak tubuh itu dan memeluknya erat.
"Duuh, kamu kangen banget yaa sama Ibu," godanya membuatku bersembunyi di balik roknya sembari mengangguk perlahan.
"Ayo pulang. Ibu udah bikin puding kesukaan kamu," ujar wanita itu masih tersenyum sambil mengelus kepalaku.
Aku pun mengangguk dengan semangat lalu menggandeng tangan Ibuku, berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di depan TK aku bersekolah.
***
"Tapi kamu selalu sibuk, Mas! Kamu gak pernah punya waktu lagi buat aku dan Faheem," Ibu berucap lirih dengan deraian air mata yang sedari tadi tidak berhenti.
Aku hanya dapat menahan nafasku agar keberadaanku di dalam lemari pakaian tidak mereka ketahui. Dadaku bergemuruh, sedikit sesak menyaksikan pertikaian kedua orang tuaku untuk kesekian kalinya.
Ayah menyisir kasar rambutnya ke belakang lalu menatap tajam ke arah Ibu. "Tapi aku lakukan ini untuk kalian, Shinta!"
"Aku gak butuh hartamu, Mas! Aku menikahimu karena kamu," suara Ibu bergetar. Tatapannya berubah nanar. "Kemana lelaki yang dulu mencintaiku-"
"Aku masih mencintaimu!" sergah Ayah cepat.
Ibu tiba-tiba berdiri dari duduknya lalu meraih tepi kerah jas yang Ayah kenakan dan mencengkeramnya kuat-kuat, menatap ayahku dengan penuh permohonan. Ayah menjadi bingung karenanya.
"Kalau gitu bawa aku keluar dari sini, Mas! Aku sudah gak tahan tinggal di sini!"
"Shinta...," Kulihat ayah berusaha menahan emosinya.
"Semua orang membenciku tanpa alasan. Aku gak suka, Mas. Bawa aku kelua-"
Plak!
Tamparan itu membuatku sedikit terkesiap dan langsung spontan menutup mulutku agar tak mengeluarkan suara. Ibu juga terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja Ayah lakukan.
Ibu memegangi pipinya yang memerah. Air mata sudah mengalir semakin deras namun tak ada isakan yang mengikutinya.
Hatiku semakin sakit.
"Sudah cukup! Aku capek mendengarkanmu bicara yang tidak-tidak tentang orang-orang di sini! Biasakan dirimu karena kita tidak akan pergi kemana-mana!" desis Ayah lalu melangkah lebar-lebar keluar kamar dan terdengar suara pintu dibanting dengan kerasnya sampai aku terlonjak kaget.
Perlahan Ibu terduduk kembali di pinggiran tempat tidur lalu isakan kerasnya mulai pecah. Sejadi-jadinya.
Aku, tanpa sadar, mengeluarkan air mata. Dan tanpa sadar pula, aku benci lelaki itu...
***
Dari balik tirai jendela kamar di lantai dua, aku bisa melihat Ibu berjalan perlahan dalam temaramnya malam, membuka pagar belakang rumah, yang sepi dari penjagaan, lalu berjalan keluar sedikit tergesa menuju sebuah mobil yang sepertinya sudah menunggunya.
Terlihat seorang lelaki, menuntun Ibu saat ia hendak masuk ke dalam mobil.
Ini sudah hampir tengah malam, Bu. Apa yang Ibu lakukan selarut ini dengan orang asing?? Siapa lelaki itu, Ibu??
Namun semua teriakan itu hanya terlontar sebatas dalam pikiranku. Aku hanya dapat mencengkeram tirai tanpa bisa berkata apapun, kecuali merasa terkhianati, memandang mobil yang membawa Ibu pergi menjauh dan tak pernah kembali...
***
"Tuan Muda!"
Aku tersentak kaget dan spontan kedua mataku terbuka saat itu juga. Jantungku berdebar cukup hebat, dengan segera aku bangkit dari tidurku. Kuusap dahiku perlahan yang ternyata sudah mengeluarkan keringat dingin. Nafasku sedikit tersenggal.
"Tuan Muda!"
Ketukan yang semakin lama berubah menjadi gedoran itu, tak berhenti terdengar di pintu kamarku, membuatku tersadar kalau aku sedang berada di rumah Kakek.
"Y..ya, sebentar!" Aku pun turun dari tempat tidur dan menyambar kaos oblongku yang kusampirkan di sofa lalu memakainya sambil berjalan ke pintu.
"Ah, Pak Somat," ujarku setelah membuka pintu dan mendapati asisten Kakek sedang berdiri di sana membawa sebuah kotak.
"Sudah jam setengah delapan. Tuan Muda bersiap dulu, lalu sarapan," ujar pria baruh baya itu sembari mengamati wajahku.
"Ada apa? Ada iler?" tanyaku jengah sembari mengusap pinggiran mulutku.
Pak Somat tertawa pelan mengggelengkan kepalanya tapi kemudian wajahnya berubah kuatir. "Tuan baik-baik saja? Apa...mimpi lagi?"
Aku sedikit terkesiap dengan tebakan jitunya namun berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa itu adalah benar. Kuulas senyum tipis di bibirku. "Nggak kok, Pak. Capek aja kemarin habis lembur."
Lelaki itu menghela nafas. "Tuan gak perlu lembur kalau Tuan-"
"Ya udah, saya mandi dulu," potongku tak mau membahas hal tersebut lebih lanjut dan hendak menutup pintu.
"Eh, tunggu, Tuan!" seru Pak Somat sambil menahan gerakanku.
"Apa lagi?"
"Ini," Ia menyerahkan kotak yang ada di tangannya padaku membuat dahiku berkerut. "Biar keren dikit."
Aku menggeleng tak percaya. Pasti Kakek yang menyuruhnya. Setelah aku mengucapkan terima kasih, Pak Somat pamit untuk menyiapkan segala sesuatu dan aku pun juga bersiap-siap.
Kubuka kotak yang ada di tanganku yang ternyata berisi sebuah jas berwarna hitam, celana berwarna senada serta kemeja putih bersih ditambah dengan sebuah dasi, terlipat rapi dan juga tampak mahal. Walaupun aku akan merasa sangat tidak nyaman, namun demi memenuhi janjiku pada Kakek sepertinya aku harus mengenakannya sepanjang hari.
Akupun segera menuju kamar mandi dan membersihkan diriku. Setelah selesai, kuraih pakaian yang paling kuhindari itu dan memakainya. Kupatut pantulan diriku di cermin, memandangnya dalam-dalam. Bayangan yang ada di hadapnku ini terlalu mengingatkanku pada seseorang. Itulah mengapa aku tak suka berpakaian seperti ini.
Segera kusingkirkan sosok itu dari benakku dan merapikan apa yang kupakai kemudian menyisir rambut setengah basahku. Setelah kurasa sudah pantas, aku pun segera keluar kamar untuk menemui Kakek.
Sepanjang berjalan menuju ruang makan, aku memikirkan bagaimana bosannya nanti suasana di ruang rapat membuatku sedikit enggan untuk datang tapi biasanya mereka akan menyediakan makanan yang sunggug lezat saat istirahat siang. Yah, setidaknya ada sesuatu yang dapat kunikmati nanti.
"Ma Syaa Allah. Cucu Kakek ternyata gantengnya gak kalah kayak Marlon Brando!"
Aku memutar bola mataku malas mendengar, entah itu pujian atau sindiran Kakek saat aku melangkah mendekatinya di ruang makan. "Kakek jadul banget sih tontonannya."
Lelaki tua itu hanya terkekeh pelan atas komentar balasanku. Ia pun mengisyaratkan untuk duduk di dekatnya dan aku menurutinya. Di meja makan sudah tersedia roti panggang berlembar-lembar beserta segala olesannya, buah-buahan segar, dan bubur ayam. Belum lagi beberapa buah pitcher yang berjejer berisi jus.
Aku memandangi meja yang penuh itu membuatku bertanya-tanya siapa yang akan menghabiskan semua itu.
"Kakek sarapan seperti ini setiap hari?" Tanyaku takjub sembari meraih serbet di dekat piringku dan meletakkannya di atas pangkuan.
"Gak," ucapnya enteng sambil menyesap cangkir yang berisi teh.
Dahiku berkerut.
"Kakek cuman minum teh, makan roti gandum sama obat," Kakek menjelaskan sembari mengambil selembar roti berwarna cokelat itu lalu mengunyahnya.
"Terus kenapa sekarang segini banyak?"
"Karena kamu dateng ke sini. Kakek gak tahu kamu sukanya apa. Jadi ya... Kakek suruh buatin semua ini."
Mendengar jawaban Kakek membuat hatiku mendadak menghangat. Aku tersenyum samar.
"Faheem gak pernah sarapan, Kek," gumamku sembari mengambil beberapa potong buah segar ke atas piringku.
Kakek menatapku takjub. "Oh ya? Pantes kamu kurus begitu!"
Aku hanya terkekeh pelan. Belum tahu Kakek kalau ada roti sobek di perutku.
Saat kami sedang menikmati sarapan kami, Kakek pun menjelaskan hal apa saja nanti yang akan dibahas di pertemuan kali ini. Aku hanya mengangguk-angguk sekedar formalitas selebihnya aku lebih fokus pada makananku. Toh nanti aku juga tidak akan berbuat apa-apa selain mendengarkan, atau tidur mungkin.
Tiba-tiba Kakek bertanya padaku, "Mana tunanganmu? Belum ketemu juga?"
Aku berhenti mengunyah, meletakkan garpuku lalu memandang ke arah Kakek sedikit tak suka.
"Kek, Faheem gak ngerti kenapa Kakek sampai berbohong kayak gitu. Untuk apa, sih? Lagian, pertunangan itu bukan sesuatu hal remeh yang bisa dibuat mainan, Kek," ucapku panjang lebar hampir tanpa jeda dan dalam satu tarikan nafas.
Tentu saja mendengar aku berkata seperti itu, Kakek langsung menghentikan kegiatan makannya dan memandangku dengan takjub cukup lama tanpa berkata apapun. Aku menjadi jengah karenanya.
"Kamu gak sakit kan, Heem?" tanya Kakek perlahan memegang dahiku.
"Apa sih, Kek...," sergahku sedikit malu sambil bergerak menghindar.
"Ma Syaa Allah... ini bener Faheem, cucu Kakek? Yang suka gonta-ganti cewek itu?" tanya Kakek semakin memandangku sedemikian rupa.
Aku hanya diam sedikit tertunduk sambil menyibukkan diri dengan kembali mengunyah sarapanku. Kakek malah terkekeh melihat aku yang salah tingkah. Aku sendiri juga heran mengapa kalimat itu dapat meluncur begitu saja dari mulutku. Apalagi bagian yang terakhir...
"Kakek bohongnya ke kamu...," ucap Kakek kemudian setelah puas tertawa.
Aku sontak mengangkat kepalaku kembali menatapnya, meminta penjelasan.
"Kakek gak pernah bilang ke keluarga besar kalau kamu sudah tunangan."
Aku semakin melongo. Sepertinya gagal paham. "Apa maksudnya? Kakek nge-prank Faheem gitu?"
Lelaki tua itu menghela nafas panjang sebentar sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya dengan menatapku serius, "Kakek hanya ingin kamu mulai berpikir serius soal pasangan hidup, Heem. Usiamu sudah gak muda lagi. Mau sampai kapan kamu begitu?"
Mata tua itu menatapku penuh harap. Mungkin ia sudah menyerah atas keputusanku yang tidak mau dilibatkan urusan keluarga yang berhubungan dengan bisnis, harta dan sejenisnya namun sepertinya untuk urusan ini Kakek pantang menyerah.
"Dan ternyata kamu juga seserius itu menanggapi omongan Kakek, kan? Jadi rencana Kakek bisa dibilang berhasil," sambung Kakek diikuti dengan ekspresi kemenangan.
Aku semakin tak mengerti maksud kakekku ini.
"Buktinya kamu sampai bela-belain cari perempuan untuk kamu jadiin tunangan," Senyum Kakek semakin lebar.
"A...apa?" Aku semakin tergagap. Kok Kakek bisa tahu?
"Jadi... kapan kamu bawa Ameera ke sini?" tanya Kakek masih dengan wajah sumringahnya.
***

Aku jadi ikut2an sumringah baca nya nih,, campur kepo 😂
ReplyDelete