Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 6



Semoga keputusanku tak salah...

***

Kami sedang berjalan menuju musholla kantor saat ponsel Rika berdering cukup lama tak henti-henti. Ia pun segera mengambil dari tas kecilnya karena mungkin panggilan itu penting.

Saat melihat ke layar ponsel, Rika sedikit mengernyitkan dahinya.

"Kenapa, Rik?" Tanyaku sedikit penasaran karena ia Tak kunjung mengangkatnya.

"Gak tahu, nomer gak dikenal," ujarnya.

"Ya udah reject ajah," balasku.

Namun ia akhirnya mengangkat juga panggilan tersebut.

"Assalamu'alaykum," ucapnya.

Rika berhenti sebentar, menunggu balasan dari seberang.

"Iya, Saya Rika. Dengan....siapa, ya?"

Kulihat dahi Rika semakin berkerut. Namun beberaa saat kemudian ia tersenyum tipis. "Oh, Faheem. Iya, kenapa?"

Faheem?

Mendengar nama itu disebut, mendadak aku jadi penasaran. Tanpa sadar radarku semakin meningkat.

"Halo? Faheem?"

Sepertinya lelaki di seberang sana tidak mengeluarkan suara. Rika kembali terlihat menunggu respon dari Faheem namun tampaknya tetap sama. Entah mengapa aku ikutan menjadi harap harap cemas menyaksikan percakapan ini.

Rika pun mengulangi memanggilnya kembali. "Heem?"

Beberapa saat kemudian, wajah temanku ini berubah lega sehingga kuanggap di seberang sana sudah membuka suara. Aku ikutan bernafas lega.

Setelah diam seperti menyimak sesuatu, Rika kembali menunjukkan mimik yang lain yaitu kali ini sedikit kaget kemudian diikuti melirik ke arahku sekilas, membuatku semakin deg-degan.

"Maksudmu...gimana?" Ia memasang wajah serius seketika, mendengarkan penjelasan.

Ada apa sih? Aku semakin penasaran.

"Sebentar, ya," ucapnya kemudian menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya dan menutup microphone dengan telapak tangannya.

Ia menatapku ragu sebentar lalu berkata sedikit lirih, "Faheem nanyain nomer kamu."

Kedua alisku sontak naik tanpa diminta. "Apa?"

"Fahee-"

"Buat apa??" Tanyaku hampir sedikit memekik.

Rika menggidikkan bahunya. "Mana kutahu. Kukasih, gak? Anaknya nungguin, nih!"

Aku menggigit bibir bawahku.

Kegalauanku langsung membuncah hingga langit ke-entah berapa.

***

Dan semenjak Rika mengakhiri panggilan tersebut, hidupku menjadi sangat sangat tidak tenang. Aku tak henti-hentinya memandangi ponselku, memastikan bahwa nomor Faheem muncul di layar kecil itu. Rika memang menyuruhku untuk menyimpan nomor lelaki itu agar jika Faheem menghubungiku, aku dapat mengenalinya. Katanya, Faheem yang menyuruhnya.

Dan sekarang, aku benar-benar tidak bisa memfokuskan diriku pada apapun kecuali benda pipih yang tergeletak di dekat laptopku.

Aku menghela nafasku perlahan sembari bangkit dari kursiku.

"Mau kemana?" Tanya Rika.

"Toilet," jawabku sedikit bergumam lalu melangkahkan kakiku ke tempat yang kusebut.

Segera kubasuh wajahku perlahan di wastafel, setelah aku masuk ke ruangan itu.

Kutatap bayangan yang terpantul di cermin yang ada di depanku. Untuk beberapa saat aku sibuk memikirkan mengapa Faheem ingin menghubungiku dengan keadaan diriku.

Jujur, aku sempat sedikit kepedean dan berpikiran yang iya-iya karena kejadian hal itu. Membuat hatiku berubah menjadi taman seribu bunga dan detak jantungku melebihi rata-rata.

Namun, melihat keadaanku dan Faheem aku tak ingin terlalu terlena dan terjebak dalam kehaluanku. Sepertinya aku harus menata diriku lagi agar nantinya dapat menerima kenyataan.

Kekosongan hatiku yang cukup lama tampaknya sungguh mempengaruhi perasaanku saat hal seperti ini terjadi.

Aku jadi teringat percakapanku dengan Rika sebelum akhirnya aku menyetujui memberikan nomorku pada lelaki itu.

Melihat aku diam saja Dan cukup lama,Rika akhirnya menempelkan kembali ponselnya ke telinga.

"Sebentar ya, Heem. Nanti aku hubungi kamu." Lalu ia mengakhiri panggilan tersebut.

"Meer...,"

Aku menatap ke arah temanku, masih dengan sedikit termangu.

"Can I ask you why?" Tanyanya perlahan.

"Why what?" Aku balik bertanya Tak paham.

Rika menghela nafasnya sebelum kemudian mengajakku untuk duduk di tembok pendek yang Ada di dekat kami.

"Kapan kamu akan memulai hubungan yang baru?" Rika bertanya lagi.

Aku tersenyum jengah. "Kayak Faheem mau ngapain ajah!"

"At least, giving your number to a guy is a start. Dan kamu ragu untuk lakuin itu. Dan sudah berkali-kali kamu seperti itu. Kamu tuh bukannya gak laku, tapi kamu sendiri yang bikin jadi gak laku."

"Ibarat orang punya toko,ya tokonya harus dibuka. Kamu...kapan kamu mau buka hati kamu?"

Ceramah Rika yang panjang nan lebar itu cukup membuatku diam Tak berusaha untuk mendebatnya.

"Udah berapa lama? Dua? Tiga?" Ia bertanya setelah kami terdiam beberapa saat.

"Empat...," Jawabku lirih.

"Empat tahun,Meer. Empat tahun kamu berkubang dalam perasaan takutmu...,"

"It's not that easy!" Protesku membela diri.

"I know! But sometimes you need another guy to move on!" Cecar Rika.

Aku menggigit bibir bawahku. Sebagian dari diriku membenarkan apa yang temanku katakan barusan.

"Maybe Faheem can be your-"

"Udahlah, Rik. Jangan mikir sejauh itu,"keluhku.

"Ya kamu tahu maksudku lah," sahutnya cepat sambil mengelus punggungku perlahan.

Aku pun segera sibuk dengan pemikiranku sendiri. Menimbang-nimbang antara resiko dan benefit yang akan aku rasakan atas apa yang terjadi. Aku hanya tak ingin mengulangi kejadian yang lalu lagi.

Kutatap Rika sedemikian rupa, seperti meminta dukungan Ia pun seperti mengiyakan pikiranku membuatku mengangguk perlahan dan dirinya tersenyum lebar.

Aku menghela nafasku panjang sambil menatap kembali diriku dalam cermin.

Semoga keputusanku tak salah...

***

Sekembalibya dari toilet, aku segera menyibukkan diri dengan pekerjaanku. Tanpa terasa jam pulang pun tiba.

Saat hendak membereskan mejaku, tiba-tiba ponselnya bergetar membuatku segera melihatnya.

Aku segera terpaku melihat Ada nama Faheem di layar.

Cukup lama benda itu bergetar namun tak juga kuangkat. Aku malah sibuk dengan debaran jantungku sendiri.

Rika tiba-tiba melongokkan kepalanya dan kemudian melihat kearah ponselku dan menjadi heboh setelahnya.

"Ituuu Faheem nelpon. Iih nih anak malah bengong Aja, sih! Diangkat atuh, Meer!!"

Aku terkesiap mendengar suara Rika lalu dengan tergesa mengambil benda pipih itu. Sebelum menerima panggilan tersebut,Aku menghela nafas sebentar.

"Assalamu'alaykum...," Ucapku perlahan.

Debaranku Makin kencang saja.  Duh, macam anak SMP saja sih!

"Wa'alaykumsallam. Ehm, Ameera?"

Aku sedikit terpekur mendengar suara Faheem yang terdengar lebih syahdu jika melalui ponsel membuatku senyum sendiri. Namun menyadari kebodohanku, cepat-cepat kuusir pemikiran anehku itu. "Iya. Ada apa, Faheem?"

"Eh, kamu simpan nomerku?" Ia seperti Tak menyangka aku mengenali nomornya.

"Kamu suruh gitu tadi," kataku.

"Oh,iya yah," ia terkekeh pelan.

Duh, Ameera. Kuatkan telinga dan hatimu!

"Ada apa?" Tanyaku.

Jeda terbentang sebentar lalu terdengar suaranya berucap, "Boleh kita ketemuan?"

***

Dan di sinilah kami berdua.

Duduk satu meja saling berhadapan di tempat makan sederhana yang tidak jauh dari kantor kami.

Sungguh, ini lebih mendebarkan dari ujian kelulusan untuk diterima di universitas dulu atau wawancara kerja yang pernah aku ikuti.

Bahkan kencan pertama dengan Dion seingatku tidak semendebarkan ini.

Ah, apakah Aku sudah terlalu lama menyendiri sampai lupa rasanya seperti apa?

Untungnya Faheem cukup luwes untuk selalu bercakap denganku sehingga suasana kami berdua tidak semenegangkan seperti yang Aku pikirkan selama perjalanan ke tempat ini, hingga tak terasa makananku sudah habis.

Sekarang kami tengah menikmati minuman kami yang tersisa.

"Kamu beneran lagi cari jodoh?" Tanyanya sedikit mengagetkanku karena tiba-tiba membahas tentang masalah itu.

Aku tersenyum sedikit kecut. "Mungkin..."

"Kenapa?" Ia bertanya lagi,Kali ini kelihatan lebih serius dan sedikit mencondongkan badannya ke depan,menumpunya dengan kedua tangannya.

Aku terdiam sebentar.

"Kenapa?" Ucapku mengulang pertanyaannya. "Keluargaku yang suruh..."

Emang bener,kan?

Dan jawabannya tentu saja membuat Faheem mengernyitkan dahinya. "Maksudnya?"

"Ya kamu taulah, gimana reaksi orang tua yang punya anak udah mau menginjak kepala tiga tapi gak Ada satu pun laki-laki yang ia bawa ke rumah."

Dan entah kekuatan dari Mana, akupun memberanikan diri menceritakan kondisiku perihal undangan sepupuku itu dan segala usaha Rika mengenalkanku pada segala macam bentuk pria.

Faheem mengangguk-angguk seperti memahami keadaanku.

"Memang berapa usiamu?" Tanyanya.

Hmmm, kenapa aku merasa jadi diwawancarai begini ya?

"28," jawabku perlahan, sedikit malu.

"28 gak tua kok," ucap Faheem.

"Menurutmu. Menurut mereka nggak," keluhku.

Faheem terkekeh mendengar perkataanku.

Ah, tawa itu lagi. Ternyata aku salah, aslinya lebih enak didengar...

"Kamu...berapa?" Ganti aku yang penasaran.

"Coba tebak," Ia menantangku dengan tersenyum.

Mau tak mau aku semakin memperhatikan wajah tampan di depanku ini. Bukannya sibuk memikirkan usia, aku malah lebih tertarik pada sepasang mata cokelat mudanya itu. Belum lagi rahangnya yang cukup tajam membuatnya semakin kelihatan maskulin walaupun wajahnya terlihat cenderung manis.

"Jadi mau nebak atau mau bilang kalau aku ganteng?"

Ucapannya tentu saja membuatku seperti maling kepergok sedang memilih barang curian oleh pemilik rumah. Aku segera menundukkan kepalaku dan menyeruput minumanku.

Faheem terkekeh lagi.

Duh...

"Aku tiga lima," ujarnya membuatku mendongakkan kembali kepalaku, menatapnya setengah tak percaya.

"Gak percaya?"

Setelah berkata, ia bergerak mengeluarkan dompetnya Dan membukanya untuk mengambil sesuatu. Dan sesaat kemudian, sebuah kartu identitas terpampang di dekatku.

2 November 1985...

Tanpa sadar aku menyimpannya dalam slot memoriku.

"Udah percaya, kan?" Katanya sembari mengembalikan kartu tersebut dalam dompetnya.

Aku hanya tersenyum tipis. Faheem menurutku malah terlihat seumuran denganku.

"Aku malah gak percaya kamu udah 28 tahun," ujarnya.

Aku cemberut. "Gak usah pura-pura buat nyenengin orang."

"Beneran!"

Aku tahu Faheem pasti becanda tapi biarlah, biar bahagia sedikit hati ini.

"Jadi soal cari jodohnya beneran?"

Aku yang sedang tersenyum mendadak diam. Kupandang lelaki itu yang sepertinya serius.

"Memangnya kenapa?" Aku bertanya balik.

"Aku juga lagi cari jodoh," ucapnya membuatku membulatkan mataku seketika.

Debaran jantungku tiba-tiba meningkat dan segera kusesap minumanku untuk menenangkan diriku.

Ayolah, Meer. Kayak dia yang mau jadiin kamu jodohnya aja! Jangan ge-er!

"Kamu mau ... jadi tunanganku?" Pertanyaan Faheem sontak membuatku tersedak oleh minuman yang sedang aku teguk.

Sambil terbatuk-batuk penuh dengan keterkejutan, aku memandang lelaki itu dalam kebingungan. Jantungku sontak semakin berdetak tidak beraturan tanpa diminta.

Entah berapa lama kami diam dalam keheningan dengan saling menatap. Aku dapat merasakan hati dan kedua pipiku menghangat secara perlahan.

"Maksudku...tunangan pura-pura!" sahutnya tiba-tiba meralat membuat aku kembali syok untuk yang kedua kalinya.

Namun kali ini hatiku yang sudah melambung tinggi tadi seperti terlempar ke dasar jurang yang cukup dalam...

Hancur...

"A..apa?" aku bertanya hampir bergumam, berusaha tenang dan semakin tak mengerti dengan tujuan lelaki ini.

Ah, ya...tentu saja. Mana mau sih lelaki seperti Faheem akan berakhir dengan perempuan seperti aku...

Aku tertawa miris dalam hati berusaha menahan keras airmataku yang sedikit mendesak-desak minta keluar.

"Maksudku...," Faheem menggaruk kepala belakangnya ikutan bingung lalu menghela nafas panjang.
"Kakekku memintaku membawa pasangan ke acara keluarga, entah kesurupan apa-"

"Jangan ngatain orang tua seperti itu!" Potongku tak suka, memandangnya tajam.

"Maaf. Kakekku tahu-tahu sudah memberi tahu keluarga besar kami bahwa aku sudah tunangan dan akan ikut serta ke acara keluarga nanti. Tapi masalahnya aku gak punya tunangan!"

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali memperhatikan tingkah Faheem yang di luar dugaan. Emosinya seperti tercampur aduk menjadi satu.

Setelah menunduk cukup lama, ia kembali menatapku. Aku pun memberanikan tetap menatapnya.

"Gimana?" Tanyanya pelan.

"Apanya?" Aku bertanya balik.

"Tawaranku tadi...," Ucapnya ragu, melihat reaksiku yang mungkin di luar dugaannya. "Maksudku, kamu kan sedang cari jodoh untuk keluagamu terus aku juga jadi mungkin Kita bisa...saling ... Bantu."

Faheem terlihat ragu melihatku masih diam saja, membiarkan dirinya menatapku dengan gusar.

Sepertinya ia ingin sekali mendapatkan jawaban "iya" dariku. Melihat itu, hatiku entah mengapa bertambah perih saja.

"Apa kamu selalu seperti itu?" Tanyaku datar.

Ia kelihatan bingung. "Apa?"

"Muncul seenaknya lalu memintapun dengan seenaknya juga, yang kamu pikir semua perempuan akan setuju dengan tawaranmu?"

***

Comments

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...