Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 10



Pandangannya berhenti saat mata kami bertemu kembali membuatku merasa seperti maling yang tertangkap basah.

***



"Ayolah, Meer. Pliiiis!"

Hesti mulai memasang mata kucingnya sambil sambil menakupkan kedua tangannya, memandangku memohon.

Aku menghela nafas panjang. Kalau sudah begini aku jadi tak tega menolak ajakannya untuk ikut menyimak talk show di kampus yang kabarnya mendatangkan beberapa alumni kampus kami yang cukup sukses di bidang mereka masing-masing.

Jujur saja, aku tidak begitu tertarik hadir di acara-acara seperti ini karena memang aku tak suka berada dalam kerumunan orang banyak. Aku lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan kampus bukan karena aku ingin belajar di sana, tapi karena aku lebih menyukai suasana hening dan sepi.

Ya, itulah aku. Tak suka keramaian dan tidak terlalu berusaha untuk mempunyai teman yang banyak. Sampai aku hampir lulus kuliah ini pun temanku bisa terhitung dengan dua telapak tangan saja. Dan Hesti termasuk salah satunya. Itupun juga bukan teman yang aku dapat curahkan segalanya.

Aku lebih suka menyimpan segala sesuatunya sendiri, rapi di dalam hati.

Kuanggukan kepalaku pelan membuat Hesti bersorak kegirangan lalu segera menyeret diriku ke arah gedung serba guna dimana talk show tersebut diadakan. Dan seperti dugaanku, sudah banyak mahasiswa yang berebut untuk masuk membuatku sedikit susah  bernafas.

"Ayoo!" Hesti tambah menarikku membelah kerumunan membuatku merasa jengah karena harus terhimpit kanan kiri. Belum lagi bersentuhan dengan makhluk berlainan jenis walaupun tak sengaja, aku jadi semakin risih.

Ini acara apa sih? Sampai heboh kayak mau nonton konser ajah. Apa karena gratis ya jadi ramai...

"Biar dapet di depan!" Ujarnya sambil terus menyeretku sedikit berlari.

Dan aku hanya pasrah saja.

Untung saja kami benar-benar dapat duduk di barisan depan, tepat di depan meja para pembicara yang ada di atas panggung, berjarak sekitar dua meter dari kursi kami.

"Ayo duduk!" Hesti sedikit menarikku untuk menempati kursi kosong di sebelahnya.

"Duh, Hes...," Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru yang sudah hampir penuh dengan manusia, mulai merasa tak nyaman. "...aku keluar aja ya-"

"Aah, Ameera gak asik, ah! Temenin bentaaar aja. Nanti kalau alumni  kita yang kerja di perusahaan yang aku incar selesai presentasi, kita keluar deh. Ya? Ya? Pliiis!"

Aku menggigit bibir bawahku sedikit ragu lalu akhirnya mengangguk lemah. Dari dulu, memang selalu sulit bagiku untuk berkata "tidak".

Tak berapa lama, seorang mahasiswa yang bertugas sebagai MC pun membuka acara tersebut. Pembicara pertama pun muncul disambut dengan tepuk tangan yang riuh. Acaranya yang berlangsung, cukup informatif dan menarik menurutku. Mungkin karena dikemas dalam bentuk talk show dan sharing pengalaman para alumni, yang jarak usianya tidak terlalu jauh dengan para mahasiswa sehingga terkesan santai. 

Tapi tetap saja, menyendiri lebih enak untukku dan aku sedikit mengantuk dibuatnya.

Setelah dua pembicara yang membagikan kisah mereka bekerja di perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia, coffee break pun tiba. MC mempersilahkan kami untuk mengambil konsumsi berupa snack, dan minuman yang di sediakan di meja-meja berjejer di dekat tembok ruangan yang tentu saja menjadi sasaran para mahasiswa dengan cepat, termasuk Hesti.

Aku menggeleng perlahan saat Hesti mengajakku untuk mengambil makanan. Walaupun memang sedikit lapar, tapi melihat betapa gaharnya mahasiswa-mahasiswa berebut piring dan berdesak-desakan, yang mungkin sebagian besar dari mereka adalah anak kos dan aku dapat memakluminya, aku lebih baik menunggu sepi dengan resiko tidak akan ada yang tersisa untuk dimakan.

Setelah kulihat antrian pengambil coffee break sudah hampir sepi, akupun berkata pada Hesti, yang sedang sibuk melahap kudapannya, untuk mengambil secangkir kopi sebagai penawar kantukku yang disambut anggukan kecil karena mulutnya sibuk mengunyah.

Aku berjalan ke salah satu meja dan bernafas lega ternyata minuman yang kuinginkan masih tersisa. Setelah menuang secukupnya ke cangkir putih khas katering, akupun beranjak kembali menuju kursiku.

Namun baru saja dua kali melangkah, seseorang menabrakku. Atau aku menabrak orang itu. Entahlah, yang pasti kopi yang ada di tanganku tumpah dengan suksesnya mengenai kemeja orang tersebut.

"Astaghfirullah!" Pekikku cukup keras melihat noda hitam pekat yang terpampang di depanku.

Sedikit panik aku bergegas meletakkan cangkir yang hampir kosong yang ada di tanganku kembali ke meja, lalu meraih tisu yang terlihat olehku secara sembarangan dan bergegas kembali ke orang tersebut.

Dan buru-buru kugosokkan semua tisu yang kupegang dengan maksud menghilangkan atau setidaknya mengurangi noda tersebut seraya berkali-kali mengucapkan maaf.

Sungguh, aku tak berani menggerakkan kepalaku sedikitpun sambil terus menggosok-gosok kemeja tersebut yang malah membuat bekas tisu menempel semakin banyakdan aku semakin panik karenanya.

"Sudah, gak papa," Terdengar suara pelan namun sedikit berat, tertawa pelan berusaha menghentikan usahaku yang sia-sia.

"Tapi-"

Dan setelahnya kedua tanganku sudah tergenggam pelan oleh tangan lain yang baru aku sadar kalau itu milik seorang laki-laki membuatku segera membulatkan mataku dan menengadahkan kepalaku.

Mata kami bertemu untuk beberapa saat, dan ia kemudian tersenyum. Mendadak aku menjadi kaku. Wajahku pasti sudah merah padam karena menahan malu.

"Kak Dion!"

Sebuah panggilan membuat kami berdua menoleh ke asal suara. Melihat penampilannya sepertinya mahasiswa ini salah satu panitia acara yang sedang berlangsung. Di tangannya tampak membawa sebuah walkie talkie.

Akupun segera menarik tanganku dan kembali menunduk sembari mundur selangkah menjauhinya.

"Sudah si- Ya ampun! Itu bajunya kenapa, Kak??" Panitia itu terlihat terkejut sekali melihat noda yang cukup kelihatan di kemejanya yang berwarna terang.

Aku semakin menunduk dan rasa bersalahku seketika membesar. Kulirik sekilas sosok jangkung di dekatku masih tersenyum ke arah mahasiswa panitia itu.

"Biasa, kepleset. Udah mulai?" Si lelaki jangkung beranjak menjauhiku untuk mendekati panitia tersebut.

"Kakak bawa ganti?" tanya panitia itu sedikit panik. 

"Gak papa. Ketumpahan kopi kan lagi ngetrend," balasnya bergurau.

Aku semakin merasa bersalah.

Lalu mereka terlibat pembicaraan dan berjalan semakin menjauh, menuju belakang panggung meninggalkan aku yang masih terlihat seperti orang bodoh. Yang kulakukan hanya memandangi punggung lebar lelaki itu semakin jauh.

Namun saat mereka hendak menghilang di balik tembok, ia menyempatkan diri untuk menoleh ke arahku. Aku sedikit terkesiap melihatnya dan semakin malu saat ia menyunggingkan senyumnya.

Buru-buru kutundukkan kepalaku dan bergegas kembali ke kursiku.

"Darimana sih? Lama banget," ucap Hesti begitu aku duduk di sebelahnya.

Aku tak menjawab pertanyaan temanku itu, sibuk mengatur debaran jantungku yang entah mengapa berderu lebih cepat dari biasanya, membuat kantukku hilang seketika.

Apa ini? Tanyaku pada diri sendiri seraya memegangi dadaku.

"Pembicara ketiga ini dari perusahaan yang aku pengenin, Meer," ucap Hesti tiba-tiba mengagetkanku karena sudah bergeser mendekat padaku. "Nanti setelah itu kita pulang deh. Janji!"

Aku hanya mengangguk, mengiyakan. Bahkan aku sendiri sudah lupa kalau ia berjanji seperti itu. Aku masih sibuk dengan rasa aneh yang sedang kualami ini....

Lalu MC tadi pun kembali ke panggung untuk memulai acara. Setelah memberikan kalimat-kalimat perkenalan untuk pembicara berikutnya, ia pun menyambung dengan sedikit berteriak,"Mari kita beri sambutan yang meriah untuk Dion Saputraaa!"

Riuh tepuk tangan pun segera terdengar, begitu juga aku yang melakukan hal yang sama walau sekadarnya sambil memperhatikan di mana pembicara itu akan keluar.

Dion? Kayak pernah denger...

Dan kemudian sebuah sosok muncul di atas panggung, membuatku menjadi syok tiba-tiba.

Di sana, berdiri seorang laki-laki dengan noda kopi di kemejanya, menyapa semua yang hadir di ruangan itu dengan penuh percaya diri yang aku tahu semua sudah mulai sibuk  berkasak kusuk mengomentari noda yang terpampang nyata itu.

"Ah, ini ya?" Ucapnya sambil menunduk melihat jejak yang aku tinggalkan. "Tadi ada gadis cantik yang mau saya ajak kenalan. Tapi bukannya kasih nomer telpon malah ninggalin noda."

Dan tawa pun seketika itu pecah mendengar  penjelasan anehnya yang tentu saja membuatku bertanya-tanya apa maksud kalimat itu. 

Itu...maksudnya aku? Atau siapa?

Saat para hadirin masih sibuk tertawa, lelaki itu mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu. Pandangannya berhenti saat mata kami bertemu kembali membuatku merasa seperti maling yang tertangkap basah.

Ia segera mengulas senyum yang sepertinya memberi efek tersendiri bagi kaum hawa karena terbukti para mahasiswi yang duduk di sekitarku termasuk Hesti sudah berbisik heboh memuji ketampanannya.

Aku? Aku sibuk memikirkan noda kopi itu walaupun tak dapat kupungkiri detak jantung semakin tak beraturan yang kuanggap karena rasa bersalahku padanya.

Tiba-tiba ia sedikit memainkan ujung hidungnya seperti ingin menggoda entah siapa, namun aku merasa ia begitu untukku karena matanya terlalu presisi memandang ke arahku.


Hal itu membuat para mahasiswi yang duduk di sekitarku menjerit semakin heboh. Termasuk Hesti.

"Ya Allah, kak Dion ganteng banget siiiih!" Hesti sudah menggoyang-goyang tubuhku gemas.

"Kenapa kita dulu gak pernah ketemu sama dia, yaaa??" Seru mahasiswi yang lain.

"Kakaak, saranghaee!"

Aku melongo untuk beberapa saat lalu...

Blaaaaaasss...

Seketika itu kurasakan wajahku menghangat, mungkin juga memerah membuatku segera menundukkan kepalaku diikuti dengan dentuman keras di dada.

Ya Allah, sepertinya Ameera jatuh cinta...

For the first time...

***

Aku sontak membuka mataku dan merasa dadaku sedikit sesak lalu berusaha mengatur nafasku untuk kembali normal.

Perlahan, kutegakkan tubuhku untuk duduk.

Jam berapa ini? Batinku sembari mencari ponselku yang ternyata tergeletak di samping bantalku.

Setelah berhasil meraihnya, kulihat waktu yang ditunjukkan di layar kecil tersebut.

Jam enam lebih sepuluh.

Ah, ya. Aku ingat semalam aku sulit untuk memejamkan mataku hingga adzan subuh terdengar. Akhirnya aku tertidur setelah melakukan sholat. Terhitung baru satu setengah jam aku terlelap.

Tumben aku mimpi seperti itu lagi. Padahal mimpi itu berhenti sekitar tiga tahun yang lalu. Apa karena semalam aku bertemu dengan Dion karena itu mimpi itu muncul kembali?

Aku tertawa miris dalam hati betapa ternyata lelaki itu masih membawa dampak sebegitu besarnya padaku.

Tiba-tiba kurasakan kepalaku sedikit pusing. Aku pun bergerak turun dari tempat tidur ke kamar mandi untuk mandi agar badan ini lebih terasa segar.

Saat aku keluar kamar, terlihat suasana rumah sepi. Aku tak melihat keberadaan Rika. Mungkin ia pergi ke pasar karena minggu ini giliran ia belanja. Tapi baguslah temanku itu tidak ada di rumah. Semalam dia sibuk mengetuk-ketuk pintu kamarku menanyakan apa yang terjadi namun kuacuhkan. Jadi aku terbebas sebentar dari rasa penasarannya.

Setelah membersihkan diri, aku pun berjalan kembali ke kamar untuk mengambil ponselku kemudian menuju dapur untuk minum. Kuambil segelas air dari dispenser kemudian duduk di kursi makan dan meneguk perlahan minumku seraya memeriksa ponsel.

Tak ada satupun panggilan atau pesan yang masuk dari lelaki yang bertemu denganku semalam. 

Hah, Ameera apa yang kamu harapkan? Runtukku dalam hati sambil memukul pelan kepalaku.

Ah, Dion. Mengapa dia ada di sini, sih? Setelah aku berusaha mengubur kenangan lamaku di kota asalku bersamanya, ia malah muncul begitu saja di depanku.

Alasan terkuatku menerima pekerjaan di kota metropolitan nomor satu di Indonesia ini karena dirinya. Terlalu banyak kenangan dan tekanan yang menyangkut tentang Dion akhirnya membuatku hengkang dari rumah.

Butuh waktu cukup lama untuk akhirnya aku menerima kenyataan bahwa dia sudah meninggalkanku. Bersyukur aku bertemu dengan Rika dan dunia baru yang mengalihkan perhatianku.

Namun sekarang? Aku mendesah panjang.

Hanya dalam hitungan detik, pertahanan yang aku bangun luruh begitu saja.

Ternyata... aku masih lemah di depannya...

***

Assalamu'alaykum. 
Gimana? Gak kerasa udah Part 10 aja yaaa. Apakah kalian merasakan ke-absurd-an semakin menjadi di cerita ini? Hehehe. Anyway, ternyata...setelah nulis ulang, ceritanya jadi berubah jauuuh banget tapi aku seneng sih bisa bikin cerita dengan jenis baru. Karena aku tuh terjebak dalam pola cerita yang ceritain cinta antar sahabat gitu lah, yang pasti berbau-bau friendzone hihi. Nah, peccadillo tuh friendzone banget deh! Makanya di PPN ini aku pengen bikin tokoh utama yang bener-bener baru ketemu. Jadilah Faheem sama Ameera ini (MeeFa_Sol couple kalo kata nita ekekekek). Ide dasarnya sama sih, tapi pengembangannya ternyata jauh berbeda hehe. 

Yah, semoga masih suka dan mau membersamaiku sampai tamat yaaaa. Makasi yang udah vote dan komen. Btw, jangan lupa baca Al-Qur'an juga ya karena itu yang terutama. Cerita receh ini mah apalah atuh!

Saranghae

D.S.L




















Comments

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...