Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 14


Aku mengetuk-ketuk tanpa henti pintu toilet yang bergambar icon wanita itu dengan maksud agar Ameera yang ada di dalam segera keluar karena jengah.

Namun usahaku tampaknya sia-sia sampai akhirnya seorang staff cleaning service perempuan, menegurku dengan tatapan antara sungkan dan sedikit curiga.

"Pak Faheem...,"

Aku menoleh ke asal suara dan berasa bak penjahat cabul tertangkap basah. Namun dalam hati sempat aku bertanya-tanya dari mana ia tahu namaku. Apa aku setenar itu di kantor?

"Ya?" Sudah pasti aku memasang muka tak bersalahku yang tampan ini.

"Ini toilet perempuan, Pak," ujar perempuan tersebut.

Nenek-nenek juga tahu kali kalau ini toilet wanita, dumelku sedikit kesal.

Tapi aku paham mengapa ia bereaksi seperti itu karena itu aku pun tersenyum sok kikuk.

"Maaf, Mbak. Masih ngantuk jadi salah lihat," jawabku sambil beringsut menuju pintu serupa tapi tak sama yang ada di sebelah kanannya.

Aku pun berpura-pura hendak masuk agar mbak tersebut segera pergi meninggalkanku mendorong trolly yang berisi peralatannya. Saat melihatnya sudah menjauh dan tak terlihat lagi, aku menghela nafas lega seraya kembali melihat pintu toilet sebelah yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda Ameera akan keluar. Akhirnya aku menyerah dan memutuskan kembali ke ruanganku.

Sebetulnya tadi aku ingin mengajaknya berbicara perihal permintaan Kakek untuk bertemu dengannya dan tentu saja meminta maaf atas kejadian sebelumnya. Namun entah mengapa, justru yang keluar pertama kali dari mulutku malah meminta penjelasan tentang kejadian di taman. Aku tak menyangka gadis itu masih semarah itu padaku. Kupikir setidaknya ia sedikit berhutang budi karena sudah memanfaatkan diriku saat itu.

Ngomong-ngomong soal taman, aku kembali teringat pada sosok lelaki yang sangat dihindari oleh Ameera.

Siapa sih dia? Sampai-sampai Ameera sangat menghindarinya? Apa... lelaki itu ... kekasihnya?

Sekejap sebagian diriku sedikit tidak terima...

Kugelengkan kepalaku seraya bergegas berjalan menuju ruanganku yang Ada di lantai lima.

Setelah sampai, aku segera menuju mejaku dan memfokuskan diri pada pekerjaan. Sepertinya itu satu-satunya cara ampuh untuk mengalihkan perhatianku saat ini

"Darimana lu, Ndro?" Tanya Aan begitu melihatku sudah kembali.

Aku hanya diam mengacuhkan pertanyaan temanku yang tentu saja membuatnya manyun. Diriku memang sedang tidak ingin bergurau. Terlalu banyak yang bersliweran di otakku sejak beberapa hari lalu dan rasanya ingin pecah.

***

Aku meletakkan laporanku saat Aan mengajakku untuk sholat Dzuhur. Saat kami berjalan keluar ruangan,  aku mengatakan padanya ingin sholat berjamaah di masjid kantor yang sedikit lebih jauh membuat Aan terkesiap mendengar permintaanku.

"Kenapa? Bukannya laki harus berjamaah di masjid, ya?" Tanyaku.

Haha, aku sendiri merasa aneh mendengar diriku berkata seperti itu.

Tampaknya menghabiskan waktu  dengan Bang Azam selama weekend lalu sudah mulai memberikan efek.

Temanku itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malah menjadi jengah. "Engg... Gak papa, sih. Iya, sekarang kita kalau sholat di masjid aja kalau gitu."

Aku pun mengangguk menyetujui sembari tersenyum tipis. Aneh, rasanya menyenangkan saat mengetahui Aan mendukung niatku ini.

Mungkin ini yang Bang Azam katakan padaku, Allah will lead you the way...

Setelah tiba di masjid, kami segera berwudhu dan mengambil posisi untuk mengikuti sholat bersama jamaah lain.

Sang imam pun melantunkan kalimat AllahuAkbar secara merdu dan khidmat dan secara serentak kami melakukan ruku'. Seketika itu hatiku berdesir hebat. Bibirku sedikit bergetar mengucapkan bacaan walaupun tanpa suara.

Aku berdo'a semoga aku sanggup menyelesaikan sholat ini dengan khusyuk hingga akhir.

***

"Heem!"

Panggilan itu sungguh mengejutkanku.

Ah, aku melamun saat berdzikir hingga lupa kalimat apa yang terakhir kuucapkan.

Aan memandangku sedikit cemas. "Elu ... gak papa? Daritadi diem aja."

Aku tersenyum samar lalu bangkit berdiri. "Makan, yuk. Gue laper."

Teman semakin melongo melihat tingkahku. Mungkin Aan hari ini keheranan mengetahui diriku melakukan hal-hal di luar kebiasaan.

Saat berjalan keluar dari masjid, ia bertanya lagi padaku memastikan. "Elu bener-bener gak papa, kan?"

Aku hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalaku. Aku mengusulkan untuk ke kantin kantor saja karena aku sedang malas keluar untuk mencari makan siang. Setelah memesan makanan, kami pun segera mencari tempat duduk dan mataku menangkap sosok yang sedari tadi pagi ingin kuajak berbincang.

Ia sedang duduk sendiri hampir di pojokan ruangan. Nampannya tampak belum tersentuh, dan terlihat sibuk dengan ponselnya.

"An, ke sana yuk," ajakku tanpa ragu sambil menunjuk gadis itu dengan daguku.

Aan menoleh ke arah yang aku tuju namun detik berikutnya ia memandangku sedemikian rupa yang aku paham maksudnya.

"Gue perlu ngomong sama Ameera, An" kilahku mencoba memberinya pengertian.

"Heem, udahlah. Gak usah ganggu dia lagi. She literally rejected you," keluh Aan lalu melangkah menjauh dan memberiku isyarat untuk mengikutinya.

Aku menghela nafas seraya memandang ke arah gadis itu sebentar sebelum akhirnya mengikuti ke mana Aan duduk.

Dan temanku pun sepertinya tidak membuang waktu untuk mengalihkan perhatianku pada Ameera. Ia tak henti-hentinya menceritakan joke garingnya atau kekonyolannya sewaktu bersama Rika. Aku tahu maksudnya agar aku tidak lagi memikirkan Ameera.

Saat aku sudah mulai teralihkan dan menikmati makan siangku, aku sedikit terkejut ketika tak sengaja melihat gadis itu, melalui bahu Aan, dengan langkah terburu berjalan menuju ke arah meja kami.

Aku segera berpikir mungkin ia hanya akan sekedar lewat sehingga akupun kembali melanjutkan makanku.

Namun hal yang tak terduga terjadi. Ameera benar-benar menghampiri meja kami bahkan duduk di sebelahku, dengan nafas sedikit tersenggal. Tentu saja kehadirannya membuatku dan Aan tidak dapat menyembunyikan keterkejutan kami.

"Ameera, ngapain...,"

"Hey," sapanya padaku bahkan memotong pertanyaan Aan.

Ia mencoba tersenyum seperti tidak ada apa-apa namun wajahnya yang kelihatan sedikit gusar tidak dapat ia sembunyikan. Belum selesai aku bertanya-tanya mengapa ia tiba-tiba ada di sebelahku padahal sebelumnya ia begitu menghindariku, muncul sosok lain yang juga berada di dekat meja kami.

"Ameera..."

"Astaghfirullah!" seru Aan sambil mengelus dada begitu menoleh menemukan seseorang berdiri di dekatnya.

Aku dan Ameera pun menoleh serempak ke suara yang memanggil namanya itu.

Sungguh, aku tak dapat menutupi keterkejutanku demi melihat sosok ini ada di dalam area perkantoran kami.

"Kamu ngapain di sini?" Desisku entah kenapa bernada sedikit marah.

Ameera segera menyentuhkan jemarinya pelan ke lenganku, yang tentu saja membuatku sedikit tersentak dan segera menoleh padanya. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, mungkin memintaku agar tidak bersikap terlalu emosi. Anehnya, aku menurutinya sembari berusaha mengatur degupan cukup cepat di dalam dadaku lalu kembali menatap lelaki itu.

"Meer, aku perlu bicara!" Lelaki itu berbicara dengan nada pelan.

Beberapa pasang mata yang hadir di kantin sudah menjatuhkan perhatian mereka pada kami. Aku berpikir ini harus segera dihentikan. Namun saat aku hendak membalas kembali perkataan lelaki itu, aku mendengar selentingan-selentingan dari sekitarku.

"Itu bukannya Pak Dion ya? Kepala Divisi Finance yang baru?"

"Iya, ngapain ya dia di sama orang-orang itu?"

"Gak tau. Tapi dia itu ganteng banget gak, siihh?"

"Iyaaaa, kaaan??"

Aku pun tercekat atas fakta yang baru saja kudengar. Apa? Dia kerja di sini?

Karena sepertinya suasana di sekitar tidak mendukung rencananya, lelaki yang bernama Dion ini pun menghela nafas sebentar sebelum akhirnya pamit dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ia timbulkan.

"I'll talk to you later," gumamnya perlahan memandang sebentar ke arah Ameera penuh harap lalu berjalan menjauh, keluar kantin.

Kami bertiga yang masih di meja masih terpekur untuk beberapa saat, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Apalagi Aan, yang sama sekali tidak mengerti ujung masalahnya.

"And I think we should a have a talk also," kataku memecah keheningan seraya menoleh ke arah gadis di sebelahku. 

Ameera menatapku sebentar sebelum akhirnya menunduk, menggigit bibir bawahnya.

***

"He's your new boss??" tanyaku dengan nada tak percaya yang disambut dengan anggukan kecil dari Ameera. 

Sungguh, dunia itu sempit sekali...

"Jadi?" tanyaku sambil mengangkat kedua alisku, melihat gadis itu tak kunjung bicara. 

Aku sengaja mengajak gadis itu ke rooftop menghindari keramaian agar kami dapat berbicara lebih serius. Awalnya ia menolak tapi dengan kejadian dua kali yang melibatkan aku untuk menghindari lelaki itu sepertinya sudah tidak dapat kutolerir lagi. 

Ameera terlihat gugup sembari menggigit bibir bawahnya, menunduk menghindari tatapanku. 

"Meer...,"

"Dia mantanku," ucapnya cepat namun nyaris seperti berbisik.

Aku tertegun mendengar apa yang baru saja ia katakan. "Apa?" 

Gadis itu menghela nafas sangat panjang sebelum akhirnya mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku. Kegugupan semakin terlihat jelas di sana. "Dia...kami..."

Ia berhenti dan kembali menghembuskan nafas kasar dan mencoba untuk tertawa kecil. Mungkin ia ingin mengusir entah apa yang ia rasakan sekarang di dalam dirinya. Kulihat matanya mulai sedikit berkaca-kaca.

Ameera tampak ingin berbicara namun sepertinya dirinya sulit untuk mengungkapkan semuanya padaku. 

"Did he leave you?" tanyaku menebak, sehati-hati mungkin.

Kalau ia tak dapat bercerita biar aku saja yang bertanya.

Ameera tak menjawab tapi kilatan kesedihan yang bertambah di matanya sudah menjadi jawaban bagiku. Ia mengalihkan pandangannya ke arah hamparan perkotaan yang terlihat dari atas sini. Angin sedikit bertiup kencang membuat rambut panjangnya yang terikat menjadi satu itu berterbangan dan beberapa anak rambut menutupi wajahnya.

Aura kesedihan tampak terpancar kuat dari dirinya membuat hatiku turut merasakan apa yang ia rasa...

"Apa dia... selingkuh?" aku bertanya lebih hati-hati lagi.

Ia hanya tersenyum miris. Sorotan matanya semakin terlihat terluka.

Do you still love him that much?

Pertanyaan yang ini, tentu saja hanya terucap dalam hatiku saja.

"Jadi maksud kamu mengatakan kalau kita..."

"I'm sorry," potongnya cepat kembali melihatku. "Aku...aku hanya gak ingin terlibat lebih jauh dengannya malam itu dan kebetulan kamu muncul..."

Hah! Kebetulan yang sungguh tak mengenakkansungutku dalam hati.

"Dan yang kepikiran olehku saat itu ya ...itu. Maaf..."

Ameera kemudian menunduk, seperti sangat menyesali perbuatan yang sudah melibatkan aku tanpa ijin. Aku memandanginya beberapa saat sebelum akhirnya melempar pandanganku ke arah ke mana tadi Ameera melihat sambil menghela nafas diam-diam.

Keheningan terbentang di antara kami cukup lama. Aku berusaha menjernihkan pikiranku sembari berusaha menetralkan semua rasa-rasa aneh yang muncul setelah mendengar cerita dan alasan Ameera. Dari sudut mataku aku tahu Ameera sesekali mencuri tatap ke arahku. 

"So, what's next?" tanyaku perlahan membalas tatapannya.

Ameera terlihat seperti berharap aku dapat memberikan solusi. Aku pun memandang ke arah matanya baik-baik, memberi jeda sebentar lalu melanjutkan, "Masalahnya Doni itu-"

"Dion...," ralat Ameera.

"Whatever! Masalahnya mantanmu itu ternyata bekerja di sini dan dia sudah terlanjur menganggap kita berdua itu tunangan!"

Gadis itu semakin terlihat gusar menghadapi kenyataan yang ada. Pasti ia sudah berpikir betapa sial dirinya jika kami harus terus-terusan menjadi pasangan kekasih yang ia sendiri sungguh tidak menyukainya apalagi hanya pura-pura.

Lama ia tak memberikan keputusan apapun, aku pun sedikit gemas sembari melihat jam tanganku karena waktu istirahat sudah hampir habis. "Kayaknya kita harus kembali-"

"Could you do that?" tanya Ameera masih dengan pandangan berharap padaku.

"Do...what?" Aku sedikit deg-degan.

Ameera berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?"

***

Assalamu'alaykum. Olala...akhirnya Ameera nyerah juga. Kira-kira gimana yaa kalau nanti mereka ketemu lagi ama Dion? 

Komenmu menyemangatiku hehe. Saranghae ❤️

D.S.L.

Comments

  1. Komenku?!
    Hmm,.. segera lanjutkan ceritamu kakak, aku kepo sangaaaat!😭😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai kakak, udah kupost yaa hihi. maafkan telat lama. selamat membacaa

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...