Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 13



Hanya dua detik namun duniaku seakan kembali runtuh karenanya. 

***

Aku melangkahkan kakiku perlahan memasuki pelataran kantorku dengan sedikit malas. Selain karena hari ini Rika ijin tidak masuk karena adiknya sakit, aku teringat bahwa aku masih sekantor dengan Faheem dan aku sedang dalam tahap tidak ingin melihat dirinya.

Berangkat lebih pagi adalah tindakan antisipasi dariku agar aku terhindar dari bertatap muka dengannya. Walaupun ia beda divisi denganku, aku di lantai dua dan Faheem di lantai lima, namun akses masuk karyawan hanya satu yaitu dari pintu depan. Dan aku tidak mau mengambil resiko jika ternyata aku harus bertemu.

Aku sedikit lega saat aku tiba terlihat hanya segelintir orang yang ada di lobi. Sepertinya kebanyakan staff cleaning service.

Bergegas aku menuju lift dan menekan tombol dua setelah aku masuk. Tak berapa lama, pintu itu pun terbuka di lantai yang aku tuju.

Kulangkahkan kaki menuju ruangan divisiku dengan sedikit lega karena sosok yang aku hindari tidak menunjukkan batang hidungnya. Ruanganku masih sepi, hanya ada aku.

Saat melakukan absensi di mesin finger print, waktu menunjukkan masih pukul 7.35, dua puluh Lima menit lebih cepat dari jam kerjaku.

Akupun segera duduk di mejaku dan menyalakan komputer. Sudah dapat kubayangkan deretan email berisi laporan dari berbagai divisi sudah menumpuk di inbox emailku, menanti untuk kukerjakan.

Dan tebakanku memang benar adanya setelah aku log in dan memeriksanya membuatku menghela nafas panjang.

Ternyata weekend tak membuat para karyawan juga libur menyerahkan laporan mereka, keluhku dalam hati.

Dan weekend-ku kemarin, kuhabiskan dengan kejadian yang sungguh absurd dilanjut dengan memikirkan hal yang sungguh tak berguna membuatku teringat akan hal itu lagi namun segera kusingkirkan jauh-jauh.

Aku tak ingin mood-ku berubah lagi gara-gara itu. Saat aku sedang memilah-milah prioritas laporan mana yang harus segera kukerjakan, tiba-tiba sebuah mug putih berisi teh hangat diletakkan di mejaku.

Akupun segera mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa yang menaruhnya dan sungguh tak menyangka. Jantungku seperti ingin melesak keluar.

Lelaki itu menatapku dengan pandangan antara kesal namun ingin tahu bercampur jadi satu.

"Faheem...," desisku perlahan.

How did he...

Aku pun malas memikirkan jawaban atas pertanyaanku sendiri.

Kejadian yang berhubungan dengan lelaki ini selalu saja di luar nalar dan kendaliku. Aku merasa kena kutukan dan dia adalah hukumannya...

"What are you doing here? Ini bukan tempat kerjamu-"

"You still owe me an explanation!" Potongnya cepat masih dengan pandangannya yang sama namun kali ini lebih menuntut.

Aku menatapnya kembali tak percaya ia masih saja berusaha untuk itu membuatku menghela nafas sangat panjang.

"Heem, it's even still early in the morning," Aku bangkit dari kursiku dengan gusar lalu bergegas berjalan keluar ruangan.

Apa dia sengaja datang sepagi ini hanya untuk menodongku tentang hal ini??

Berdua saja dengannya sekarang membuatku jadi tidak karuan. Sejak ia menggandengku, ah bukan, menautkan jemari kami berdua dengan sebegitunya aku merasakan hal aneh yang tidak bisa kujabarkan bagaimana rasanya. Jadi lebih baik aku menghindar saja.

Hmm, jangan-jangan alasan utama aku tak ingin melihat Faheem karena itu...

"Meer...,"

Dia lagi-lagi menyentuhkan anggota tubuhnya yaitu tangannya yang kokoh itu ke atas pergelanganku. Tidak begitu kuat namun dapat menahan gerakanku.

Aku terkesiap dan segera menarik kasar tanganku sambil menatapnya tajam. "Don't you dare..."

"Maaf," ia menyesali perbuatannya saat itu juga. "We need to talk-"

"Aku gak perlu jelasin apa-apa ke kamu, Heem!" Bentakku sambil kembali meninggalkannya dengan langkah lebarku.

"Bukan masalah itu! Aku perlu bicara yang lain...Meer!"

Padahal aku sudah berusaha untuk mempercepat kakiku namun masih saja tetap terkejar. Akhirnya aku segera membelokkan diri ke toilet wanita lalu menguncinya setelah masuk.

Saat aku bernafas lega sebentar Aku terkagetkan dengan gedoran kecil di pintu membuatku mundur beberapa langkah.

"Meer! Please! I really need to talk!" Teriak lelaki itu dari balik pintu.

Faheem Gila! Seruku dalam hati lalu merogoh seluruh sakuku dan menyadari aku tak membawa ponselku dan segera menyesali karenanya.

"Aku gak akan berhenti sampai kamu keluar!"

Akupun dibuat panik olehnya dan tanpa sadar menghentak-hentakkan kakiku saking kesalnya. Harusnya aku lari turun saja ke pos sekuriti dari pada kes sini!

Saat aku sibuk memikirkan bagaimana cara keluar dari tempat itu namun sepertinya juga tidak mungkin, aku menyadari suara gedoran dan ocehan Faheem sudah tidak terdengar.

Apa...ia sudah pergi? Atau mungkin seseorang mengusirnya?

Aku melangkah mendekati pintu perlahan, memastikan apa yang kupikirkan benar. Ragu aku untuk membuka kunci pintu tersebut namun aku juga tak bisa terus-terusan di dalam sini apalagi jika ada orang lain yang ingin memakai toilet ini.

Pelan kubuka kunci pintu dan membukanya, berusaha tidak menimbulkan suara. Aku pun keluar dengan gerakan slow motion, setelah memastikan tidak Ada sosok Faheem di sekitar situ.

Karena tidak ada tanda-tanda, Aku sedikit lega dan bergegas kembali ke kantorku.

Mungkin ia memang sudah diusir seseorang dari sana. Aku juga tidak mau tahu.

Saat aku kembali, sudah ada beberapa rekan kerjaku yang datang namun suasana kali ini sedikit berbeda. Mereka terlihat sedikit heboh dari biasanya apalagi para kaum hawa yang terlihat berkumpul di salah satu meja, sibuk membahas sesuatu dengan serunya membuatku sedikit bertanya-tanya sambil berjalan menuju mejaku.

Saat aku duduk, mataku tiba-tiba tertuju pada mug putih di atas meja. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menepis apa yang baru saja kualami, sembari meraih mug tersebut.

Kutoleh ke arah samping dan melihat Frans yang duduk di mejanya.

"Frans," panggilku perlahan membuat lelaki itu menoleh padaku.

"Ya?"

"Mau teh?" Tawarku membuatnya memandangku sedikit takjub.

"Kenapa sih? Gitu banget ngeliatinnya...," Aku tertawa kecil melihat tampangnya yang lucu.

"Serius? Ameera nawarin aku teh? Gak salah orang, kan?" Ia bertanya mendramatisir keadaan.

Memangnya aku kenapa sih? Sampai dia bertingkah sepeti ini...

Akupun menyerahkan mug putih itu pada rekan kerja yang seketika terlihat sumringah.

"Waah, Ameeraaa... Makasii, ya? Gak ada yang kamu kasih lagi? Hatimu mungkin?"

Aku tergelak pelan mendengar ocehannya sambil menggelengkan kepala. Dia memang terkenal seperti itu.

"Ini gak ada peletnya, kan?" Tanya Frans dengan mimik wajah berusaha serius.

"Apa sih...,"

"Tapi gak pake pelet aku udah suka sama kamu kok, Meer...,"

Aku memutar bola mataku malas sambil kembali menghadap ke komputerku. Baru mulai ingin bekerja, mataku kembali tertarik dengan perkumpulan perempuan yang Tak kunjung bubar.

"Frans...,"  Panggilku.

"Ya, sayang...,"

Kutonjok juga nih lama-lama...

"Itu ... Pada ngomongin apa sih dari tadi kok pada heboh?" Tanyaku penasaran sambil menunjuk kerumunan itu dengan daguku.

Frans mengikuti arah pandangku. "Oh, itu. Lagi pada bahas kepala divisi baru."

"Kepala divisi baru? Divisi Kita maksudnya?"

"Ya iyalah, Meer. Masak divisi yang lain kita yang ribut..."

Aku hanya ber-ooo tanpa suara sambil manggut-manggut. Ah andai Rika masuk pasti aku tidak akan ketinggalan berita begini.

"Jadi penggantinya Bu Yanti udah dateng? Kok heboh banget sih?" Tanyaku lagi.

Bu Yanti adalah kepala divisi kami yang sedang cuti melahirkan. Kabar-kabarnya ia malah mau mengajukan resign karena ingin fokus dengan kedua anaknya

Kulihat Frans menyeruput sebentar teh yang kuberi sembari menunggu jawabannya. Ia terlihat seperti menikmati sekali minuman itu. Aku jadi penasaran rasa teh buatan Faheem...

Sontak aku terkesiap lalu mengomeli diriku dalam hati.

"Yah gimana gak ribut, yang gantiin laki," sambung Frans. "Kabarnya sih ganteng kayak Lim Uhu."

"Lee Min Ho kali," ralatku terkekeh.

"Iya itulah, whatever."

Begitu memang laki-laki kalau merasa tersaingi. Suka ngasal.

Kupikir akan ada berita yang mengguncang dunia ternyata hanya kedatangan kepala divisi baru. Akupun segera kembali memfokuskan diriku dengan pekerjaan sebelum memikirkan hal yang aneh-aneh.

Saat sedang serius, tiba-tiba terdengar seruan dari pintu ruangan kami yang dibuka oleh seseorang.

"Divisi finance, silahkan ke ruang meeting di lantai tiga! Ditunggu sekarang."

Sontak, suasana ruangan kembali heboh apalagi karyawan yang ber-gender perempuan yang bergegas pergi.

Kulirik waktu di layar komputerku. Ternyata sudah pukul sembilan lewat sedikit. Tak terasa juga...

Sayang sekali hari ini Rika ijin  sehingga aku harus sendirian menghadapi situasi yang tak biasa ini. Aku menghela nafas sembari berjalan malas-malasan meraih buku catatan dan ponselku lalu mengikuti kerumunan rekan divisiku bergerak yaitu lift. Namun karena kulihat sudah penuh sesak, maka aku pun memilih untuk lewat tangga saja seperti beberapa rekan yang lain.

Setelah semuanya berkumpul di ruang meeting, dan sebagian besar dari kami sibuk berkasak kusuk menebak-nebak apa yang akan terjadi.

"Denger-denger, kepala divisi yang baru ganteng, lho," bisik seorang perempuan, yang duduk dua kursi dariku, dengan sebelahnya.

"Oh, ya?" balas temannya dengan pandangan takjub. "Kayak siapa?"

"Pokoknya ganteng, deh! Mana masih muda lagi!"

Keduanya pun lalu cekikikan dan semakin heboh membicarakan kepala divisi kami yang baru yang bahkan belum kami lihat itu.

Aku hanya menggelengkan kepala lalu memeriksa ponselku yang ternyata ada pesan dari Rika yang menanyakan tentang kerjaan hari ini. Segera kuceritakan kejadian yang sedang terjadi dan mendo'akan semoga adiknya cepat sembuh.

Tak berapa lama, kepala HRD kantor kami pun masuk dan segera menuju mimbar yang ada di depan. Semua kepala yang hadir sudah sibuk mencari-cari sosok yang sedang hangat diperbincangkan.

"Selamat pagi," sapa Kepala HRD tersenyum tipis.

Kamipun serempak membalas sapaannya.

"Sepertinya kalian sudah tahu apa yang akan saya bicarakan hari ini, ya?" tebak pria berusia hampir 50 tahun itu membuat para karyawan semakin tak sabar.

"Baiklah. Kalau begitu saya tidak usah berlama-lama lagi. Biar beliau sendiri saja yang memperkenalkan diri. Silahkan masuk Kepala Divisi Finance yang baru!" Pak HRD menunjuk tangannya ke arah pintu masuk yang spontan membuat semua yang hadir menoleh ke arah yang sama, termasuk aku.

Tak berapa lama, sosok itu pun muncul menimbulkan kasak kusuk dan pekikan-pekikan kecil para perempuan di ruangan itu semakin heboh. 

Kecuali aku.

Mataku membulat sempurna dengan meningkatnya tingkat keterkejutanku diikuti jantungku yang segera berdetak tidak karuan.

Berharap indera pengelihatanku salah namun sosok itu semakin mendekat semakin terlihat dengan jelas, membuatku ingin segera pergi dari tempat itu namun apa dayaku? Bukan karena aku hanyalah seorang karyawan biasa namun karena tubuhku serasa tak bertenaga.

Apalagi saat ia melangkah ke depan, melewati barisan tempat aku duduk, mata kami sempat bertemu sebentar membuat nafasku terasa sesak sesaat. Hanya dua detik namun duniaku seakan kembali runtuh karenanya. 

Ia kembali menatap ke depan dan berjalan dengan penuh percaya diri hingga akhirnya sampai di samping Kepala HRD, tersenyum dan mengangguk sopan. 

Kepala HRD pun mempersilahkan dirinya untuk mendekati mimbar dan memperkenalkan diri secara resmi.

"Selamat pagi," ucapnya ramah lengkap dengan senyumnya membuat perempuan-perempuan di sebelahku cekikkan sendiri.

"Perkenalkan. Saya Dion Saputra, Kepala Divisi Finance kalian yang baru."

Dan saat itu pula Dion menatap ke arahku dengan tatapan yang begitu dalam dan sulit kutolak.

Ya Allah....

WHY????

***

Assalamu'alaykum. Gak emosi kan? Hehe. Seru kan ketemuan bertiga satu tempat? 🤭

Jangan lupa baca Al-Qur'an ya. Saranghae ❤️

D.S.L


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...