Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 4



Mengapa ya hangat itu masih saja berdiam di dadaku?

***


"Astaghfirullah!"

Pekikan Rika yang sedikit mengangetkan itu berhasil menyita perhatianku terutama Aan.

"Kenapa, Ka?" Tanya Aan sedikit kuatir.

Aku melirik lelaki di sebelahku ini. Hmm, tampaknya memang temanku benar-benar kesengsem sama gadis di depannya. Lihat saja mukanya yang langsung berubah kuatir itu, batinku sedikit mengejek.

"Aku lupa Ameera masih sama Rahardian! Dia pasti nungguin aku deh..."

"Ameera? Ameera temen kamu serumah?" Aan bertanya lagi.

Rika mengangguk masih dengan wajah paniknya.

Aku hanya memandangi mereka berdua tak paham, karena memang aku tak tahu siapa Ameera itu.

"Rahardian itu siapa?" Tanya Aan lagi.

"Dia..aduh panjang ceritanya! Duh, Heem! Tolong jemput Ameera, yah!"

Aku yang sedang menikmati bebek penyetku tersedak mendengar permintaan tolongnya. "Hah?"

"Ayo dong, Heem. Yah? Yah? Pliiis! Kalo Ameera lihat aku pasti aku bakalan diambekin!" Rika menatapku dengan tampang memelasnya.

Lah, terus kenapa jadi aku yang repot??

Aku memandangnya sebentar lalu beralih menuju Aan yang memasang tampang yang sama kemudian menghela nafas berusaha memaklumi keadaan. Peraturan perusahaan yang melarang antar karyawan untuk memiliki hubungan khusus membuat mereka memang harus sembunyi-sembunyi jika tidak ingin diberhentikan dengan paksa.

Itu alasan mengapa Aan selalu mengajakku saat menemui Rika, takut jika pihak kantor tiba-tiba memergoki mereka berduaan saja. Entahlah, alasan apa pula itu namun sebagai teman yang baik kuturuti saja kemauannya. Sekalian menghempaskan rasa penat di diriku.

Tapi mendapat titah seperti itu rasanya lucu sekali. Namun entah mengapa akhirnya aku tetap saja bangkit dari kursiku.

"Temanmu dimana? Aku gak tahu tampangnya," ujarku.

Rika langsung tersenyum lebar lalu mengambil ponselnya, menekan-nekan beberapa saat dan menunjukkan padaku.

Kuperhatikan layar yang ada di depanku. Terpampang foto seorang perempuan mungkin seumuran Rika. Ah, tidak. Sepertinya lebih tua satu atau dua tahun. Rambutnya yang sedikit bergelombang dan cukup panjang terurai menutupi bahu sebelah kirinya. Perempuan itu sedang tersenyum lucu membuat matanya hampir terlihat seperti garis sembari memegang sekantong kudapan di tangannya. 



Cukup lama aku memperhatikan foto tersebut bukan untuk menghafal bagaimana wajahnya namun menikmati ekspresi yang ditunjukkan si Ameera ini. Ia memang terlihat tidak secantik gadis-gadis yang aku kenal namun aku dapat melihat senyumnya yang tulusnya hingga memberikan kehangatan tersendiri dalam dadaku.

Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi....dimana ya?

"Heem! Udah belom? Malah bengong!"

Aku sedikit terkesiap mendengar suara Rika dan berusaha menutupi tingkah bodohku dengan tetap terlihat tenang. Itulah yang orang lihat dari Faheem, always stay cool. 

Setelahnya akupun pamit menuju tempat yang disebutkan Rika yang untungnya masih satu lantai dengan tempat kami sekarang. 

Sambil berjalan, wajah yang baru saja kulihat itu terbayang cukup lama di benakku dan rasa hangat itu kembali datang. Namun aku segera buru-buru mengusirnya dan menepuk-nepuk kepalaku sendiri. 

That's not cool, Faheem! Stay cool!

Aku mempercepat langkahku sembari mencari tempat makan yang dimaksud. Setelah menemukannya dan akupun melangkah masuk yang tak lama disambut oleh seorang pramusaji perempuan yang bertanya apakah akan take away atau dine in. Aku menggeleng perlahan dan berkata bahwa aku hanya mencari seorang teman.

Segera kuedarkan pandangan dan mencari wajah yang mirip dengan yang kulihat di ponsel Rika. Bagaikan robot pendeteksi, otakku pun segera menyaring satu demi satu pengunjung perempuan yang ada di dalam tempat makan tersebut hingga akhirnya aku menemukan yang aku cari, padahal aku hanya mengenali rambut panjangnya yang terlihat dari belakang saja.

Hmmm, sebegitu canggihnyakah radarku?

Aku pun melangkah ke perempuan itu yang sedang ditemani oleh seorang lelaki yang tampaknya sedang sangat menikmati makanan di hadapannya namun melihat bagaimana cara ia berusaha melahap semuanya, aku mengernyitkan dahiku sedikit tak paham dengan tata krama yang ia miliki. 

"Permisi," ujarku begitu berdiri di dekat meja mereka.

Perempuan itu menoleh padaku. Mata kami bersitatap sebentar. Lain dengan si pria yang sepertinya Tak peduli dengan kehadiranku.

Perempuan itu mengernyitkan dahinya, sepertinya tanda kebingungan karena ia tak mengenalku.

Aneh.

Mengapa ya hangat itu masih saja berdiam di dadaku?

***

Aku memperhatikan mimik wajahnya saat ia bercerita dengan penuh ekspresi tentang bagaimana ia harus menemani pria yang bernama Rahardian itu, yang katanya teman dari Rika.

Saat Rika tertawa cukup keras mendengar ceritanya dan Aan terkadang tersenyum lebar, aku tak lepas memandang mata cokelat mudanya yang berkilat, entah karena sedang gemas atau hal lainnya.

Those eyes are the gloomiest yet warmest eyes I've ever seen...

Sangat kontradiktif ya? Namun begitulah yang aku rasakan saat melihat kedua bola mata tersebut. Ditambah dengan ekspresi lucunya dengan bibir mengerucut dan tangan bersedekap ke dada. Mirip anak TK yang lagi merajuk minta dibelikan mainan.

Menggemaskan.

Aku tersenyum tipis tanpa sadar namun senyum itu langsung pudar begitu Aan menyikut lenganku cukup keras membuatku terkesiap dan segera menoleh padanya.

Aku pun sontak memasang ekspresi "Apa??" yang disambut dengan pandangan "jangan macam macam!!" dari Aan yang cukup mengintimidasi. Kuputar bola mataku malas karena sedikit tak suka jika temanku ini menuduhku yang tidak-tidak.

She's even not that kind of type, Bro...

Saat Rika berusaha mengatur tawanya, aku pun berusaha memahami apa yang sebenarnya mereka bahas selain kelakuan aneh Rahardian.

"Kalian ngomongin apa, sih?" Tanyaku, penasaran.

Ameera tampak sedikit terkejut mendengar aku bicara. Sepertinya ia baru menyadari kalau ternyata masih ada aku dan Aan.

"Ini... Si Meera lagi nyari jodoh," sahut Rika masih dengan sisa gelinya membuat gadis di depanku membulatkan mata.

Ia terlihat semakin kiyut.

"Rika!" Entah mengapa wajahnya sedikit memerah.

"Ih, bener, kan?" Sergah Rika dengan tampang usilnya.

"Cari jodoh?" Aku semakin penasaran.

Memang ada apa sampai ia harus dibantu Rika untuk dicarikan pasangan hidup? 

Aku tertegun dengan pertanyaan yang muncul begitu saja di otakku.

Ah, Ada apa denganku? Ngapain repot ngurusin orang yang lagi cari jodoh? Jodoh sendiri aja gak tau dimana....

"Jadi Meera tuh...,"

"Aku pulang nih!" Ancam Ameera masih dengan tampang lucunya.

Kalau aku yang diancam seperti itu, bisa-bisa malah aku mencubit pipinya, batinku sambil sedikit tersenyum sendiri namun aku segera menyadarkan diriku. 

Hmm, Faheem. Sepertinya kamu harus berhenti berlaku aneh...

Rika bergelayut manja di lengan Ameera sambil berusaha untuk merayunya. Dan tampaknya gadis itu juga terbujuk oleh kelakuan temannya.

Kami pun terlibat dalam percakapan lain sembari memperhatikan Ameera diam-diam. Ternyata ia sekantor dengan kami. Pantas saja jika aku merasa pernah melihatnya namun hatiku mengatakan bukan itu dan rasa penasaranku pun entah mengapa menjadi sedikit berlebihan malam ini.

Ameera memang kebanyakan diam, berbeda dengan Rika yang cukup mendominasi percakapan. Apalagi Rika mulai sibuk sendiri dengan Aan dan mulai lupa dengan keberadaan kami. Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Saat aku menolehkan pandanganku ke arah perempuan di depanku, tak kusangka ia sedang menatap ke arahku membuatnya sedikit terkesiap. Mata kami bersitatap untuk yang kedua kalinya dan rasa itu kembai datang dan aku kembali segera mengusirnya jauh-jauh.

Ameera segera menundukkan pandangannya dan menyibukkan diri dengan makanannya menbuatku tersenyum tipis.

Karena sepasang kekasih tersebut sedang tidak menggubris kami, aku pun memberanikan diri membuka pembicaraan dengannya, berusaha menghilangkan kecanggungan. "Kita...pernah ketemu ya?"

Duh, kalimat itu pun terdengar sungguh klise di telingaku sendiri karena itulah yang terkadang aku pakai untuk mengajak bicara gadis yang aku incar.

Ameera mengangkat perlahan kepalanya, memandangku takut-takut.

Apakah aku seseram itu? Padahal hampir semua perempuan memuji ketampananku...

"Aku...gak tau...," Jawabnya hampir bergumam, ia terlihat tidak yakin juga.

"Tapi...kayaknya iya, sih. Dimana, ya?" ujarku sambil berpikir. 

"Udah, Meer. Gak usah didengerin! Akal-akalan Faheem aja biar sok kenal!" Sahut Aan tiba-tiba.

"Maksudnya?" Ia bertanya memandang Aan lugu.

Aku paham betul kemana arah bicara Aan jadi aku hanya terkekeh pelan sambil memukul lengannya pelan lalu melanjutkan makanku. Sepertinya temanku sudah salah paham tapi ya sudahlah, aku sudahi saja rasa penasaranku untuk malam ini sampai di sini. 

Mungkin lain kali, aku bisa bicara lebih dengannya...

***

Comments

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...