Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 12



Sepertinya Tuhan sedang menghukumku hari ini...

***

"A...apa?" Aku semakin tergagap. Kok Kakek bisa tahu?

"Jadi... kapan kamu bawa Ameera ke sini?" tanya Kakek masih dengan wajah sumringahnya.

Aku menatap Kakek dengan terkejut sangat, tak menyangka ia akan tahu tentang Ameera, bahkan tahu nama gadis itu.

"Kakek... Kakek tahu Ameera darimana?" Tanyaku perlahan. Tiba-tiba perasaanku tak enak.

"Maksudmu Ameera Zoya Annaila?" Kakek mengangkat sebelah alisnya.

Aku semakin tegang mendengarnya. Aku saja bahkan tidak tahu nama lengkap Ameera...

"Gak cuma namanya yang Kakek tahu," Kakek melanjutkan seraya memandangku tajam dan mencondongkan tubuhnya mendekatiku. "Kakek tahu nomer telpon, tanggal lahir, alamat rumah, jumlah saudaranya, kota asalnya-"

"Ameera bukan asli sini?" Dan aku sempat-sempatnya bertanya dengan bodohnya.

"...bahkan nomer BPJS Ameera. Kakek tahu semuanya."

Aku menelan ludahku susah payah. Aku memang tahu Kakek akan dengan mudahnya mendapatkan informasi tentangku atau siapapun yang ia inginkan namun tak kusangka akan sedetail itu.

"Jadi, kamu bisa bayangkan kan? Kakek punya daftar perempuan yang sudah pernah kamu kencani dan apa saja yang sudah kalian lakukan, " ujar Kakek pelan namun sungguh menghunjam dadaku.

Seketika itu aku merasa tak ada artinya di hadapan Kakek dan rasa bersalahku membesar.

"Kali ini Kakek serius," ucapan Kakek menyadarkanku. "Bawa Ameera untuk ketemu Kakek atau Kakek akan lakukan apapun yang Kakek perlu untuk membuatmu kembali ke sini mengurusi segalanya."

Apa??

Mataku spontan membulat . Tiba-tiba Kakek berubah menjadi sosok yang menyeramkan.

"Tuan, mobil sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang."

Suara Pak Somat sedikit membuatku terkesiap. Lelaki itu sudah berdiri di dekat kami.

Kakek mengangguk, menatapku sebentar sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan, meninggalkanku yang masih terpaku berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Aku pun segera berdiri dan menyusul mereka berusaha menjejeri asisten Kakek itu.

"Pak Somat," panggilku memperlambat langkah lelaki itu.

"Ya, Tuan Muda?" Balasnya sembari menoleh ke arahku.

Aku yakin betul segala informasi yang Kakek dapat pasti tidak lepas dari campur tangan lelaki ini. Niatku hendak bertanya apa yang sudah ia ketahui tentang Ameera tiba-tiba tertahan begitu saja di ujung lidahku. Kalaupun kupaksa untuk berbicara, Pak Somat pasti akan tetap memilih diam jika Kakek menyuruhnya untuk tidak mengatakan pada siapa-siapa.

"Kenapa, Tuan?" Pak Somat bertanya dengan memandangku sedikit kuatir.

"Gak jadi. Lupain," gumamku sambil kembali berjalan menyusul Kakek merasa percuma.

Pikiranku sibuk mengira-ngira apa saja yang sudah Kakek ketahui tentang apa yang selama ini aku lakukan membuatku semakin gelisah.

Setelah sampai di lobi depan rumah, sebuah mobil sudah menanti kami. Kulihat Kakek sudah duduk di bangku belakang supir. Akupun bergegas untuk masuk.

"Tuan Muda mau duduk mana?"

Pertanyaan itu menghentikan gerakanku. Tanpa sadar tanganku hendak membuka pintu pengemudi. Semua orang memandangiku sedikit bingung. Akupun berdeham sebentar, berlagak sok tenang, lalu bergegas berjalan menuju bagian penumpang.

Setelah masuk dan duduk di sebelah Kakek, aku segera membuang mukaku ke arah jendela. Walaupun diam-diam tapi aku dapat melihat Kakek terkekeh pelan melihat kelakuan bodohku namun aku pura-pura tak menyadarinya.

Tiba-tiba pikiranku melayang pada Ameera.

Hmmm, sedang apa gadis itu sekarang?

***

Kami tiba di tempat pertemuan tepat waktu. Kulihat telah banyak keluarga besarku berdatangan dan duduk di tempat mereka masing-masing.

Kakek memberi isyarat padaku untuk duduk di sebelahnya, yang berarti akan menjadi perhatian seluruh mata yang ada di ruangan ini, Aku pun segera menolaknya halus dengan menggelengkan kepalaku perlahan seraya berjalan menuju bagian belakang kursi-kursi yang tertata.

Aku tak ingin semakin menjadi sasaran kebencian orang-orang yang Ada di ruangan ini lebih lagi. Sejak kami melangkah masuk ke ruangan pun, semua mata seperti ingin melahapku hidup-hidup.

Bayangkan dirimu menerima perlakuan seperti itu sejak dirimu masih kanak-kanak...

Setelah aku duduk, seseorang menghampiriku dan memberikan sebuah booklet cukup tebal dengan senyum ramahnya. Aku menebak dia pasti karyawan yang diperbantukan karena tidak mungkin keluarga besarku akan tersenyum seramah ini padaku. Akupun membalasnya dengan senyum saat kuterima benda itu.

Kubuka-buka perlahan untuk membaca isinya, yang membahas tentang pembukaan resort cabang baru di Lovina, Singaraja - Bali lengkap dengan denah lokasi, foto-foto dan juga para karyawan yang bekerja di sana.

Semua kubaca sekilas-kilas. Apalagi saat aku sampai pada halaman laporan yang membahas saham dan sejenisnya membuatku langsung menutup booklet tersebut.

Aku menghela nafas sebentar dan berharap acara ini segera dimulai agar segera berakhir.

Saat mengedarkan pandanganku mencari sesuatu yang dapat kumakan, kudengar seseorang memanggilku pelan.

"Faheem?"

Akupun menoleh ke asal suara dan sedikit tercekat mendapati siapa yang kulihat, berdiri di dekat aku duduk. "Bang...Azam?"

Lelaki yang lebih tua dariku Lima tahun itu tersenyum lebar dan bergegas mendekatiku dan duduk di sampingku.

"Ma Syaa Allah. Beneran ini Faheem?" Bang Azam memandangiku tak percaya membuatku jadi jengah.

"Iya, Bang. Beneran kok bukan hantu."

Sepupuku ini terkekeh pelan lalu menepuk-nepuk bahuku perlahan."Tumben kamu dateng, Heem. Kirain waktu Kakek kasih pengumuman di grup itu hoax."

"Hmmmm jadi kalian suka ghibahin aku di grup itu ya?" Aku manyun membuat lelaki berjanggut tipis itu terkekeh lagi.

"Salah siapa kamu selalu left grup kalau di-add? Kayak ingus keluar masuk," sindir Bang Azam.

"Dih, salahin tuh Kakek yang ngotot masukin grup. Udah tau aku bikin panas suasana malah terus-terusan diajak!"

Bang Azam hanya menggeleng perlahan sambil tersenyum, "Terakhir kamu dateng kan yang pake celana pendek itu kan?"

"Inget aja sih, Bang. Malu tahu."

"Masak sih Faheem tahu malu? Hehe."

Entah mengapa, walau perkataan Bang Azam yang terakhir itu hanya gurauan, tetap saja sedikit membuatku merasa tak enak terhadap diriku sendiri.

Mungkin aku memang sudah terkenal tak tahu malu di keluargaku apalagi mengetahui Bang Azam yang religi dan berpenampilan sesuai sunnah yang diajarkan Rasulullah, semakin membuatku bagaikan tenggelam dalam kubangan lumpur.

"Bang Azam tumben dateng. Paman Darto mana?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan,menanyakan ayahnya.

"Qodarullah, Bapak lagi gak enak badan jadi abang disuruh gantiin. Lagian, kalo gak sakit mungkin abang juga tetep minta buat dateng. Soalnya pengen liat kamu beneran dateng atau gak."

Aku tertawa pelan sedikit miris. "Jadi abang dateng gara-gara aku, dong..."

"Ya iyalah!" Bang Azam malah semakin antusias. "Aku kangen banget sama kamu. Terakhir kamu dateng itu pas kamu baru lulus kuliah, kan? Udah berapa tahun?"

Aku sedikit terhenyak mendengar fakta yang baru saja kudengar. Sudah selama itukah aku pergi dari sisi Kakek? Dua belas tahun?

Seketika aku menoleh ke arah dimana lelaki tua itu duduk. Ia sedang meletakkan kedua tangannya di atas tongkat hitamnya dan mengobrol dengan entah siapa itu yang ada di sebelahnya, aku tak hafal.

Tanpa sadar aku menghela nafas panjang.

"He misses you," gumam Bang Azam membuatku menoleh kembali padanya seolah tahu isi pikiranku.

Ia juga sedang memandang ke arah Kakek.

"A lot," sambungnya seraya menatapku kembali. "And I miss you too."

Aku membalas tatapan Bang Azam yang tulus itu. Keluarga Paman Narto memang satu-satunya keluarga yang tidak membenci diriku. Mungkin karena sedari awal mereka memang tidak berorientasi pada hal duniawi. Aku dapat melihatnya pada Bang Azam yang religi sedari kami kecil. Dulu kami belajar mengaji bersama di rumah Kakek.

Ah jika dipikir, betapa dulu aku dan sekarang sangat bertolak belakang...

Aku tertawa miris dalam hati.

"Ya udah, yuk agak majuan biar gak dikira office boy kita," ujarnya sedikit bergurau sambil mencolek bahuku pelan membuatku langsung menggelengkan kepalaku.

"Ayo, gak papa. Kenapa, sih? Kalo dari belakang nanti gak denger penjelasannya," Bang Azam tak berhenti berusaha membujukku.

Aku sebenarnya juga tidak peduli jika nantinya aku paham atau tidak. Aku hanya tak ingin kehadiranku yang semakin tampak jelas, jika aku duduk di bagian depan, malah menjadi pengganggu bagi pengelihatan orang lain.

Aku merasa diriku bukanlah bagian dari mereka sehingga membuatku tak nyaman jika tiba-tiba harus duduk bersanding seperti mau Bang Azam.

"Hey," Sepupuku bersuara membuatku menoleh ke arahnya yang sudah menatapku dalam-dalam. "Kamu tahu kalau Kakek... atau bisa dibilang kamu... iya, KAMU ... punya hampir 80% saham keluarga kita ini?"

Aku menggeleng perlahan karena aku memang tahu saham Kakek paling banyak, tapi tak menyangka ternyata sebanyak itu. Pantas saja jika aku dianggap penghalang terbesar buat yang lain...

"Dengan aset sebesar itu artinya kekuasaan dan kekuatanmu di perusahaan manapun yang dimiliki Kakek jaauuuuuuuh lebih besar dari mereka yang ada di sini," jelasnya sedikit berbisik sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh orang yang hadir.

Aku mengikuti gerakannya dan mata kami bertemu kembali.

"Paham maksud abang, gak?" tanyanya melihatku diam saja.

Lalu ia menghela nafas tersenyum kecut sambil duduk di sebelahku kembali, merasa sia-sia. "Sebetulnya abang gak mau sih ngomong begitu, berasa ngajarin zolim. Hehe. Maaf ya. Maksud abang biar kamu tertarik trus pindah ke depan. Tapi ternyata gak juga, ya?"

Aku tersenyum tipis, tidak tahu harus bereaksi apa.

"Ada abang kok, Heem," ucapnya lagi sambil menepuk bahuku.

Aku menatapnya dan Bang Azam lagi-lagi tersenyum dengan tulusnya, meyakinkanku semua akan baik-baik saja. Akhirnya akupun menyetujui usulnya itu seraya bangkit dari dudukku membuat senyum sepupuku itu semakin melebar.

Kami berjalan beriringan, dengan tangannya melingkar di bahuku, tertawa kecil bersama.

Sungguh, tiba-tiba aku merindukan kebersamaan kami dulu, yang menyisakan kenangan indah di dalam ingatanku.

Saat melihatku duduk hampir di barisan depan diikuti Bang Azam, hampir semua yang hadir memandang ke arahku dengan keheranan namun menunjukkan rasa ketidak sukaan saat aku dirasa akan terlalu banyak ingin tahu.

Aku sempat mundur teratur melihat itu semua, tapi Bang Azam menepuk punggungku perlahan, memberi tanda bahwa ia selalu ada di sampingku. Ditambah tatapan Kakek yang sedemikian rupa diikuti senyum terharu bercampur bangga membuatku sedikit jengah, juga turut menguatkan diriku sehingga aku pun memantapkan diri untuk duduk di antara para pengejar harta itu.

Tak berapa lama, pertemuan itu pun dimulai. Setelah seseorang membukanya dengan kata sambutan, salah satu anggota keluarga besar, Paman Adam kalau aku tak salah ingat, mulai menjelaskan apa yang dibahas dalam booklet kali ini.

Pertemuan yang semula aku pikir akan berakhir membosankan, kali ini aku mengikutinya dengan serius. Semua hal yang tak kumengerti aku tanyakan pada sepupuku ini. Bang Azam akan menjelaskan apapun yang aku perlu tahu dan menjawab apapun yang aku tanyakan dengan sabar, walaupun terkadang terdengar bodoh. Apalagi saat lembaran booklet sudah masuk membahas tentang per-saham-an yang aku buta sama sekali tentang itu.

Ajaib.

Aku berhasil bertahan mengikuti pertemuan kali ini tanpa sekalipun memejamkan mataku di pojok ruangan.

***

"Kupikir abang gak peduli masalah begini-begini," ucapku sambil mengunyah kudapan yang di sediakan di pojok ruangan, bersebelahan dengan meja yang menyajikan makan siang yang sangat lengkap dan lezat di mataku.

Pertemuan kali ini ternyata selesai lebih cepat dari yang kukira.

Lelaki itu hanya tersenyum tipis, menyesap kopinya. "Gak tertarik beda dengan gak peduli, Heem. Abang begini biar semuanya tetap berjalan sesuai porsinya aja. Bukan kami takut diserobot tapi memastikan semua dapat sesuai haknya kecuali ada dalil atau hukum yang mengesahkan itu."

Aku sampai berhenti makan saat mendengarkan penjelasan tentang alasan mengapa Bang Azam begitu paham akan ini semua, membuatku semakin kagum pada sosoknya.

"Ngapain ngeliatin abang kayak gitu? Baru tahu ya punya abang sekeren ini?" tanyanya sambil menaik turunkan alisnya kemudian tertawa pelan sambil mengacak rambutku.

"Abang, dih!" Aku pun segera bergerak menghindari niatnya itu.

Bang Azam malah tertawa semakin keras, aku semakin manyun. Bisa turun harga diriku diperlakukan seperti anak kecil saja. Apa dia lupa kalau aku sudah berusia kepala tiga?

Tiba-tiba dari kantong jasnya terdengar adzan sayup-sayup. Ia pun meraih benda yang mengeluarkan suara tersebut yang ternyata ponselnya dan kemudian mematikannya lalu memasukkan ponselnya kembali.

"Udah Dzuhur. Sholat dulu, yuk," ajaknya sambil meletakkan cangkir kopinya ke atas meja.

Aku sedikit kikuk mendengar ajakan tersebut. "Aku... nanti aja, Bang. Abang duluan aja."

"Laki itu wajib sholat berjamaah di masjid. Ada kok di belakang."

Aku semakin kikuk dibuatnya.

"Kenapa? Kamu udah gak sholat lagi?" Bang Azam menaikkan alisnya.

"Hmm... aku masih sholat kok, Bang," gumamku nyaris berbisik.

Walaupun kilat ngalah-ngalahin The Flash, sambungku dalam hati

Mendengar jawabanku, mimik wajah Bang Azam tampak berubah sedikit tak menyangka. "Lima waktu?"

Aku mengiyakan dengan anggukan dan segera menundukkan kepalaku. Mungkin Bang Azam tak habis pikir bisa-bisanya aku masih melakukan ibadah di sela-sela perbuatanku yang berdosa itu atau sebaliknya. Yang pasti seketika itu juga aku merasa menjadi orang yang munafik di mata Bang Azam.

"Astaghfirullah. Maaf, Heem. Abang malah mikir yang nggak-nggak!"

Ucapan sepupuku dengan nada sangat menyesal itu membuatku mendongakkan kepala lagi untuk melihat ke arahnya. Hatiku terperas sedemikian rupa melihatnya sedang merasa bersalah atas perkataannya.

"Alhamdulillah kalau kamu masih ingat sholat." Ia terlihat lega.

Duh, Bang Azam semakin membuatku tak karuan saja.

"Kalau gitu ayo sholat bareng. Abang kangen sholat sama kamu, nih,"

Aku bisa berbuat apa selain mengangguk membuatnya semakin tersenyum lebar lalu merangkul bahuku.

Sepertinya Tuhan sedang menghukumku hari ini...

***

Assalamu'alaykum.
Faheem bakalan tobat gak ya? Hehe. Jazakumullahu khairan yaa masih membaca cerita receh yang makin gak jelas ini. Gak nyangka udah sampe 1K lebih aja viewnya.
Semoga bisa selalu ngasih manfaat ya buat yang mau baca.

Vote and komen yaaaJangan lupa, baca Al-Qur'an hugs yaaa.

Saranghae ❤️

D.S.L


Comments

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...