"Kamu...mau jadi tunanganku?"
Aku mengerang penuh kekesalan setiap mengingat kejadian itu muncul di kepalaku tanpa diminta. Apalagi Faheem berkata dengan wajahnya yang serius tanpa terlintas urat bergurau sedikitpun.
Ingin sekali aku menyiram segelas air ke arahnya saat mengetahui maksud sebenarnya di balik ia mengucapkan kalimat itu.
Kupikir dia...
Aku mendesah panjang sambil menyandarkan punggungku ke sofa. Sudah dua hari sejak kejadian memalukan itu namun sesaknya masih saja terasa di dadaku.
Sejak saat itu, aku semakin bertanya-tanya apakah aku sebegitu menyedihkannya di mata lelaki yang bahkan baru kukenal? Hingga ia dengan begitu yakinnya mengajukan penawaran seperti itu?
Aku menghela nafas lagi lalu melihat ke arah jam di dinding sekilas.
Masih pukul tujuh lebih dan Rika juga sedang tak ada di rumah, sibuk dengan kegiatan barunya - kencan dengan Aan. Jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar untuk menghirup udara segar, berharap dapat mengusir segala keresahan dalam diriku.
Akupun mengganti pakaian menjadi lebih pantas lalu segera meraih jaketku sebelum akhirnya keluar rumah dan menguncinya.
Ada sebuah taman cukup luas di dekat area tempat tinggal kami. Sejak datang di kota ini untuk bekerja dan pindah di rumah kontrakan bersama Rika, aku memang senang menghabiskan waktu sendirian di sana apalagi jika merasa penat melanda.
Taman itu berjarak sekitar sepuluh menit kalau berjalan kaki. Karena rumah kami dekat dengan kantor, taman ini pun juga tidak terlalu jauh dari sana. Terkadang kalau jenuh dengan pekerjaan, aku juga suka memilih menghabiskan sebentar waktu istirahatku di tempat ini ketimbang di kantin yang penuh sesak dengan orang.
Setelah sesampainya di sana, aku mencari sudut dimana aku dapat menyendiri untuk beberapa saat karena malam itu, karena terlihat cukup banyak pengunjung yang datang. Mungkin karena hari ini adalah hari Jum'at.
Aku memilih duduk di sebuah kursi taman yang kosong menghadap ke arah tempat bermain anak-anak yang memiliki berbagai macam permainan sehingga ada beberapa pasang orang tua yang sedang menikmati waktu mereka bersama dengan anak-anak mereka, membuatku tersenyum samar.
Sejak dulu, sejak aku hobi "menyendiri" di sini, ini adalah salah satu aktivitas yang aku sukai. Memperhatikan setiap keluarga kecil yang ada di sana, dengan berharap aku juga akan memiliki keluarga kecilku sendiri. Apalagi saat itu aku masih berhubungan dengan Dion membuat khayalanku semakin sempurna.
Bagaimana kami dengan penuh canda dan tawa bermain bersama anak-anak kami.
Tiba-tiba aku tersenyum miris, menyadari keadaanku sekarang yang bagaikan perawan tua, duduk sendiri meratapi nasibnya yang tidak jelas.
Aku menengadahkan kepalaku perlahan, mendapati langit hitam pekat cerah tak berbintang.
Mungkin... kuterima saja tawaran "gila" lelaki sialan itu biar aku tak lagi menyandang status yang memalukan bagi keluargaku ini, batinku mulai sedikit goyah.
Kali aku tertunduk dengan bahu menurun, menyadari betapa sudah aku tak lagi memikirkan harga diriku hanya demi apa?
Menyelamatkan keluargaku atau mukaku sendiri?
Aku menghentakkan kakiku perlahan sebal sembari bangkit dari dudukku. Sudahlah, Aku tak ingin memikirkannya lagi lebih jauh. Cukup sudah kupasrahkan hidupku kepada Sang Pemberi Hidup.
Aku pun melangkahkan kaki ke arah para penjual jajanan yang berada di pinggir taman. Kuputuskan untuk menikmati malam ini tanpa harus berpikir yang tidak-tidak.
Penjual makanan ringan berupa kue leker pun menjadi incaranku. Kue garing berisi cokelat dan pisang serta sedikit gula pasir itu memanglah menjadi favoritku semenjak aku mengenal camilan tersebut.
"Malam, Pak Jo," sapaku begitu berdiri di samping seorang laki-laki tua yang sedang sibuk Melayani pembeli yang cukup banyak dari balik gerobak sederhananya.
Yang kusapa menoleh sekilas. "Eh, mbak Amirah!"
Panggilan Pak Jo dengan suara medoknya yang khas untukku memang selalu memgundang senyum.
"Sendirian, mbak?" Tanya pria tersebut.
Aku lagi-lagi hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu lalu mengangguk perlahan.
Kamu memang ke sini sendirian kan, Meer. Gak usah baper, batinku menenangkan diriku sendiri.
"Kayak biasanya?" Tanyanya tanpa melihatku, sibuk dengan dagangannya.
"Iya, Pak," jawabku.
"Ditunggu ya, Mbak. Banyak yang ngantri," Pak Jo berusaha menjelaskan.
"Alhamdulillah. Saya tunggu di situ, ya," kataku sambil menunjuk tempat duduk kosong dekat tempatku berdiri.
Lelaki itu mengangguk dan tersenyum sambil terus melayani pembelinya.
Saat aku sedang menunggu sembari memperhatikan orang yang lalu lalang, aku mendengar suara yang tampaknya familiar di telingaku.
"Pak, sepuluh, ya!"
Aku pun spontan menolehkan pandangku ke arah suara itu dan terkejut mendapati siapa yang sedang berdiri di dekatku dan dengan segera aku berusaha keras untuk menjadi tidak terlihat saat itu oleh sosok tersebut. Kutundukkan dalam-dalam kepalaku berharap semoga ia tak menyadari bahwa aku sedang berada di sana.
Sebenarnya aku ingin sekali pergi dari tempat itu, tapi aku tak enak hati karena sudah terlanjur memesan pada Pak Jo jadi aku hanya dapat berdo'a agar sosok itu tidak melihatku.
"Mbak Amirah! Ini pesanannya!"
Seruqn Pak Jo tentu saja membuyarkan segala rencana dan harapanku membuatku menghela nafas pasrah. Kuangkat perlahan kepalaku dan seperti dugaanku, orang tersebut sudah menoleh ke arah dengan pandangan sedikit terkejut.
"Ameera...," Ucapnya pelan, nyaris bergumam.
Aku hanya tersenyum miris, menerima kue leker dari tangan Pak Jo sembari segera mengeluarkan uang dari saku celanaku.
"Ini, Pak. Terima kasih, ya!" Akupun segera hengkang dari tempat itu, dengan cepat-cepat melangkahkan kaki.
"Eh, Ameera! Tunggu!"
Aku tak mempedulikan suara itu memanggilku. Yang terpenting, aku tak ingin berhadapan dengannya untuk sementara waktu.
Jantungku semakin berdetak cepat mengikuti langkahku yang semakin cepat pula.
"Eeeh, Mas! Ini pesanannya udah saya buat!"
Sekilas kudengar teriakan Pak Jo yang mungkin sedikit menghambat pergerakan lelaki itu. Aku pun segera tak membuang waktu dan semakin mempercepat langkahku sebisa mungkin.
Entah mungkin usahaku tak sebanding dengan tenaga sosok tersebut yang tiba-tiba sudah menjejeri langkahku membuatku sedikit terpekik kaget dan langkahku menjadi oleng karenanya membuatku terjerembab namun aku merasakan sebuah tangan meraih lenganku dengan segera sehingga mencegahku untuk jatuh.
Sayangnya, kue leker favoritku yang mengalami nasib sial. Aku pun hanya dapat menatap nanar ke arah kue-kue yang sudah tergeletak di tanah...
"Kamu...dipanggil...kok malah...lari, sih?" Lelaki itu bertanya di antara nafas pendeknya.
Aku melirik ke arahnya sembari berusaha melepaskan diriku dari genggamannya.
"Eh, maaf," ucapnya setelah sadar dan segera melepas tangannya yang masih memegangi lenganku.
Kami terdiam berdiri mematung tanpa ada usaha untuk memulai percakapan.
Lucu, batinku keheranan. Ngapain ngejar-ngejar kalau cuman buat diem-dieman?
"Mmm...,"
Suaranya mulai terdengar di telingaku, tapi aku tetap menundukkan kepalaku. Aku juga tidak paham dengan diriku sendiri. Katanya benci, tapi mengapa masih kekeuh berdiri di depannya?
"Aku...,"
Lagi-lagi ia menggantungkan kalimatnya yang akhirnya membuatku penasaran dan mengangkat kepalaku.
Dan sepertinya aku telah melakukan kesalahan.
Detik itu juga aku terbawa pada kenangan-kenangan yang pernah terjadi di antara kami berdua, yang melekat tak mau lepas dari slot memoriku. Semuanya berkelebatan dan berebut untuk bermunculan tanpa diminta membuat dadaku terasa sesak tiba-tiba, mendesak air mataku untuk keluar namun aku berusaha keras agar tak satupun aliran bening itu tercipta walaupun aku harus menahan sakit di leherku.
"Apa ... kabar?" Tanya lelaki itu pelan lalu tersenyum sedikit miring, mungkin sepertinya menyadari pertanyaan bodohnya.
Aku menelan ludahku dengan susah payah.
"Aku...harus pulang," ucapku lirih sembari memutar balik tubuhku.
Namun tangannya kembali meraih lenganku, mencegahku untuk menjauh.
"Tunggu! Meer...,"
Aku menyentak perlahan genggamannya namun tak juga terlepas. Kupaksa diriku untuk menatap tajam ke arahnya berharap ia menjauhkan diri dariku namun tak disangka genggamannya malah semakin menguat membuatku membulatkan mataku.
"Meer, please...," Ucapnya.
"Lepasin, Yon," desisku menatap lelaki itu tak suka sembari berusaha kembali membebaskan diri.
"Meer...,"
"Bro, kalau dia bilang lepasin ya lepasin,"
Ucapan seseorang yang tiba-tiba muncul sungguh mengagetkan kami berdua, terutama aku, membuat kami menoleh ke arah suara.
Aku mendapati Faheem berdiri di dekatku, tak lepas memandang tajam ke arah Dion.
Nafasku tertahan melihat kehadiran lelaki lain yang juga sedang tak kuinginkan kehadirannya malam ini.
Mereka pun saling bertukar pandang dengan tatapan yang tak dapat kuartikan dan aku hanya bisa diam sembari memikirkan mengapa kebetulan yang tak mengenakkan ini harus terjadi...
Mengapa aku harus dipertemukan dengan dua orang lelaki yang sedang tak ingin aku temui secara bersamaan...
"Lepasin, Bro...," ucapan Faheem pelan namun tegas menyadarkanku.
Ia mengisyaratkan dengan matanya agar Dion segera meluluskan permintaannya.
Walaupun sebelumnya Dion terlihat menantang Faheem membuatku berdo'a agar mereka tidak melakukan hal-hal aneh, akhirnya Dion pun melakukan apa yang diminta sembari sedikit mengeraskan rahangnya.
Setelah terbebas, aku beringsut perlahan ke belakang Faheem.
Entah mengapa...
Pergerakanku membuat Dion mengernyitkan dahinya sebentar saat memperhatikanku lalu pandangannya kembali menuju Faheem.
"Siapa ka-"
"Dia tunanganku!" sahutku cepat memotong pertanyaan Dion yang tentu saja membuat kedua lelaki di dekatku ini terbelalak kaget mendengar jawabanku.
Apalagi aku...
***
Assalamu'alaykum
Makin gak jelas dan receh ya cerita ini
😂😂😂
Komen kalian mencerahkan hariku lho hihi.
Sarangahae ❤️
D.S.L
Comments
Post a Comment