"Apa kamu selalu seperti itu?" Tanya Ameera datar.
Aku pun bingung. "Apa?"
"Muncul seenaknya lalu memintapun dengan seenaknya yang kamu pikir semua perempuan akan setuju dengan tawaranmu?"
Mendengar kalimat itu keluar dari bibir perempuan di depannya membuat aku terhenyak saat itu juga. "A..apa?"
"Segampang itu kamu menjadikan sebuah pertunangan sebagai permainan? Ah, bukan. Segampang itu kamu menjadikan perempuan sebagai permainan?"
Pelan, suara Ameera terdengar pelan di telingaku tapi begitu menusuk hatiku bagaikan sebuah tombak yang memiliki beribu-ribu mata pisau, yang mampu memberikan luka sobek dan mengkoyak-koyakkannya.
Aku tak pernah peduli dengan perkataan sejenis dari semua perempuan yang pernah berhubungan denganku namun saat kudengar dari gadis di depanku ini, entah mengapa itulah yang aku rasakan. Apalagi aku dapat melihat mata Ameera yang berkilat sedih bercampur amarah.
Aku pun menelan ludahnya dengan susah payah dan berniat untuk meluruskan apa yang tengah terjadi. "Ameera, aku-"
Tiba-tiba perempuan itu sudah berdiri dari duduknya sembari menatapku tajam, sekaligus nanar. "Jangan pernah hubungi aku lagi kalau hanya untuk main-main."
Ameera pun pergi meninggalkan meja dan diriku yang terpaku melihat punggung perempuan itu menjauh.
***
Aku men-scroll dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas seluruh kontak di ponselku begitu seterusnya entah untuk yang keberapa kali. Awalnya aku berniat mencari satu nama yang dapat kuajak untuk acara keluarga namun lambat laun pikiranku kembali kepada pertemuaku dengan Ameera, terlebih perkataan perempuan itu yang sungguh di luar dugaan.
Kuhela nafasku dengan sangat panjang dan berat. Aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi sebelumnya antara aku dan Ameera sehingga menimbulkan selisih paham. Saat aku mengutarakan maksudku untuk menjadikan gadis itu sebagai tunangankku, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebagian diriku berkata dengan sungguh-sungguh.
I didn't know why but that's the feel that I felt.
Ia tak tahu kalau saat mengatakan hal itu aku gugup setengah mati karenanya. And I've never been liked that before! Permintaan itu tidaklah main-main, mengingat bagaimana sosok Ameera.
Namun saat melihat reaksi gadis itu tak sesuai dengan harapanku serta untuk menutupi rasa malu dan egoku, karena merasa Ameera menolakku, aku pun tanpa berpikir panjang mengucapkan "tunangan pura-pura" yang ternyata berujung salah paham dengannya.
"Aarrggh," Aku menjambak rambutku frustrasi lalu merebahkan diriku ke atas kasur.
Kutatap langit-langit kamar dan yang ada malah wajah Ameera terlukis di sana. Aku kembali menghela nafas panjang dan berat.
Mengapa hatiku begitu terusik dengan kehadiran gadis itu?
Aku pun segera duduk di pinggiran ranjang dan mencari nama Ameera di ponselku. Sungguh, aku berhutang maaf pada gadis itu melihat bagaimana raut wajah sedih saat Ameera meninggalkanku.
Namun saat aku hendak menghubunginya, keraguan kembali timbul dalam diriku.
Apakah Ameera akan mengangkat telponku? Apa Ameera mau mengerti? Ameera mungkin sudah menganggapku sebagai pria bodoh yang suka mempermainkan wanita dan tidak serius.
"Aaaah! Bodo ah!" Teriakku sambil melempar ponselku ke atas nakas berusaha untuk tidur.
***
Sesuai dugaanku, Aan tertawa terbahak-bahak setelah aku menceritakan masalahku. Untung kami sedang berada di rooftop, menghabiskan istirahat siang kami, jadi tidak ada orang yang akan melihatnya berkelakuan seperti itu.
Ingin rasanya kulempar sepatu ke wajahnya yang sepertinya bahagia sekali melihat aku kebingungan namun terlalu sayang karena dirinya tak sebanding dengan harga sepatuku.
"Ternyata elu bisa juga ya gak laku," ucap Aan setengah mengejek.
Aku hanya tertawa kecut. Sebetulnya aku seperti ini bukan karena kegagalanki membawa seorang perempuan tapi lebih karena alasan Ameera menolakku.
Setelah aku dibuat penasaran dengan wajahnya yang familiar, semalam aku dibuat tak dapat tidur karena memikirkan perkataannya.
"Ya udahlah comot siapa gitu kek," ucap Aan setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Gak bisalah! Gila apa! Bisa tambah besar kepala ntar cewek yang gue ajak!" sergahku setengah mengumpat.
"Makanya, kalo elu gak aneh-aneh gak bakalan puyeng kayak begini, kan?" Aan terkekeh lagi.
"Gak usah bac*t ajah kalo gak ada solusi!" Aku manyun.
Kami terdiam sebentar, menyeruput kopi yang kami bawa dari pantry tadi, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tidak tahu Aan memikirkan apa, yang pasti aku masih memikirkan solusi atas masalah yang tak berujung ini.
"Trus, lusa gimana? Tetep dateng?" Tanya Aan setelah beberapa saat.
"Datenglah. Gue udah janji ama Kakek," ucapku lirih, menaruh cangkir kertas yang kupegang di dekat kakiku.
"Kalo belum nemu ceweknya?" Cecar Aan lagi.
"Ya yang malu kan Kakek, bukan gue. Gue mah abis dateng tinggal ngluyur pergi juga bisa!" Ujarku membuat Aan menggelengkan kepalanya.
"Elu tuh, Heem. Gak paham gue ama jalan pikiran elu. Kalo gue jadi elu mah, tinggal duduk manis aja di rumah. Orang pada pengen punya banyak duit nah elu malah kabur."
Perkataan Aan hanya membuatku tersenyum miris. Ia hanya belum paham bahwa bergelimang harta tidak selamanya akan bahagia.
Ia tidak tahu bagaimana semua kehendak dan keinginanku terkekang demi menomor satukan kepentingan keluarga, segala gerak gerikku terawasi, jadwal yang sudah tersusun di depan mata tanpa aku tahu kapan itu dibuat.
Belum lagi tikungan-tikungan dari kanan kiri yang membuatku selalu terasa sesak.
"Heem, malah bengong!"
Suara Aan menyadarkan dari lamunan.
"Ya udah balik, yuk!" Ujarku sambil berdiri.
Biarlah urusan dengan Kakek perihal tunangan itu akan kuselesaikan pada saatnya nanti.
Saat hendak melangkah, ponselku bergetar. Akupun segera meraihnya dari saku celana namun begitu tahu siapa yang menelpon segera kutekan tombol merah gemas.
Sambil mengomel, segera ku bergegas menuju pintu.
"Fans gila elu ya?" Ucap Aan mengekor di belakangku.
"Brisik!" Sentakku membuatnya terkekeh.
Dan ponselku pun bergetar lagi. Saat kuraih benda itu dan bersiap untuk mendamprat, ternyata Kakek yang menghubungiku.
"Halo!" Sahutku cepat setelah mengangkatnya.
Melihat itu, Aan pamit padaku untuk duluan turun yang kuiyakan dengan anggukan.
"Kalau angkat telpon ucapin salam, Heem. Assalamu'alaykum dulu baru Halo," gumam suara agak serak dari seberang.
"Iya, iya. Samlekom," ujarku asal.
Mungkin Kakek geleng-geleng kepala di sana.
"Wa'alaykumsallam. Gimana?"
"Apanya?" Aku tak mengerti. Pura-pura tepatnya.
"Udah nemu tunangannya?"
"Kek, Kakek nanyain tunangan kayak ngomongin kacang rebus aja. Ini Kita lagi ngomongin soal jodoh-"
Tawa Kakek dari seberang membuatku berhenti berkata-kata.
Emang ada yang lucu?
"Kamu bisa mikir jodoh juga, Heem? Kakek pikir kamu gak pernah mau serius sama perempuan."
Entah kalimat itu sindiran atau pujian namun tetap saja aku dibuat tak enak hati karenanya.
Gini-gini juga aku masih punya perasaan yang aku jaga untuk aku berikan pada satu orang yang sanggup membuatku membuka hatiku pada orang tersebut.
"Nanti malam kamu ke rumah. Kakek mau ngomong sesuatu ke kamu," ujar Kakek sedikit datar.
"Sekarang Aja,Kek. Nanti-"
"Gak bisa. Harus face to face. Kakek tunggu. Assalamu'alaykum."
Dan hubungan pun terputus, membuatku menghela nafas panjang.
***
Setelah pulang dari kantor, sesampainya di rumah Aku segera membersihkan diri sebentar dan berangkat menuju rumah Kakek.
Perjalanan menempuh waktu sekitar setengah jam sebelum akhirnya aku sampai, disambut dengan terbukanya gerbang secara otomatis diikuti anggukan seorang penjaga.
Kuarahkan mobilku menuju lobi yang menyambung dengan pintu masuk depan.
Aku sungguh tak ingin tinggal terlalu lama di rumah nan megah itu karena auranya terlalu menyeramkan untukku. Selain mengingatkanku tentang kedua orang tuaku, entah mengapa aku merasa tak terlalu nyaman jika harus berlama-lama di sana.
Akupun turun dari mobilku. Seorang lelaki muda yang sudah sedari tadi menungguku mdndekatiku dengan senyum ramahnya. Kubalas senyum itu sembari menyerahkan kunci mobilku padanya.
Setelah berjalan sebentar, kuhentikan langkahku di depan pintu berwarna putih gading lebar yang menjulang tinggi.
Sudah berlama aku tak kemari? Batinku tiba-tiba sedih.
"Tuan Muda,"
Panggilan itu sontak membuatku membalikkan badan ke arah suara. Kudapati seorang lelaki paruh baya tersenyum ramah mendekatiku.
"Pak Somat," ucapku lirih.
Dia adalah asisten sekaligus supir pribadi Kakek yang bekerja di rumah ini sejak almarhum ayahku masih muda hingga saat ini. Kalau dihitung-hitung mungkin usia Pak Somat hampir sama dengan ayahku.
Dan beliau satu-satunya sosok yang dekat denganku selama aku tinggal di rumah ini.
"Apa kabar, Tuan?" Tanya Pak Somat masih dengan senyum ramahnya.
Aku tak membalas apapun kecuali memeluknya erat membuat pria itu tertawa kecil membalas pelukanku sambil menepuk punggungku perlahan.
Seketika kehangatan menyelimuti relung jiwaku yang selama ini terlalu lama dingin...
"Ditunggu Tuan Besar di kolam renang belakang," Pak Somat berkata perlahan setelah beberapa saat.
Aku pun menarik diriku pelan, sedikit merasa bingung. Tidak biasanya Kakek duduk di sana kalau untuk berbicara denganku.
Aku mengangguk lalu berjalan menuju ke tempat yang dimaksud. Setelah melewati ruang depan yang cukup panjang, lalu beranjak ke ruang keluarga yang menyambung dengan ruang makan, aku membelokkan diri ke arah pintu geser berkaca dari atas hingga bawah yang menyambungkan ruangan itu dengan kebun belakang rumah di mana letak kolam renang berada.
Tampak Kakek sedang duduk di salah satu kursi di ponggiran kolam, terdiam memandangi langit yang kali itu tampak cerah namun tak berbintang, dengan kedua telapak tangan di atas tongkatnya.
Tidak ada suara apapun kecuali gemericik air yang mengisi kolam.
Sebelum melangkah mendekat, kutatap lekat-lekat lelaki yang usianya hampir mencapai tujuh puluh itu.
Entah mengapa kali ini Kakek tidak terlihat tegar seperti biasanya yang aku kenal. Ia terlihat seperti seorang pria tua yang kesepian...
Aku menghela nafas sebentar lalu berjalan perlahan ke arahnya.
"Oh, sudah datang?" Sahutnya setelah menyadari keberadaanku.
Kusunggingkan senyum tipis di bibirku lalu duduk di kursi kosong di sebelahnya. Kami terdiam untuk beberapa saat.
"Kamu mau teh? Tadi Mbok Nah siapin, nih. Kamu kan paling suka buatannya Mbok Nah," Kakek membuka percakapan menoleh padaku tersenyum tipis.
Aku pun mengangguk dan ikutan tersenyum. "Kakek mau?"
"Boleh...,"
Aku membalik dua buah cangkir putih menghadap ke atas lalu meraih teko dengan warna senada. Semua perabotan di depanku ini masih terlihat bersih dan terawat padahal kami sudah memakainya bertahun-tahun.
Aku ingat betul Ibu suka menggunakannya untuk menyajikan teh tiap sore di ruang keluarga.
Ah, Ibu...
Tanpa sadar aku mengatupkan rahangku keras.
Setelah teh yang kubuat jadi, Kakek mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja yang ia pakai. Sebuah wadah plastik kotak berisikan dua buah tablet yang tampak seperti obat di mataku.
Jantungku seketika berdetak aneh.
"Apa itu, Kek?"
Kakek bukannya menjawab malah tersenyum sambil mengeluarkan kedua tablet tersebut dan memasukkannya sekaligus ke dalam mulutnya kemudian meraih salah satu cangkir teh dan segera meneguknya perlahan.
Aku menunggunya hingga selesai dengan rasa penasaran bercampur kuatir.
"Kek...," Panggilku cepat begitu melihat Kakek menaruh cangkir itu kembali ke atas meja.
"Tumben kamu penasaran banget sama Kakek. Biasanya juga cuek gak mau tahu...,"
Aku menghela nafas diam-diam. Tuduhan Kakek tidak sepenuhnya benar. Pak Somat dan aku lumayan sering berkomunikasi untuk sekedar menanyakan kabar Kakek. Asisten setia Kakek itu sering mengabarkan kondisi terakhir keluarga kami entah apa pun itu kecuali kesehatan Kakek.
Mengapa Pak Somat merahasiakannya?
"Kakek becanda," lelaki tua itu terkekeh kecil. "Pak Somat cerita kok kalau kamu sering komunikasi dengannya."
Aku segera membuang pandangku ke arah lain, sedikit malu tertangkap basah bahwa aku masih peduli dengannya.
"Kakek yang minta Pak Somat gak cerita ke kamu. Tapi, kayaknya sekarang sudah waktunya kamu tahu. Heem, waktu Kakek gak akan lama lagi."
Aku sontak terkejut mendengar itu dan segera menatapnya tak percaya.
"Kakek jangan becanda-"
"Cuma kamu sama Pak Somat yang tahu. Kakek gak mau keluarga lain juga tahu. Bisa semakin menggila mereka kalau kabar ini sampai tersebar," potong Kakek cepat setengah mengomel.
Aku hanya diam, tak peduli dengan keluarga besarku, karena masih berusaha mencerna perihal sakitnya Kakek seraya menatap wajah tua di sebelahku. Walaupun kami memang sering berselisih paham, namun tak dipungkiri hati kecilku takut kehilangan sosok ini.
Sosok yang senantiasa merawatku setelah kedua orang tuaku tidak ada lagi di sampingku. Walaupun kepayahan dan caranya mungkin terlalu keras menurutku, namun Kakek berusaha merawatku dengan baik.
"Makanya Kakek bilang kamu udah tunangan. Biar mereka gak usik-usik kamu. Nanti kalo Kakek mati...,"
"Kakek!" Aku sontak setengah berteriak tak suka.
"Heem," Kakek mendesah,menatapku nanar.
Aku semakin patah hati.
"Bisa kan kamu mengabulkan permohonan Kakek kali ini aja?" Tanyanya perlahan.
Sorot matanya membuatku leherku menjadi sakit karena menahan agar air mataku tak menyeruak keluar.
Ah, sejak kapan aku jadi cengeng begini??
"Kembali ke rumah ini, Heem. Temani Kakek...," Ucap Kakek lirih. "Juga...Kakek harap, kamu benar-benar menikah sebelum Kakek pergi selamanya..."
Kutatap dalam-dalam mata renta di depanku yang berkilat memancarkan harap yang besar sekaligus sedih.
Permintaan pertama mungkin dapat kukabulkan. Namun yang kedua?
Aku menelan ludahku dengan susah payah...
***
Assalamu'alaykum
Makin absurd aja ya ceritanya? 😂.
Makasi yaaa buat yang masih membaca cerita recehku ini. Silahkan tinggalkan komen, akan menyejukkan hariku hihi.

Nyimak terussss. Seru banget ceritanya.
ReplyDeletehay kakak fey. makasi lho udah mantengin cerita retjeh ku wkwkwk.
DeleteI'm baaaack !! 💃💃
ReplyDelete