Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 5



Kata Kakek, semua yang ia lakukan demi kelangsungan hidupku namun aku hanya merasakan itu hanya untuk kepentingan dirinya belaka. 

***

Aku segera keluar dari mobilku setelah memarkirnya di carport. Entah mengapa, pikiranku tidak dapat terlepas dari Ameera sejak pulang dari pertemuan yang cukup aneh tadi. Aku hanya terlalu penasaran dengan teman Rika itu karena wajahnya yang sungguh familiar di ingatanku bukan perkara dia adalah teman sekantor kami.

Tertawa kecut tiba-tiba keluar dari mulutku, menyadari bahwa diriku dapat menjadi seperti ini hanya karena seorang asing yang baru saja kukenal dan anehnya lagi, orang asing itu berjenis kelamin wanita. Aku segera menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha mengusir segala rasa penasaran yang hinggap tak diinginkan itu.

Saat hendak melangkah masuk, langkahku terhenti karena sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumahku. Aku pun berusaha mengenali mobil tersebut dengan sedikit memicingkan mata. Dan begitu tahu siapa yang datang, aku menghela nafas sangat panjang.

Oh, great! Batinku sambil memutar bola mataku malas.

Dari sisi pintu supir, keluar seseorang yang sangat kukenal. Lelaki itu tersenyum padaku dengan menganggukkan kepalanya sedikit yang kubalas dengan hal yang sama. Ia kemudian berjalan menuju sisi kanan mobil, tepatnya ke arah pintu penumpang kemudian membukanya perlahan.

Tak berapa lama, seorang lelaki paruh baya keluar. Setelah berdiri tegak, ia memandang ke arahku dengan tatapan sedemikian rupa.

Mau apa lagi dia kemari?

Ia pun melangkah mendekat kepadaku, berjalan dengan tongkat di tangan kanannya kemudian berhenti setelah kami berjarak hanya beberapa langkah saja.

"Assalamu'alaykum," ucapnya.

"Wa'alaykumsallam," balasku sekenanya, menghindari tatapannya.

"Kamu nggak ajak Kakek masuk?" Tanyanya sambil mengangkat kedua alisnya.

"Faheem lagi males dengerin ceramah- aduh!"

Aku mengusap kepalaku yang menjadi sasaran tongkat lelaki itu.

"Sakit, Kek!"

"Kakek lebih sakit karena gak kamu ijinin masuk!" Dengusnya sambil melangkah menuju pintu rumah.

Aku pun hanya dapat menghela nafasku dan mengikuti langkahnya. Setelah kubuka kunci pintu tersebut, kakek segera masuk dan duduk di sofa ruang tamu.

"Darimana kamu jam segini baru pulang?" Tanyanya dengan mata curiga.

"Kerjalah, Kek! Faheem bukan pengangguran!"

"Oh, Kakek pikir kamu habis kencan dengan perempuan-perempuanmu itu!" Balasnya sedikit sinis membuatku membuang pandangan ke arah lain.

"Kenapa? Kamu pikir Kakek gak ngerti?"

"Kakek mau ngapain ke sini?" Tanyaku cepat, mengalihkan pembicaraan.

Kalau Kakek ada di rumah ini bawaanku ingin marah saja.

"Sabtu besok ada acara peresmian resort cabang baru di Singaraja sekalian pembagian saham keluarga. Kamu data-"

"Gak bisa, Kek. Faheem lembur di kantor!" sahutku memotong permintaan yang tidak akan pernah aku lakukan.

"Heem, sampai kapan kamu mau menghindari urusan keluarga seperti ini??" ujar Kakek sedikit geram.

"Urusan keluarga Kakek mungkin, bukan urusan Fahee-"

"Faheem!!" 

Aku memandang tajam ke arah lelaki paruh baya itu yang sudah memandang balik ke arahku dengan pandangan penuh amarah dan juga kecewa. Dan melihat itu, sesungguhnya hatiku akan mendadak patah hati. Entah mengapa aku tak bisa melihat Kakek seperti itu namun, persoalan ini tidak akan pernah selesai. 

"Kakek, mending pulang aja, ya," ujarku seraya menghela nafas perlahan, kembali menghindari tatapannya sebelum aku semakin sakit hati. "Ini sudah malam, Kakek pasti butuh istirahat. Faheem juga capek..."

"Kakek tunggu kamu Sabtu ini!" desis Kakek tajam sembari bangkit dari duduknya. "Kalau kamu tetap ngotot dengan keputusan konyolmu itu, Kakek bakal coret namamu dari daftar-"

"Kakek pikir Faheem peduli sama itu semua, Kek? Hah??" Aku hampir saja berteriak namun berusaha menahan segala kesal yang sudah mulai memuncak. 

Pria paruh baya itu terlihat sedikit terkejut dengan reaksiku. Aku memang tukang ngeyel tapi tidak untuk urusan bernada tinggi pada orang tua. Kilatan kesedihan sungguh terpancar dari kedua matanya membuatku segera menyesal karena sudah berbuat seperti itu.

"Kek, please...Faheem-"

Tanpa menunggu kalimatku selesai, Kakek segera melangkah sedikit tertatih keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan apapun. Aku tahu pasti hatinya teramat sedih melihatku seperti ini. Setelah berpikir dengan cepat dan sebelum Kakek melangkah lebih jauh, akhirnya aku memutar badanku dan memanggilnya perlahan, membuatnya menghentikan langkah dan kembali menghadap ke arahku. 

"Sabtu... jam berapa?" tanyaku nyaris bergumam.

Perlahan tapi pasti, senyum sumringah terbentuk di bibir lelaki itu. "Nanti Pak Tomo akan info kamu. Terima kasih atas keputusanmu. Kakek sangat menghargai itu."

Aku hanya menggangguk pelan malas-malasan. Entahlah, aku hanya tak ingin Kakek menjadi sesedih itu hanya karena kelakuanku. Keputusanku untuk meninggalkan rumahnya sudah cukup membuatnya pusing.

Sebenarnya, aku juga tak ingin membuatnya seperti itu namun keadaan pelik keluarga besarku yang hanya berebut harta dan kekuasaan itu membuatku muak dan pergi meninggalkan situasi tersebut. 

Sayangnya, aku satu-satunya keturunan langsung dari Kakek yang memiliki hak paling besar dari semua anggota keluarga membuat mereka hampir sebagian besar membenciku karenanya dan itu kurasakan semenjak aku kecil. Ayahku meninggal karena sakit sepeninggalan ibuku yang kabur dari rumah bersama laki-laki lain. Karena itu Kakek mempertahanku mati-matian dengan cara apapun agar aku tetap di sampingnya namun saat ia berusaha sekeras itu, aku juga dengan mati-matian ingin memisahkan diri darinya.

Kata Kakek, semua yang ia lakukan demi kelangsungan hidupku namun aku hanya merasakan itu hanya untuk kepentingan dirinya belaka. 

Entahlah...

"Ah, iya," suara Kakek tiba-tiba terdengan membuatku tersadar dari lamunanku. Ternyata Kakek masih ada di dekatku. "Jangan lupa, bawa pasangan! Kakek sudah bilang ke keluarga besar kalau kamu sudah bertunangan."

Setelah berkata seperti itu, Kakek segera meninggalkan aku berdiri mematung dalam waktu yang cukup lama karena berusaha mencerna kata per kata yang baru saja kudengar.

Hah? Apa? Pasangan?

TUNANGAN???

Namun saat aku menyadari apa maksud perkataan tersebut dan hendak protes, pria baruh baya itu sudah menghilang dari hadapanku.

"KAKEEEEKK!!!"

***

Sabtu itu tiga hari lagi! 

Aku menjambak rambutku frustasi. Semalam aku tak dapat tidur dengan nyenyak karena memikiran hal itu dan menyesali keputusan yang sudah aku lakukan.

Kuletakkan kepalaku di atas kedua tanganku yang tertangkup di atas meja. Pikiranku mendadak ruwet dan tidak bisa diajak konsentrasi untuk bekerja hari ini.

"Lho kenapa sih, Bro? Dari tadi ngedumel, marah-marah gak jelas? Laporan buat Pak Wisnu, udah belom?"

Perkataan Aan tidak kuindahkan dan kubiarkan tidak terjawab. 

"Bro...,"

"Aah!! Itu udah gue taruh di laci atas meja elu! Makanya cari dulu jangan asal ba*ot ajah!" ujarku segera menegakkan tubuhku, setengah memaki sambil mendelikkan mataku membuat Aan sedikit terkejut.

"Idih, shensi amat, shik? Lagi PMS ya?" ujar Aan manyun lalu segera memerika laci yang kumaksud. 

"Gue ke Pak Wisnu dulu ya?" pamitnya sembari berdiri namun tetap kuacuhkan saja.

Aan hanya berjalan menjauh sambil menggelengkan kepalanya meninggalkanku.

Tiba-tiba sesuatu ide melesat di kepalaku begitu saja, membuatku sedikit terhenyak lalu segera memanggil temanku itu kembali.

"An!"

Ia pun berhenti lalu menoleh padaku. "Apaan?"

Aku bangkit dari kursiku lalu berjalan cepat menuju ke arahnya yang belum jauh dariku. 

"Gue boleh minta nomernya Rika?" bisikku setelah berada di sebelahnya.

Tentu saja hal ini membuatnya menatapku terkejut.

***

Setelah beradu argumen dan meyakinkan dirinya jika aku tidak akan bermaksud buruk terhadap kekasihnya itu, akhirnya kudapatkan juga nomor Rika. Aku pun tak sabar ingin menghubunginya saat istirahat siang yang sekitar dua puluh menit lagi akan tiba.

"Awas elu ya kalo macem-macem ama Rika!" ucap Aan setelah mendekati mejaku dengan nada gusar.

"Iye, nggak bakalan!" sahutku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar komputer di hadapanku. "Lagian, bukan tipe gue juga kali! Aduh!"

Aku mengusap kepala belakangku yang teraniaya oleh segulung kertas yang dilayangkan Aan padaku dengan setengah emosi. 

"Ba*ot lagi kayak tadi, beneran gue gampar lu!"

Aku hanya terkekeh melihat reaksinya lalu menggeleng perlahan. Semoga dirinya tidak akan berakhir dengan tangisan meraung-raung karena cinta yang harus kudengar entah kapan itu. 

Dan akhirnya istirahat pun tiba. Aku bergegas menuju tempat favoritku untuk menyendiri yaitu di rooftop kantor. Tentu saja Aan tidak ketinggalan, mengikuti di belakangku. Sungguh, aku ingin sekali tertawa melihat mimik wajahnya yang tak tenang itu.

Sesaat setelah kami sampai di atas, yang langsung menampakkan langit biru yang kali ini tampak cerah ceria dengan gumpalan awan bertebaran di segala penjuru seperti mendukung ide gilaki, aku pun segera mencari nama Rika dan kemudian menekan icon telpon di sebelahnya.

Kudekatkan benda pipih berwarna hitam itu ke telingaku sembari memasukkan tanganku yang satu lagi ke saku. Sementara menunggu panggilanku terjawab, Aan berdiri di sebelahku tetap dengan rasa tak tenangnya yang mulai sedikit menggangguku.

"Assalamu'alaykum..,"

"Bro-" 

Aku segera memotong perkataan Aan, dengan mengangkat tanganku ke arahnya, karena panggilanku yang terjawab.

"Wa'alaykumsalam. Rika?"

Hening sejenak untuk beberapa detik lalu terdengar kembali suara. 

"Iya. Saya Rika. Dengan...siapa, ya?" Nadanya terdengar sedikit curiga, mungkin karena ia tak mengenali nomerku.

"Maaf, aku Faheem, temennya Aan," Aku melirik ke sebelahku yang sudah sibuk menggigit-gigit jarinya membuatku segera memutar bola mataku malas.

"Oh, Faheem. Iya, kenapa?"

"Ehm...," 

Tiba-tiba mulutku terasa terkunci. Lidahku mendadak kelu. Ide dan semangat yang tadi berkeliaran liar di kepalaku mendadak menciut begitu saja. Aku menjadi ragu-ragu karenanya. Hening menjalar di percakapan kami untuk beberapa saat. 

"Halo? Faheem?"

Suara Rika menyadarkanku kembali. "Oh, ehm...aku ... "

"..."

"Aku..."

Aku dapat melihat dengan sudut mataku, Aan pun memandangiku kali ini dengan dahi berkerut. Mungkin ia bingung melihat kelakuanku yang aneh dan tak biasa ini.

"Heem?"

Oh, shoot! Demi apalah aku lakukan saja! teriakku dalam hati sambil menguatkan niatku kembali.

"Aku boleh minta nomer Ameera?"

***

Comments

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...