Skip to main content

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 9



Iya, aku jadi ajaib gara-gara gadis ajaib ini.
***

Mengobrol segala macam hal bersama Kakek, berhasil membuatku terjaga semalaman karena memikirkan keadaannya. Sebelum pulang, Kakek tetap memintaku untuk memikirkan apa yang sempat ia sampaikan. 

Saat mengantarku ke depan, Pak Somat segera menyampaikan penjelasan dokter perihal kesehatan Kakek yang lansung membuatku pusing mendadak. Intinya, usia Kakek diperkirakan hanya dapat bertahan sekitar dua sampai tiga tahun lagi. Itupun jika kondisi Kakek mendukung, termasuk kondisi hati dan pikirannya.

Sejak menginjakkan kaki di kantor, aku mengubur diriku dalam pekerjaan berharap mengenyahkan barang sebentar pikiranku tentang Kakek. Tanpa kusadari, kecemasanku meningkat tanpa diminta. Aku bahkan tak mengindahkan Aan kecuali ajakannya untuk sholat Juma'at.

Temanku ini sampai sekarang masih takjub dengan kebiasaanku yang berstandard ganda. Di sisi lain aku suka bermaksiat, namun ibadah lima waktu juga tak pernah kutinggalkan walaupun terkadang kulakukan di penghujung waktu. Jika ia bertanya, aku pun tak pernah mau membahasnya.

Tanpa terasa,  aku berada di kantor hingga hampir pukul setengah delapan malam. Kupandang sekelilingku yang sudah sepi termasuk sisi sebelahku. Sepertinya aku tak menyadari saat Aan pamit padaku tadi.

Kuraih ponsel yang sedari tadi kubiarkan begitu saja di laci meja kerjaku. Saat kuperiksa, sebagian besar panggilan terjawab adalah dari para fans beratku yang membuatku menghela nafas dan merasa lelah tiba-tiba dengan kebiasaanku itu, dan ada satu panggilan dari Pak Somat.

Aku pun segera menghubungi kembali pria itu sembari berjalan keluar ruangan.

"Assalamu'alaykum. Ya, Tuan Muda?" Sapa dari seberang.

"Wa'alaykumsallam. Pak, bisa gak sih panggilan saya diganti? Geli dengernya!" Keluhku yang sudah kulakukan bertahun-tahun lamanya namun tak kunjung dikabulkan.

Dan seperti biasanya Pak Somat hanya terkekeh pelan mendengar permintaan berulangku itu.

"Pak Somat kenapa telpon?" Tanyaku.

"Soal acara besok. Saya jemput jam 10 pagi. Kita berangkat dari rumah Kake-"

"Udah kayak anak TK aja dijemput," sergahku cepat. "Saya dateng sendiri aja Pak ke tempat acara. Di gedung biasanya kan?"

"Ehm...iya, Tuan," suara Pak Somat terdengar ragu.

"Kenapa? Pak Somat gak percaya saya bakal dateng?" Tanyaku sedikit tak terima.

"Bukan begitu, saya cuma-"

"Saya udah janji sama Kakek, Pak. Saya pasti dateng," ucapku meyakinkan pria paruh baya di seberang.

Hening terbentang sebentar, laku terdengar helaan nafas dari Pak Somat sebelum ia berkata, "Saya tunggu kehadiran Tuan besok."

"Iya, saya pasti datang."

"Baiklah. Saya percaya Tuan. Jangan lupa pakai yang sepantasnya ya Tuan, jangan pakai sandal jepit," Pak Somat mengingatkan membuatku terkekeh pelan.

Pertemuan terakhir yang entah kapan itu aku sendiri lupa, aku memang mengenakan baju seadanya yang menempel di tubuhku karena Pak Somat yang tiba-tiba "menculikku" dari rumah atas perintah Kakek tanpa sempat mengganti pakaianku. Jadilah Aku menghadiri pertemuan tersebut hanya dengan memakai kaos oblong, celana pendek rumahan dan sandal jepit.

Aku sih gak masalah, karena gimana-gimana juga aku tetap ganteng. Mereka saja yang risih melihatku seperti itu padahal aku masih pakai baju.

"Ada lagi?" Tanyaku sebelum akan mengakhiri percakapan.

"Tuan sudah makan?"

Pertanyaan lelaki itu membuatku tertegun sebentar.

Sepertinya sudah lama aku tidak diperhatikan seperti ini...

"Hmm, belum," Jawabku sedikit bergumam.

"Jangan kelewatan. Saya paham Tuan kuatir dengan Tuan Besar tapi jaga kesehatan."

Aku tersenyum tipis mendengar perkataan tulus Pak Somat. "Iya."

"Kalau begitu, sampai bertemu besok," pamit Pak Somat sebelum akhirnya mengucap salam dan mengakhiri panggilan.

Aku menghela nafas panjang dan tersadar bahwa aku sudah berada di tempat parkir. Aku pun berjalan mencari mobilku. Setelah masuk, kunyalakan Mesin dan segera menyetir keluar pelataran kantor.

Perlahan kubawa kendaraanku, mencoba menikmati malam dengan sedikit membuka jendelaku. Saat melewati sebuah taman yang cukup ramai di dekat kantor, aku sedikit tergugah untuk berhenti di sana karena sepertinya menyenangkan hanya duduk memperhatikan keramaian tanpa melakukan apapun. Siapa tahu kepenatanku dapat hilang. Namun ada rasa sedikit enggan dan malas menyelimuti jadi aku pun sedikit melajukan kecepatan mobilku.

Tiba-tiba mataku menangkap sosok yang kukenal sedang mengantri di salah satu gerobak jajanan di pinggiran taman. Kupicingkan mata untuk memperjelas pandangan Dan juga meyakinkan diriku kalau sosok yang kuduga itu memang benar adanya.

"Ameera..," gumamku perlahan dan tanpa berpikir panjang aku pun segera mencari tempat untuk memarkir kendaraanku.

Sedang apa dia di sana? Tanyaku penasaran sembari turun dari mobilku.

Namun saat aku hendak melangkah mendekat, aku tercekat dengan segala tindakanku yang tidak berpikir panjang ini.

Hah, Faheem! What are you doing?? Pekik batinku begitu menyadari aku sudah terlalu tertarik dengan sosok Ameera hingga berbuat seperti ini.

Akupun segera bergerak akan masuk kembali ke dalam mobil dan entah mengapa langkahku kembali terhenti.

No, wait. It's legal! Sebagian diriku meyakinkan aku. Aku kan hutang maaf dengannya karena membuatnya marah. Jadi wajar aja kalau aku memghampirinya untuk itu.

Aku pun membalikkan badan lagi dan berjalan perlahan menuju arah gadis itu yang sudah duduk di bangku menunggu pesanannya mungkin.

Dan sepanjang aku bergerak, entah berapa kali aku memutar balik badanku, berhenti dan kemudian berbalik lagi begitu seterusnya membuatku terlihat seperti orang kesurupan karena beberapa orang melihatku dengan keheranan. Belum lagi aku mengoceh sendiri memperdebatkan kelakuan yang di luar kebiasaan ini.

Saat aku sudah memantapkan hati, aku mendengar seseorang menyebut nama gadis itu cukup keras membuatku segera mencari asal suara.

Terlihat Ameera berusaha menghindari seseorang, tepatnya seorang lelaki, seumuranku sepertinya, dengan berjalan secepat mungkin namun lelaki itu juga berusaha mengejarnya. Aku pun menjadi penasaran seketika dan bergerak mengikuti mereka. 

Tiba-tiba Ameera terpekik pelan dan tubuhnya oleng membuatku terkesiap dan ingin bergerak menolongnya namun lelaki yang mengikutinya itu cukup cepat bergerak menangkap lengan Ameera sehingga mencegahnya jatuh.

Walaupun lega melihatnya, ada sedikit rasa tak suka saat melihat interaksi keduanya terjadi.

Ada apa sih denganku? Semakin tak beres saja ...

Lelaki itu melepaskan genggamannya pada Ameera dan mereka hanya diam mematung tanpa berkata-kata. Rasa penasaranku semakin menjulang tinggi karenanya.

Siapa lelaki itu? Sepertinya mereka cukup dekat.

Tampak si lelaki berusaha mengucapkan sesuatu namun selalu berhenti dan beberapa saat setelah mereka saling pandang, yang entah mengapa membuatku semakin tak enak hati melihat sorot mata mereka berdua.

Detik berikutnya Ameera kembali bergerak menjauh. Belum jauh melangkah, lelaki itu kembali meraih lengan Ameera yang kali ini gadis itu benar-benar tak suka dengan tindakan tersebut. Aku melihatnya ia menyentakkan tangan itu namun pegangan lelaki itu tak kunjung terlepas.

Melihat itu, tanpa diminta pun aku segera melangkah mendekati kedua orang tersebut, walaupun aku sendiri keharanan dengan apa yang akan kulakukan namun merasa harus melakukan sesuatu.

Saat aku sudah berdiri di dekat mereka yang tampaknya tidak menyadari kehadiranku, aku dapat melihat kesedihan yang begitu tampak di mata Ameera.

Hatiku sedikit resah melihatnya.

"Bro, kalo dia bilang lepasin ya lepasin," ujarku yang keluar begitu saja tanpa dapat kucegah.

Seperti dugaanku, keduanya menoleh cepat ke arahku. Dapat kulihat dari sudut mataku, betapa terkejutnya Ameera mendapati aku sudah berdiri di sebelahnya.

Aku menatap tajam ke arah lelaki yang masih saja tak mau melepaskan genggamannya itu.

Mungkin aku memang suka bermain perempuan, tapi bertindak kasar secara fisik bukanlah cara yang baik.

Dan sepertinya lelaki ini pun tak suka dengan apa yang sedang terjadi terutama dengan kelakuanku namun aku tak peduli. Kubalas pandangannya yang menghunjam ke dalam mataku seakan ingin memakanku hidup-hidup.

Pasti dia seseorang yang spesial buat Ameera sampai berani menatapku seperti itu. Berasa dipandang sebelah mata...

"Lepasin, Bro...," Ucapku pelan namun tegas diikuti dengan pandanganku yang semakin tajam dan sedikit bersiap jika lelaki itu melakukan perlawanan tak terduga.

Karena itulah lelaki. Ego kami terlalu besar jika harus terlihat kalah oleh lelaki lain.

Ia pun akhirnya melakukan apa yang kuminta walaupun sempat kulihat sedikit mengeraskan rahangnya.

Setelah terbebas, dan tanpa kuduga, Ameera beringsut perlahan ke belakangku.

Entah mengapa, hatiku tiba-tiba berdesir aneh.

Pergerakan gadis itu membuat lelaki di dekat kami ini mengernyitkan dahinya sebentar saat memperhatikan Ameera lalu pandangannya kembali menuju arahku.

"Siapa ka-"

"Dia tunanganku!" sahut Ameera cepat memotong pertanyaan lelaki itu yang tentu saja membuat kami ini terbelalak kaget.

Apalagi aku...

Tampak sekali lelaki itu tak menyangka Ameera akan memberikan dirinya informasi tersebut. "A...apa?"

Dengan bergegas Ameera menarik lenganku untuk pergi membuatku terhenyak sadar dari keterpakuanku.

"Ayo, Heem," gumamnya sembari berjalan meninggalkan lelaki itu.

"Ameera! Tunggu!"

Ameera pun segera memperat cengkeramannya di lenganku dan berbisik, "Mobilmu dimana?"

"Hah?" Aku masih saja belum sepenuhnya kembali dari awang-awang.

"Kamu bawa mobil, kan? Diparkir dimana?" Tanyanya sambil menoleh ke arahku.

"Oh ya, ya. Ke Sana," jawabku sambil menoleh ke arah belakang.

Lelaki itu masih saja mengikuti kami walaupun perlahan.

Aku pun bergerak melepaskan cengkraman Ameera di lenganku membuat gadis itu mengernyitkan dahinya seperti protes mengapa aku tidak bertindak kooperatif.

Kutatap Ameera sebentar, dengan pandangan meminta ijin, lalu segera menautkan jemariku ke sela-sela jemarinya dan menuntunnya ke arah dimana mobilku terparkir

Tentu saja gadis itu terkejut sangat dengan perlakuanku namun melihat kondisi yang terjadi, ia membiarkan semuanya terjadi.

Dapat kurasakan dirinya sedikit gemetar apalagi ketika aku semakin mengeratkan peganganku. Detak jantungnya sampai terasa di telapak tanganku.

Dan semua itu bagiku rasanya begitu ... menyenangkan...

Kami pun sampai di mobilku. Aku menyuruhnya menunggu setelah kutuntun dirinya berdiri di samping pintu penumpang depan sementara aku bergegas menuju bagian supir. Saat aku melihat ke arah belakangnya, lelaki itu masih saja ada walaupun jaraknya cukup jauh.

Rasanya aku ingin sekali melakukan sesuatu pada lelaki itu...

"Masuk, gih," ucapku pelan setelah membuka kunci pintu mobil, tak lepas menatap lekat lelaki keukeh itu.

Ameera tampak terkejut. "A..apa? Gak usah, aku bisa-"

"Dia masih ngikutin, gak usah nengok!" Sergahku saat melihat gadis itu hendak memutar badannya memastikan apa yang kuucapkan benar.

Ia pun menurutiku.

"Kamu masuk aja daripada nanti dia curiga omonganmu gak konsisten kalau dia lihat kamu jalan pulang sendirian."

Ameera menggigit bibir bawahnya ragu namun detik berikutnya ia pun melakukan apa yang kuminta.

Setelah kami masuk, ia segera menoleh ke arah lelaki tersebut dan menghela nafasnya panjang, tak menyangka.

"Pulang?" Tanyaku berusaha mengalihkan perhatiannya.

Sebenarnya kalau diijinkan, aku ingin sekali mengajaknya berbincang sebentar, apalagi soal lelaki itu...

Ameera menoleh ke arahku tersenyum nanar dan mengangguk perlahan.

"Kemana?" Tanyaku lagi sembari menyalakan mesin.

Ia pun menyebutkan alamatnya dan aku mengangguk lalu menjalankan mobilku menjauhil dari taman itu.

Sempat kulirik sekilas, Ameera menoleh sekali lagi ke arah lelaki tersebut cukup lama.

Aku sedikit memaki diriku sendiri karena lagi-lagi hatiku terlalu bereaksi karenanya.

Perjalanan menuju rumahnya yang cukup singkat terbalut dengan diam. Entah apa yang Ameera pikirkan tapi aku sungguh penasaran dengan sosok yang hampir kuajak "berdebat" tadi.

"Yang itu," ucapnya pelan sambil menunjuk rumah kecil berpagar besi putih.

Aku pun menghentikan tepat di depannya.

"Makasih, ya," katanya perlahan sembari melepas sabuk pengaman.

Aku hanya mengangguk, menunggu ia mengatakan sesuatu yang lebih dari itu. Saat Ameera hendak membuka pintu, aku tak dapat lagi membendung keingin tahuanku.

"Siapa dia?" Tanyaku cepat membuat gadis itu menghentikan gerakannya sebentar.

"Bukan siapa-siapa," gumamnya lalu membuka pintu mobil.

"Apa? Gak mungkin bukan siapa-siapa tapi bikin kamu bilang aku tunanganmu!" Cegahku sembari meraih lengannya perlahan.

Mata Ameera bergerak ke arah dimana tanganku berada dan memandangnya sedikit tak suka.  Akupun segera menyadarinya dan melepas genggamanku.

Dan di luar dugaan, Ameera tetap membisu tak memberi jawaban bahkan segera keluar dari mobil membuatku tergesa melepas sabuk pengamanku dan mengikutinya.

"Meer!" Panggilku berusaha mencegah dirinya untuk masuk.

"Look, thank you for helping me at the park. Tapi maaf, it doesn't mean I owe you an explanation-"

"Oh yes, you do!" Sahutku tak mau kalah.

Gadis ini keras kepala juga ternyata. Jangan kalian percaya penampilan luarnya!

Ia menghembuskan nafasnya kasar lalu melipat kedua tangannya ke dada memandangku sepertinya jengkelnya sudah sampai ke ubun-ubun.

Aku tidak peduli. Aku hanya ingin tahu siapa lelaki itu sampai membuat dirinya seperti ini.

Sedih begitu mendalam yang berusaha ia sembunyikan...

Kupandang dia, menanti dan menuntut jawaban sementara ia berusaha mengatur nafasnya sendiri agar tidak menjadi emosi karena kelakuan ajaibku.

Iya, aku jadi ajaib gara-gara gadis ajaib ini.

"Faheem, ngapain di sini?"

Seruan kecil membuat kami berdua menoleh bersamaan dan menemukan Rika beserta Aan sudah berdiri di dekat kami.

"Hah? Oh.. Aku...,"

Di saat aku sibuk memikirkan alasan agar mereka tidak menaruh curiga, Ameera malah memakainya sebagai kesempatan untuk melarikan diri dariku dengan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa basa basi.

Melihat itu aku jadi gemas sendiri dan sedikit mengumpat membuat pasangan itu semakin keheranan.

Aku pun berjalan menuju mobil dengan sedikit kesal, lalu masuk dan membanting pintu yang tak bersalah.

***

Assalamu'alaykum.
Duh, aku baik banget kan sampe update lagi. Hehe.
Cieee Bang Faheem kesel nih yee...
Komen yah biar seru aja gitu hihi.
Kalau ada typo maafkan yah!

Saranghae ❤️

D.S.L

Comments

Popular posts from this blog

PPN (PURA PURA NIKAH)

Ameera sakit hati dengan Dion, mantan calon suami, karena meninggalkannya begitu saja di saat mereka siap menikah membuatnya enggan memulai hubungan baru. Faheem, sang petualang cinta, menganggap cinta itu hanya menyulitkan dan selalu berakhir dengan kesedihan sehingga ia tak ingin terikat dengan namanya cinta dan komitmen,  Takdir Tuhan, mereka pun dipertemukan. Ameera dan Faheem sepakat (pura-pura) menikah untuk menyenangkan kedua belah pihak keluarga dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, tentu saja. Dion pun kembali dalam hidup Ameera dan tampak tidak tinggal diam saja sementara Faheem disibukkan dengan barisan para mantan yang tetap saja menggodanya. Akankah mereka tetap mempertahankan pernikahan (pura-pura) mereka? 

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 15

"Could you do that?"  tanyaku masih dengan pandangan berharap pada lelaki di dekatku. "Do...what?"  Ia bertanya balik padaku. Aku dapat merasakan ia juga gugup. Aku pun berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Tetap...jadi tunanganku?" Ah, Ameera! Apa yang sudah kau lakukan?? Jeritku dalam hati. Saat itu juga aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak punya harga diri, tidak tahu malu bahkan sudah menjilat ludah sendiri hanya agar diriku tak terlihat menyedihkan di mata lelaki bernama Dion Saputra. Aku sendiri tak mau berakhir seperti ini! Faheem membuatku semakin gugup karena ia tak segera menjawab pertanyaanku, hanya menatapku dalam diam. Pikiran buruk pun segera bersliweran dalam benakku.  Apa ia akan setuju? Atau sekarang ia merasa di atas angin setelah penolakan berkali-kali dariku? Aku menunggu sembari harap-harap cemas. "Okay,"  jawabnya enteng. Aku terkesiap sebentar.  "O...okay?" Lelaki itu menggidikkan bahunya membuatku berna...

PPN (PURA PURA NIKAH) : PART 16

Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Asyhadu   allaa   illaaha   illallaah Aku menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah Sayup-sayup suara adzan terdengar di telingaku, membuat kedua mataku perlahan terbuka. Tak ayal, kesadaranku pelan tapi pasti menjalar ke seluruh tubuhku. Hayya ' alashshalaah Marilah  Sholat Hayya ' alalfalaah Marilah  menuju kepada  kejayaan Aku pun bangkit perlahan kemudian duduk di pinggiran tempat tidurku sembari meraih ponsel dari nakas di dekat ku dan melihat jam yang ada di layar. 04.22... Ash- shalaatu   khairum   minan - nauum Sholat itu lebih baik dari pada tidur Allaahu  Akbar,  Allaahu  Akbar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Laa   ilaaha   illallaah Tiada Tuhan selain Allah Kulafaskan do'a setelah adzan perlahan lalu mengusap wajahku setelahnya. Setelah cukup sadar untuk bergerak, akupun berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan mengganti ...